ads


ACEHTREND.COM,Lhoksukon- Maksud hati meneguk untung, akan tetapi harus buntung. Demikianlah nasib para pedagang merah putih musiman dari Pulau Jawa, yang datang ke Aceh Utara tiap Agustus, untuk menjajakan umbul-umbul dan bendera. Walau HUT RI yang diperingati tiap tanggal 17 Agustus, hanya menghitung hari, tapi laju penjualan masih saja melempem.


Demikian hasil penelusuranTribunbarat.com, sepanjang Senin (10/8/2020). Warga tempatan tidak menaruh minat pada umbul-umbul dan bendera yang dijajakan di pinggir jalan. Para pedagang pun lebih banyak mendengkur ketimbang terjaga. Mereka harus membunuh rasa bosan, karena atribut kemerdekaan tidak kunjung ada yang menawar.


Kondisi tersebut berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya. Bidin Kalsana, lelaki berusia cukup matang, yang datang ke Aceh Utara pada awal Agustus, mengaku tahun lalu tiap hari mampu menjual hingga ratusan lembar bendera dan umbul-umbul. “Jauh sekali perbandingannya. Tahun ini sangat sepi. Hanya satu dua yang datang membeli,” ujar lelaki asal Bandung, Jawa Barat, yang mangkal di depan Terminal Lhoksukon.


Bagi Bidin, Agustus 2020 adalah ujian terberat. Sudah 10 hari dia di Aceh Utara, jumlah dagangan yang laku masih sanggup dihitung dengan jari. Bahkan ada hari, bendera tidak laku satu lembar pun. Padahal dari segi harga, tidak ada yang naik. Bendera ragam ukuran beserta umbul-umbul dijual mulai Rp5000 hingga Rp350.000.


Bidin dan sejumlah pedagang bendera mengaku turunnya minat warga membeli bendera ada sangkut pautnya dengan pandemi Covid-19 yang sedang menyerang dunia, termasuk Indonesia.


“Semoga kondisi ini cepat pulih,” kata Bidin yang mengaku bila dia hanya penjual saja. Bendera yang ia jajakan merupakan hasil konveksi pihak lain. “Saya hanya menjual saja.”

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini