ads


Oleh Ahmad Mirza Safwandy*


Pada suatu malam sahabat saya, Fuad Hadi menelepon, “Pat posisi, peuna wate tameuduk ngon Bang Yuh (lagi di mana, apa ada waktu kita bertemu dengan Bang Yus)?,” tanya Fuad kepada saya.


Saya baru pertama kali bertemu Yussaini MS atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Yus. Ketika Aceh masih berkecamuk perang, ia dipercaya sebagai Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Meulaboh Raya.


Saya tidak terlalu ingat, tetapi sepertinya pertemuan malam itu sekitar delapan tahun lalu. Di awal bertemu, dia langsung akrab. Saya tahu Fuad Hadi menceritakan ke Abu Yus tentang saya sehingga kami tidak terlihat canggung. Saya pun sudah lama mengenal nama besarnya. Bila sudah merasa dekat, ia tidak berhenti melepas humor, itu yang paling saya ingat tentangnya.


Di wilayah Aceh bagian barat selatan (barsela), nama Abu Yus begitu dikenal, terutama di lingkungan GAM. Saya mengenangnya sebagai orang yang humble, bahkan tidak sungkan untuk memulai percakapan. “Abu Yus disegani karena sikapnya, hana meubalek haba menyoe ka geu meusikap,” kenang Fuad Hadi.


Meski baru saling kenal, pria berpostur tinggi besar itu tidak merasa kecil diri untuk memulai komunikasi dengan yang lebih muda. Tidak lekang dari ingatan saya, setelah pertemuan malam itu dia beberapa kali menelepon saya dan setelahnya kami saling memberi kabar.


Sebelum kesehatan semakin memburuk, Abu Yus sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua Partai Aceh (PA) Kabupaten Aceh Barat, akan tetapi pengaruhnya tidak memudar, ia juga pernah menjadi salah seorang Wakil Ketua DPW PA.


Di tubuh GAM dia adalah tokoh yang teguh dengan pendirian, sikapnya sejalan dengan garis perjuangan. Baginya, idealisme bukan sekadar retorika. Dia telah membuktikan kesetiaan kepada pimpinan dan organisasi yang membesarkannya.


Sebagai kader partai ia patut diteladani. Pada Pilkada 2012 lalu misalnya, Abu Yus bahkan harus berbeda haluan sikap politik dengan abang kandungya Ramli MS, itu semata-mata ia laksanakan sebagai penghormatan terhadap peuneutoh pimpinan dan organisasi.


Namun, apa hendak dikata, takdirnya telah paripurna, kini apa yang diperjuangkannya menjadi kenangan bagi keluarga besar Partai Aceh, kerabat, dan orang-orang yang mengenalnya.


Ketua Umum DPW Partai Aceh, H. Muzakir Manaf (Mualem) mengaku telah kehilangan kader terbaik. “Dia kader terbaik. Namun, apa pun keinginan kita, kehendak Allah Subhana Wa Ta’ala yang menentukan. Karena itu, kepada keluarga yang ditinggalkan agar tabah,” ungkap Mualem kepada Modus Aceh.


Eulogi dari teman-teman seperjuangan terus disampaikan, saya melihat banyaknya ucapan duka yang menghiasi linimasa.


Ketua DPW Partai Aceh Kota Banda Aceh H. Azwir Basyah mengucapkan duka yang mendalam. “Almarhum Abu Yus adalah kader Partai Aceh yang berdedikasi tinggi, sahabat bagi semua kalangan, semoga almarhum diberikan tempat terbaik oleh Allah Ta’ala,” ujar Azwir yang biasa dipanggil Boswir kepada aceHTrend.


Bagi Tarmizi SP kepulangan Abu Yus menyimpan sejuta kenangan yang mendalam. Abu Yus menikah dengan Nilawati atau yang dikenal dalam kalangan GAM sebagai Pasukan Inong Balee dengan sebutan Mak Woyla. Istri Abu Yus meninggal pada tahun 2013.


Mak Woyla adalah kakak dari Tarmizi SP, anggota DPR Aceh. Abu Yus tidak hanya sekadar menjadi abang atau mentor bagi Tarmizi, Abu Yus pula menempa Tarmizi yang lahir sebagai intelektual muda menjadi kader Partai Aceh dan kemudian terpilih menjadi anggota DPR Aceh periode 2019-2024.


Akhir-akhir ini Abu Yus dikabarkan sakit. “Almarhum Abu Yus didiagnosa oleh dokter dengan penyakit ginjal, berulang kali masuk rumah sakit, dan diminta untuk cuci darah,” kata Tarmizi kepada aceHTrend.


“Saya sudah meminta kepada Cut Bang (Abu Yus) agar mengikuti saran dokter, tetapi beliau menolak,” tambahnya.


Tarmizi menuturkan, pada hari meugang Iduladha 1441 H beliau dijadwalkan untuk cuci darah, namun almarhum enggan untuk cuci darah. Terakhir kali menelepon Tarmizi, Abu Yus meminta untuk dijemput. “Di hari meugang itu beliau telepon saya, katanya kepada saya, ‘Dek, Abang mau pulang ke Bayu, Aceh Besar, tapi tidak ada mobil, Abang sangat susah sekarang,'” ujar Tarmizi mengulang permintaan Abu Yus dengan suara terbata-bata.


Senin, 04 Agustus 2020 dalam langit yang mendung, dari Krueng Woyla mengalir kabar duka, Abu Yus meninggal di usia 51 tahun di Gampong Sakuy, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Semoga Almarhum diberikan tempat terbaik. Selamat jalan Abu Yus, selamat pulang ke tempat pemilik semesta alam.[]


Ahmad Mirza Safwandy
Founder Media aceHTrend

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini