ads


ACEHTREND.COM, Singkil — Sejak hari ini, Sabtu (8/8/2020), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh Singkil tidak memiliki kantor dan pindah ke alamat yang belum jelas.


Pasalnya, kantor PGRI yang selama ini ditempati telah diperintahkan oleh pemiliknya harus dikosongkan karena mau disewakan pada orang lain.


Keterangan ini, disampaikan Ketua PGRI Aceh Singkil, M Najur, kepada aceHTrend, Jumat (7/8/2020).


Menurut M Najur, dalam dua tahun ini, PGRI Aceh Singkil meminjam pakai rumah tokoh (ruko) milik Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil di Desa Lae Butar Rimo, Gunung Meriah.


Namun, beberapa hari lalu, kata Najur, Pemkab Aceh Singkil sebagai pemilik ruko, telah meminta PGRI supaya mengosongkan ruko itu karena bakal disewakan pada pihak lain. Surat kesepakatan sewa-menyewa sudah ditandatangani.


“Karena sudah diminta kosongkan, sejak kemarin hingga hari ini, segala barang-barang milik PGRI sudah diangkut dan ruangan ruko itu sudah kosong,” ucap Najur.


M Najur menambahkan, PGRI Aceh Singkil kini tidak memiliki kantor lagi. Segala aktivitas administrasi PGRI terpaksa akan dilangsungkan di kediaman pengurus.


Meskipun begitu, kegiatan PGRI sebagai mitra pemerintah, kata Najur, tidak boleh berhenti. Sambil mencari kantor yang baru, pengurus PGRI akan terus berbuat demi kemajuan pendidikan Aceh Singkil.


Kondisi tersebut membuat pengurus PGRI sangat sedih. Sebab, kejadian ini muncul di saat kas PGRI untuk menyewa kantor sedang tidak ada.


“Karena kantor itu sudah diminta oleh pemiliknya, meskipun dengan berat hati harus diberikan. Sangat wajar jika pemiliknya memintanya kembali,” ujar Najur sedih.


Najur mengungkapkan, rupanya di balik kejadian ini, banyak hikmah yang dapat dipetik, setidak PGRI harus berupaya mencari dana untuk membangun kantor.


“Alhamdulillah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil melalui Kepala Dinasnya, Khalilullah sudah menyatakan siap untuk membantu pembangunan gedung PGRI. Tinggal lagi sekarang, pengurus harus menyediakan tanah,” ucap M Najur.


Berkaitan dengan ini, salah seorang guru di Aceh Singkil Mawarni, S. Pd mengusulkan, untuk petapakan tanah pembangunan gedung PGRI, dana pembeliannya dikutip saja dari guru-guru yang ada di Aceh Singkil.


“Saya yakin guru-guru Aceh Singkil bersedia dan mau berpartisipasi. Dan jumlah dana itu pun relatif kecil,” ujar Mawarni.


Guru lainnya yang enggan disebutkan namanya mengatakan, karena tanah dan gedung-gedung di Aceh Singkil banyak yang tidak terpakai dan berfungsi, sebaiknya Pemerintah Aceh Singkil menghibahkan saja pada organisasi profesi guru itu sebuah kantor atau sepetak tanah.


“Kalau buat kantor PGRI dikutip dari guru, alangkah malu pemerintah. Ke mana ditaruh muka,” pungkasnya.[]


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini