ads


JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegur Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto terkait ketimpangan angka tes Covid-19 di sejumlah daerah. Presiden melihat ada provinsi dengan kemampuan testing yang cukup tinggi, sementara provinsi lainnya hanya melakukan testing dalam kapasitas rendah. Kondisi ini membuat sebaran Covid-19 di daerah tidak bisa dilihat secara nyata.


Jokowi pun meminta Menkes untuk membuat desain perencanaan tes Covid-19 yang lebih baik. Setelah pandemi melanda Indonesia enam bulan, Jokowi meminta Menkes benar-benar merancang strategi testing yang komprehensif.


“Menyangkut berapa jumlah laboratorium yang harus ada di sebuah provinsi, berapa reagen yang harus terdistribusi pada sebuah provinsi. Perencanaan itu kita perlukan sehingga kelihatan nanti, kasus-kasus positif ini berada di wilayah atau provinsi yang mana,” ujar Jokowi dalam pengantar sidang kabinet paripurna, Senin (7/9).


Jokowi mewanti-wanti bahwa strategi dalam menyiapkan laboratorium di daerah ini penting lantaran berkaitan dengan meratanya kemampuan testing Covid-19. “Bukan berdasarkan wilayah administrasi tapi sekali lagi desain perencanaan harus betul-betul ada dan disiapkan,” kata presiden lagi.


Urusan kesehatan, ujar Jokowi, harus tertangani dengan baik apabila ingin ekonomi kembali pulih sepenuhnya. Jokowi pun mengingatkan agar kepala daerah hati-hati dalam memutuskan pembukaan sektor ekonomi. Ia mengatakan prioritas penanganan Covid-19 tetap pada sektor kesehatan.


“Memang kita ingin secepatnya restart di bidang ekonomi. Jangan sampai kita urusan kesehatan, urusan Covid ini belum tertangani dengan baik kita sudah menstarter restart di bidang ekonomi. Ini juga sangat berbahaya,” kata Presiden.


Dari seluruh provinsi di Indonesia, DKI Jakarta mencatatkan kemampuan testing Covid-19 yang paling tinggi. Per Ahad (6/9) kemarin, jumlah orang yang menjalani tes PCR mencapai 6.362 orang dalam sehari. Angka ini menyumbang 48 persen dari total test PCR nasional.


DKI Jakarta juga mampu menjalankan 49.587 tes PCR dalam sepekan terakhir. Angka ini jauh di atas rekomendasi WHO untuk ibu kota, yakni 10.645 tes dalam sepekan.[] Sumber : Republika


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini