ads


Oleh Muhajir Juli*


Terus terang saya gelisah. Semakin ke sini, semakin nyata bila pola penangulangan Covid-19 di Aceh, serupa dengan skema pertahanan mayoritas klub sepak bola di Italia. Bertahan. Bila di klub-klub itu sesekali melakukan serangan balasan, tapi tidak dengan Pemerintah Aceh. Murni bertahan dan menjadikan tenaga medis dan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, sebagai garda terdepan.


Sejak awal Covid-19 mulai menjangkiti para traveller, saya tidak melihat keseriusan Pemerintah Aceh dalam melakukan pencegahan. Ketimbang fokus menangani perbatasan dan bandara yang menjadi pintu masuk “inang” Covid-19, pemerintah justru sibuk mengurus penyediaan puluhan ribu paket bahan makanan pokok dan segala atributnya, yang hingga berbulan-bulan tak kunjung selesai. Sampai saat ini, publik belum mengetahui berapa harga eumpang balum (goodie bag) corona yang di pagu per helainya mencapai Rp20.000 dengan jumlah total yang dicetak 60.000 helai. Padahal goodie bag D600 (anti air) dijual per helai Rp6000. Itu harga saat PSBB sedang diberlakukan di Jakarta.


Di perjalanan waktu selanjutnya, juga tidak terlihat apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Setiap hari melalui rilisnya, Juru Bicara Pemerintah Aceh c** Jubir Covid-19 Saifullah Abdul Gani (SAG) hanya melaporkan jumlah orang sakit, jumlah orang mati dan jumlah orang sembuh.


Di sisi lain, SAG sampai sekarang tidak bisa menjawab berapa angka pasti dana refokusing yang bersumber dari APBA yang diperuntukkan untuk menangani Covid-19. Belum lagi ketika diminta jenis-jenis kegiatan yang akan didanai melalui dana refokusing. SAG tambah bingung. “Belum ada data sama saya. Nanti saya usahakan dulu. Beri saya waktu.” Itu jawaban yang selalu disampaikan.


Di jalan-jalan utama, Pemerintah Aceh memperbanyak baliho dan spanduk sosialisasi pencegahan penyebaran virus Corona-19. Sialnya bahasa spanduk dan baliho, sudah seperti lembaran surat kabar. Satu-satunya yang nyata bisa dilihat hanya foto pejabat yang menggunakan masker. Selebihnya–tulisan-tulisan itu tidak bisa dibaca secara jelas. Kalau ingin membaca, maka pelintas harus berhenti dan berdiri di bawah baliho. Sesuatu yang mustahil dilakukan, kecuali oleh pelintas yang benar-benar tidak memiliki kesibukan selama berbulan-bulan lamanya san dia hampir putus asa.


Beberapa bulan lalu Universitas Syiah Kuala pernah menawarkan diri kepada Pemerintah Aceh agar diberikan izin melakukan uji petik swab massal di beberapa tempat. Maksud hati Unsyiah, “uji petik” sampel sebagai ikhtiar akademisi membantu pemerintah untuk memetakan penyebaran Covid-19. Tapi hingga kini sepertinya usulan baik itu belum mendapatkan respon.


Saat ini kita semakin sulit memetakan kawasan mana dan siapa saja yang sudah terpapar Covid-19. Terakhir, tokoh publik yang dilaporkan terpapar dan sempat dirawat di RSUZA adalah Abu Mudi. Dari siapa Abu Hasanoel terpapar? Hingga kini belum jelas. Siapa saja yang sudah bertemu Abu sebelum beliau dirujuk ke rumah sakit? Itu juga tidak terjawab.


Terpaparnya Abu Mudi hanya salah satu sampel dari sekian banyak warga Aceh yang sudah terjangkit Covid-19. Tapi hingga kini, Pemerintah Aceh masih saja sibuk pada hal-hal yang sifatnya menunggu bola tiba ke gawang. Belum melakukan tracking seperti yang dilakukan oleh beberapa propinsi lain di Indonesia.


Dengan pola seperti saat ini, kita tidak akan pernah tahu angka pasti orang Aceh yang sudah terpapar. Sejauh mana Covid-19 melanglang di Aceh? Apakah sudah sampai ke kampung paling pedalaman di Aceh Tengah? Atau di mana? Tidak ada yang bisa menjawab. Apakah saya, Anda dan kenalan kita sudah terjangkit? Juga tidak bisa dipastikan.


Wacana menutup perbatasan sudah basi untuk dibicarakan. Sesuatu yang tidak perlu lagi, karena saat ini Covid-19 sudah membersamai kita. Beramah tamah dengan yang imun tubuhnya kuat, dan sangat beringas pada manusia yang sakit-sakitan, usia uzur serta yang sistem imunitasnya sedang melemah.


Pun demikian, belum sangat terlambat untuk melakukan uji swab massal dan tracking persinggungan penderita. Dua hal ini lebih masuk akal, ketimbang wacana-wacana lain.


Kita sudah harus khawatir, sebanyak apapun rumah sakit dipersiapkan, bila penderita Covid-19 meledak di Aceh, rumah-rumah sakit itu tidak akan sanggup memberikan pelayanan. Tenaga medis juga akan semakin banyak yang menjadi korban. Ditambah minimnya sarana pengaman diri petugas kesehatan, dan langkanya ventilator.


Bayangkan saja bila di hari-hari depan jumlah mereka yang tumbang tiap kabupaten mencapai 50 orang per hari, rumah sakit mana yang akan mampu memberikan pertolongan? Pinere mana yang akan gagah perkasa menyediakan ruang. Kita akan kebanjiran orang sakit yang harus pula ditangani secara darurat karena terbatas dalam segala hal.


Saat ini jumlah warga Aceh yang dilaporkan positif Covid-19 semakin banyak. Kasus baru positif Covid-19 yang dilaporkan pada Senin malam (10/8/2020) sebanyak 96 orang, masing-masing 26 orang warga Kabupaten Aceh Besar, 24 warga Kota Banda Aceh, 24 orang warga Aceh Selatan, 4 orang warga Pidie, 4 orang warga Kota Langsa, 2 orang warga Kabupaten Aceh Singkil, dan 1 orang warga Aceh Tengah. Sedangkan 11 orang lainnya merupakan warga dari luar daerah.


Sementara itu, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di seluruh Aceh hari ini bertambah 4 orang, yang secara akumulatif menjadi 2.378 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.335 orang sudah selesai masa pemantauan, dan sebanyak 43 orang masih dalam pemantauan Tim Gugus Tugas Covid-19.


Sedangkan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), sebanyak 156 orang. Dari jumlah tersebut, 11 pasien dalam perawatan tim medis dan 140 telah sehat dan 5 orang lainnya telah meninggal dunia.


Secara akumulasi, jumlah kasus Covid-19 di Aceh secara mencapai 674 orang, yakni sebanyak 448 orang dalam penanganan tim medis di rumah sakit rujukan, 205 orang sudah sembuh, dan 21 orang meninggal dunia.


Pertanyaannya, Pak Nova, berapa lagi yang harus terpapar? Berapa lagi yang harus pergi? Angka-angka (yang dilaporkan) semakin mengkawatirkan. Haruskah 2-3 % rakyat terpapar, baru Anda bertindak secara benar? Come on ,Mr. Nova! Kita masih punya waktu.


*)Penulis adalah jurnalis.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini