ads


Oleh Muhajir Juli*


Sudah berbilang bulan dunia pendidikan di banyak negara terganggu karena badai pandemi Covid-19. Bukan hanya negara miskin, selevel United State of America (USA) saja kelimpungan. Di sana guru sudah berteriak minta sekolah ditutup dan belajar dari rumah semakin ditingkatkan. Hanya saja–beberapa pekan lampau– justru Presiden AS Donald Trump yang menolak seruan itu, karena ia khawatir akan berdampak lebih buruk terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.


Sebagai antisipasi meluasnya penularan Covid-19, Pemerintah Republik Indonesia, pun mengambil keputusan bahwa untuk sementara waktu–sampai batas yang belum ditentukan secara tegas– semua jenjang pendidikan tidak lagi diselenggarakan secara tatap muka. Sekolah tidak diliburkan dalam arti yang sesungguhnya, tapi tatap muka diganti dengan tatap layar alias belajar online. Melalui monitor laptop yang terhubung dengan internet, guru tetap menjalankan tugasnya. Demikian juga peserta didik, tetap masuk kelas melalui layar telepon pintar.


Keputusan belajar dari rumah dengan perangkat elektronik sebagai penghubung, bukan tanpa masalah. Ragam persoalan kemudian timbul. Mulai perihal keterbatasan fasilitas di internal orang tua murid, hingga terbatasnya daya jangkau internet.


Bila ditelisik lebih dalam lagi, di tingkat internal orang tua murid, problem pertama adalah kemampuan mendampingi peserta didik. Banyak dari ayah dan ibu tidak memiliki bekal yang cukup untuk melakukan pendampingan. Baik karena ketiadaan ilmu-ilmu dasar sebagai “pengasuh anak” hingga tingkat penguasaan teknologi.


Di level akar rumput, banyak juga orang tua yang menaruh kecurigaan terhadap telepon pintar yang dipersepsikan sebagai wahana maksiat yang bila diberikan kepada anak-anak (peserta didik) akan disalahgunakan untuk berbagai hal yang berkaitan dengan konten negatif. Mulai dari game online hingga situs-situs yang menyajikan materi p***o. Bahwa telepon pintar sejatinya sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan, tidak pernah masuk dalam alam pikir mereka.


Di media sosial, orang tua murid di kelas yang demikian, kerapkali ribut dengan ragam makian. Mulai dengan menyalahkan pemerintah, hingga menyalahkan entitas agama dan bangsa tertentu, yang menurut mereka telah menyebabkan segala kekotoran hadir di dalam rumah mereka.


Tidak sedikit juga yang menyalahkan guru. Para tenaga didik dianggap memanfaatkan kondisi darurat kesehatan untuk berleha-leha. Tidak menjalankan tugas dengan baik dan mengalihkan tugas mengajar kepada orang tua murid. Bahkan banyak juga yang menuduh Menteri Pendidikan RI Nadiem Makarim dan Presiden RI Ir. Joko Widodo sedang bekerja merusak tatanan pendidikan, demi mempercepat tumbuh suburnya komunisme di Indonesia. Tidak sedikit meme yang bertujuan menghina guru, bertebaran di media sosial. Sungguh terlalu!


Semua guru di seluruh dunia, tidak menginginkan kondisi seperti ini. Bila ada guru yang sebelum pandemi Covid-19, masih bersikap ogah-ogahan ketika mengajar, kini kena batunya. Praktik belajar dari rumah, bekerja dari rumah, bukan persoalan mudah. Setingkat dosen saja mengeluh, apalagi guru SD yang peserta didiknya merupakan kelompok manusia yang belum memiliki kemampuan berpikir dengan baik. Ditambah lagi dengan kemampuan peserta didik yang antara satu dengan lainnya jauh sekali timpang. Bayangkan, mengajar di balik layar laptop, dengan murid-murid yang tidak mengerti bahasa Indonesia, serta kualitas suara yang berhasil dipancarkan oleh gelombang internet sangat buruk. Apa yang akan terjadi? Keluar yang dibilang, seluar yang terdengar.


Ikhtiar Guru


Di Aceh, banyak komunitas guru yang mencoba berbagai alternatif. Mereka berusaha maksimal–dengan segala keterbatasan– melayani pendidikan. Mulai dengan menggelar kelas online, mengajar door to door, hingga menyusun tugas-tugas offline. Serta tetap masuk sekolah walau murid tidak berada di sekolah.


Saya mengenal beberapa guru, oleh akibat Covid-19, secara sukarela meningkatkan kemampuan diri. Mereka mengikuti berbagai pelatihan online yang kelak dipergunakan untuk mengampu kelas virtual dan non virtual. Semua ikhtiar itu dilakukan demi satu tujuan mulia: seburuk apapun kondisi, anak bangsa tetap harus terdidik. t**ik!


Peran Mahasiswa


Saya melihat “kekosongan” yang terus diupayakan sekeras mungkin oleh guru agar tidak kosong dapat diisi oleh mahasiswa yang saat ini juga harus kembali ke kampung halaman karena kampus “tutup” untuk sementara waktu.


Sebagai orang terdidik, saya kira mahasiswa bisa turun tangan membantu penyelenggaraan pendidikan. Minimal satu mahasiswa mengasuh tiga sampai lima anak di kampung masing-masing.


Mahasiswa dengan pendidikan yang lebih tinggi saya nilai akan mampu mendidik “adik-adiknya” dengan baik.


Aceh punya pengalaman menghadirkan guru darurat. Ketika konflik bersenjata banyak guru yang eksodus ke luar daerah. Kekosongan tersebut diisi oleh tentara yang sedang bertugas di Aceh. Dengan seragam loreng dan menenteng senjata, prajurit TNI bertugas mengajar di sekolah-sekolah pedalaman yang ditinggalkan oleh guru. Walau hasilnya tidak maksimal, setidaknya tidak ada kekosongan.


Kehadiran mahasiswa sebagai tenaga bantu pendidikan di komunitas masing-masing, bukan bertujuan menggantikan peran guru, tapi membantu mengisi ruang kosong yang tidak mampu diisi oleh guru di tengah badai Covid-19.


Akhirnya, kita semua harus bergandengan tangan, memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Terima kasih kepada seluruh guru di seluruh dunia yang tidak pernah berhenti mengajar dalam kondisi terburuk. []


*)Penulis adalah CEO aceHTrend.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini