ads


Oleh Baihaqi “Boy” Abdaz*


Apakah kamu siap hidup di Mars? Sebuah pertanyaan cukup menantang muncul di halaman tekno.tempo.co medio November 2017. Tempo mengutip Outer Places, sebuah media yang menyajikan konten yang mempertemukan sains dan fiksi ilmiah, bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA), Badan Penerbangan dan Antariksa AS telah meluncurkan proyek kilopower yang berpotensi memberikan energi untuk pemukiman dan eksplorasi di permukaan planet merah.


Mars? Kenapa tidak. Pada Juli 2020 kemarin, Uni Emirat Arab (UEA) dan Cina baru saja meluncurkan misi ke Mars, lalu disusul NASA untuk misi mereka yang ketiga. NASA menggunakan roket Atlas V miliki United Launch Alliance dan meluncur dari Cape Canaveral Air Force Station, Florida, AS. Memboyong pula robot Rover Perseverance seukuran mobil seharga US$2,7 miliar atau setara Rp 39,15 triliun. Tujuan mereka tentu saja sama, misi ini untuk menguji beberapa teknologi eksplorasi baru.


AS ingin membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan dan Mars, lansir Dailymail [07/20]. Itu merupakan sebuah sistem tenaga permukaan fisi yang memungkinkan manusia hidup lama di lingkungan ruang yang keras, menurut pernyataan Departemen Energi AS. Reaktor ini sebagai jaminan ketersediaan daya yang diperlukan untuk misi eksplorasi ruang angkasa.


Jack Williamson memimpikan ide ini sejak 1942, ketika ia menerbitkan sebuah cerpen fiksi ilmiah “Collision Orbit” dengan menawarkan istilah terraforming yang mengacu pada hipotesis memodifikasi atmosfer, suhu dan ekologi dari luar bumi agar menyerupai bumi dan dapat dihuni oleh penduduk bumi. Mars dianggap sebagai kandidat terraforming yang paling memungkinkan karena iklim Mars sangat potensial diubah dengan kemampuan teknologi manusia.


Apa yang sebenarnya terjadi? Belum lama ini, Donald Trump, selaku Presiden AS mengemukakan bahwa mereka berhak mengambil sumber daya dari antariksa seperti Bulan dan planet Mars. Trump mengeluarkan aturan eksekutif bahwa AS tidak boleh dihalangi dalam upaya mereka untuk komersilisasi luar angkasa.


Mungkin Trump mengikuti saran Chris McKay, ilmuan NASA Ames Research Center yang mengatakan satu-satunya jalan untuk kolonialisasi Mars dapat diwujudkan dengan aturan yang dibuat pemerintah. Karena itu akan memungkinkan secara ekonomi. Sementara di sisi lain Aaron Ridley, akademisi dari Universiti of Michigan pesimis terhadap misi jangka panjang untuk menempatkan manusia di Mars dengan resiko paparan radiasi yang cukup berbahaya. Kecuali untuk misi yang tidak permanen, meskipun Elon Musk dan Stephen Hawking gencar menyuarakan masuk akal Mars dijadikan sebagai rumah baru manusia.


Tapi yang pasti, AS akan menambang Bulan untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar roket selain sebagai alternatif sumber daya di bumi yang semakin menipis. Mereka mengincar metal seperti lithium atau cobalt yang susah mereka dapatkan dari China, Rusia atau Kongo.


Tentu saja menambang Bulan tidak mudah. AS juga terus dibayang-bayangi Rusia, rivalnya yang menyebut segala upaya untuk melakukan privatisasi angkasa tidak bisa diterima, sebut Dmitry Peskov, jubir Kremlin. Roscosmos, antariksa Rusia juga memandang aturan Trump merupakan upaya membajak planet lain dan rencana agresif itu tidak membuat negara-negara lain menuju kerja sama yang bermanfaat.


Ini semua tentang energi yang diperlukan bagi kebutuhan segenap manusia. Para ilmuan mempunyai pandangan bahwa Mars dapat dimanfaatkan untuk mencari bahan-bahan mineral berharga. Sementara Bulan mengandung mineral langka yang dapat digunakan untuk membuat komputer, rudal dan turbin angin yang ketersediannya semakin menipis di bumi.
Sumber energi telah mendorong ilmuwan untuk menemukan jawaban dengan mengkaji pemanfaatan selembar material yang mampu mengubah tanah Mars laik untuk ditanami tumbuhan Bumi. Material yang disebut aerogel sheets itu dapat bekerja dengan meniru efek rumah kaca Bumi, di mana energi dari matahari terperangkap di planet oleh karbon dioksida dan gas lainnya.


Setidaknya Moon Express, sebuah perusahaan pertambangan yang berbasis di Florida, AS telah menyatakan kesiapannya mengangkut sumber daya dari Bulan ke Bumi. Bulan diperkirakan mempunyai bahan baku hellium yang mampu memenuhi kebutuhan energi bumi selama ribuan tahun. Saat ini mereka sedang mempersiapkan layanan transportasi berbiaya rendah setidaknya bagi akademisi dan pemerintah. Sejak 2016 perusahaan ini adalah yang pertama mengantongi izin dari US Aviation Administration untuk melampaui orbit Bumi dan mendaratkan pesawat luar angkasa di Bulan. Sementara JAXA, badan antariksa Jepang juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan ispace Ink, perusahaan asal Jepang untuk melakukan pertambangan, transportasi dan menggunakan sumber daya di Bulan.


Hard rock mining terlalu beresiko bagi bumi selain sukar didapatkan. Sementara masyarakat modern sangat bergantung pada logam seperti tembaga, emas dan nikel untuk obat-obatan hingga elektronik. Perusahaan tambang menyadari bahwa deposit yang mudah diekstraksi semakin menipis sehingga kualitas bijih mineral menurun di tengah permintaan logam yang semakin meningkat.


Indonesia sendiri saat ini sedang menghadapi tantangan energi untuk pengembangan transportasi massal seperti mobil listrik dan pembangunan pembangkit listrik. Sebuah aplikasi Long-range Eenergy Alternatives Planning System telah dirancang bagi perencanaan energi yang mampu menganalisis permintaan dan ketersedian energi secara terintegrasi.


Tahun 2018 Indonesia mampu memproduksi energi primer dari minyak bumi, gas bumi, batu bara dan energi terbarukan mencapai 411.6 MTOE (Million Tonnes of Oil Equivalent). Sementara permintaan energi final nasional tahun 2025 berdasarkan skenario Business as Usual (BaU) sebesar 170.8 MTOE, skenario Pembangunan Berkelanjutan (PB) 154.7 MTOE dan skenario Rendah Karbon (RK) sebesar 150.1 MTOE yang jika diakumulasikan mencapai 475.6 MTOE di lima tahun mendatang. Sementara permintaan energi listrik diperkirakan akan tumbuh sampai 12% dengan skenario permintaan mencapai 1.633.9 TWh di 2025.


Ketersediaan energi Indonesia pada prinsipnya masih tergolong cukup untuk tidak meniru keserakahan AS yang ingin menambang Bulan, meskipun produksi energi fosil dan komitmen global untuk pengurangan emisi gas rumah kaca harus dijalankan oleh pemerintah. Indonesia akan berupaya untuk meningkatkan peran energi baru dan terbarukan yang masih mempunyai potensi besar untuk target bauran energi primer.


Berdasarkan data Ditjen EBTKE 2018 setidaknya Indonesia memiliki potensi energi terbarukan dari sumber panas bumi sebesar 28.5 GW, tenaga air 94.3 GW, surya 207.8 GWp dan angin sebanyak 60.6 GW. Kebijakan Energi Nasional menargetkan bauran energi terbarukan dalam bauran energi primer paling tidak mencapai 23% pada tahun 2025, selain meminimalkan penggunaan minyak bumi dibawah 25%.


Kebutuhan energi di Indonesia sebagaimana dicatat Kementerian ESDM, konsumsi energi Indonesia mencapai 1.23 miliar Barrel Oil Equivalent (BOE) di 2017, meningkat 9% dari tahun sebelumnya. 28.88% dari jumlah tersebut adalah konsumsi BBM sebagai angka terbesar.


Energi, bukan kebutuhan dasar, tapi pendukung utama bagi terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. Energi saat ini telah menjadi urat nadi kehidupan hampir di semua sektor. Indonesia masih kaya dengan sumber daya alam. Semua orang harus memberi dukungan atas setiap kebijakan menyangkut ketahahan energi yang dilakukan pemerintah. Dan tentu saja pemerintah juga mempunyai kesadaran yang tinggi untuk tetap meminimalisir dampak dari pertambangan energi dengan memperketat pengawasan terhadap perusahaan pertambangan di Indonesia.


*)Penulis adalah kontributor aceHTrend.


Disarikan dari berbagai sumber.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini