ads


ACEHTREND.COM, Banda Aceh — Staf Ahli Dinas Pendidikan Aceh, Dra Nurhayati MM, prihatin pada fitnah yang dilakukan orang tak bertanggung jawab yang menimpa Kepala SLB Vokasional Muhammadiyah Kabupaten Bireuen, Istiarsyah Iskandar. Nurhayati menyesalkan adanya unggahan berjudul Diduga Seorang Ayah Ajari Anaknya Mencuri Kotak Amal Masjid pekan lalu.


“Berita ini sungguh telah melukai hati profesi seluruh guru di Aceh, bahkan di Indonesia pada umumnya dan instansi pendidikan Aceh. Padahal kejadiannya tidak seperti yang diberitakan,” ujar Nurhayati, Senin (3/8/2020).


Menurut Nurhayati, Istiarsyah Iskandar merupakan salah satu putra terbaik Aceh. Ia seorang guru SLB berprestasi. Mendapatkan beasiswa pendidikan S1, S2, dan S3 dalam bidang Pendidikan Khusus dari Pemerintah Aceh dan beasiswa Profesional Learning dari Kemdikbud ke Australia.


Tahun 2019 lalu Istiarsyah mendapatkan hadiah umrah dari Dinas Pendidikan Aceh berkat prestasi yang ia dapat. Kemudian dipercayakan untuk memimpin sebuah sekolah vokasional, yaitu SLB Muhammadiyah Kabupaten Bireuen.


“Maunya, sebelum ini diberitakan di media sosial tentang dugaan ayah ajari anaknya mencuri kotak amal masjid, hendaknya terlebih dahulu dicek kebenarannya. Padahal justru Istiarsyah yang merupakan Kepala SLB Vokasional Bireuen itu bermaksud baik,” pungkas Nurhayati.


Baca: Akun @acehworldtime dan Tiga Lainnya Dilaporkan ke Polisi terkait Unggahan “Pencurian” Kotak Amal Masjid


Sementara itu, Istiarsyah saat dihubungi aceHTrend, Minggu (03/07/2020), menceritakan kronologi kejadian. Pada hari Rabu (29/07) ia dan keluarga melakukan perjalanan pulang kampung dari Bireuen menuju Sungai Raya, Aceh Timur.


Saat itu ia singgah untuk menunaikan salat Zuhur di sebuah masjid di Alue Bili, Kecamatan Baktya, Aceh Utara. Lalu anaknya mengangkat kotak amal kayu berwarna hijau yang ternyata kotak amal itu kuncinya sudah rusak dan di dalamnya ada sejumlah uang.


Kemudian istrinya menyarankan agar uang di dalam kotak amal yang sudah rusak itu dipindahkan saja ke kotak amal yang lain supaya aman. Lalu Istiarsyah dan putrinya memasukkan uang itu ke dalam kotak amal yang satunya lagi.


Istiarsyah menjelaskan, selanjutnya setelah selesai ia meminta anaknya untuk meletakkan kotak amal yang rusak ke belakang mimbar dengan tujuan agar orang-orang yang akan bersedekah nanti tidak memasukkan ke dalam kotak amal yang rusak supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


“Niat baik berujung musibah yang mencemarkan nama baik saya beserta keluarga membuat luka mendalam bagi semua orang yang membaca dan menonton berita tersebut,” ujarnya sedih.


Dikatakannya, seharusnya sebelum video itu beredar alangkah baiknya pihak terkait melakukan verifikasi dan tabayun terhadap kebenaran cerita, sehingga tidak terjadi kerugian bagi pihak yang dituduhkan.


Istiarsyah dan keluarga berharap, pihak berwajib segera melakukan tindakan kepada pihak-pihak yang telah mengedarkan berita tidak benar tersebut.


“Saya dan keluarga menderita tekanan psikologis dan moral, hingga sekarang istri selalu sedih terdiam. Ibu di kampung sering menelepon dengan menangis menanyakan kabar kami, padahal beliau ada penyakit darah tinggi yang seharusnya tidak boleh ada beban pikiran,” keluhnya.


Ditambah rasa lelah saat harus selalu menjawab banyak teman dan saudara yang bertanya melalui telepon seluler maupun yang bertatap muka langsung.


“Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kami sekeluarga, dan Allah buka pintu hidayah kepada pihak penyebar berita,” ujarnya.[]


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini