ads


Oleh Muhajir Juli


Indonesia bukan bangsa. Tapi merupakan sebuah negara. Demikian saya mendefinisikannya.Tempat berhimpun puluhan bangsa. Dominan Jawa. Mereka berjumlah 40,45 % dari total penduduk Republik Indonesia.


Republik ini, dengan puluhan bangsa yang berhimpun di bawah merah putih, tidak meyakini satu Tuhan. Ada lima agama besar dan puluhan aliran kepercayaan. Dari yang menyembah Allah, hingga yang menuhankan bebatuan.


Indonesia merupakan identitas baru yang disepakati–walau wacananya lebih lama sudah dibicarakan– pada 1928 saat Kongres Pemuda Indonesia. Melayu menjadi pilihan sebagai bahasa nasional.


17 Agustus 2020, usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) genap 75 tahun. Sangat muda untuk umur sebuah identitas nasional. Sepanjang t**imangsa (1945-2020) Setidaknya telah terjadi 18 perlawanan besar yang pernah dilakukan oleh segenap elemen daerah terhadap Pemerintah Indonesia. Mulai dari Pemberontakan PKI Madiun pada 18 September 1948, hingga perjuangan kemerdekaan Aceh yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di bawah pimpinan Tengku Hasan Tiro, seorang intelektual yang awalnya republiken sejati. Ada yang berhasil ditumpas. Ada yang pula berdamai setelah perang panjang.


Belum lagi konflik antar agama, anta suku, antar suporter sepakbola. Ditambah lagi konflik ketika pilkada, pileg dan pilpres. Sebagai negara republik yang mengadopsi demokrasi sebebas-bebasnya, Indonesia adalah negara–sampai saat ini–selalu gaduh. Ribut dengan memanfaatkan ruang demokrasi yang kini corongnya dibuka dengans angat besar.


Usi 75 tahun, walau tidaklah bisa disebut tua dibandingkan usia negara lainnya yang sudah mencapai ratusan bahkan ribuan tahun, tetaplah sesuatu yang patut dibanggakan. Tidak mudah merajut Indonesia yang memiliki perbedaan dari Sabang sampai Merauke. Berhimpun di atas berbagai bangsa, agama, kebiasan dan entitas masa lampau yang masing-masing punya sejarah gilang gemilang.


Nezar Patria, jurnalis senior Indonesia, mengutip pernyataan Prof Dr Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan di Kabinet SBY-Kalla, 2004-2009, menyebutkan bila Indonesia masih ada hingga saat ini karena mukjizat.


Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prof Juwono, yang kemudian dituliskan oleh Nezar Patria di laman Facebooknya. Sejak lama Indonesia terus dijahili. Bukan saja oleh komponen bangsa yang membentuk fondasi Indonesia, tapi juga oleh pihak luar. Bahkan Indonesia pernah dikampanyekan sebagai failed state. Negara gagal. Tidak sedikit yang memprediksikan bahwa NKRI akan mati dalam tempo yang tidak begitu lama lagi. Indonesia sampai sekarang masih berdiri kokoh. Klaim failed state [setidaknya] hingga hari ini masih sebatas propaganda kosong.


***
Sejak lama telah timbul pertanyaan. Siapa sebenarnya Indonesia? Bagaimana menjelaskan seperti apa Indonesia? Soeharto pernah menjawabnya dengan upaya jawanisasi seluruh Indonesia. Penyeragaman kebudayaan. Saya masih ingat gerakan “tienisasi” yaitu mengharuskan semua perempuan di Indonesia memakai kebaya, sanggul dan pernak-pernik yang identik dengan perempuan Jawa–dalam hal ini dimanivestasikan oleh Siti Hartinah– sebagai gambaran utuh Kartini.


Phobia terhadap Islam muncul melalui otoritas negara. Pas photo perempuan tidak boleh berjilbab. Dan sebagainya. Juga menyeragaman administrasi pemerintahan di tingkat paling bawah. Semuanya harus menjadi desa. Satu dua menjadi kelurahan.


Akibat kebijakan pembangunan misi “Indonesia yang seragam” telah menimbulkan luka. Orang Aceh–walau dipicu juga oleh persoalan lain” menolak penyeragaman. Pun demikian, dengan pemaksaan, hal itu tetap dilakukan.


Akibat penyeragaman administrasi pemerintahan di tingkat paling bawah, gampong dan mukim di Aceh terbuang. Lembaga tuha peut hilang. Apalagi ditambah dengan penghisapan sumber daya alam yang tidak berimbang dengan pembangunan sumber daya manusia Aceh.


Tentu, menjadikan Indonesia dengan penyeragaman, tidak akan pernah berhasil membangun keindonesiaan yang kokoh. 32 tahun politik “harmoni” ala Soeharto dengan alasan stabilitas nasional, akhirnya runtuh dengan luapan kemarahan di seluruh penjuru. Kita tidak berhasil diseragamkan dalam satu definisi tunggal.


Pengalaman pahit di masa lalu, tidaklah perlu terulang. Bila benar Pemerintah Pusat menganut politik harmoni, maka setiap perbedaan harus dikelola dalam rasa dan tindak kekeluargaan. Musyawarah mufakat dilakukan dengan sepenuh hati. Bukan dalam bentuk intimidasi-intimidasi.


***


Dalam banyak diskusi, sering muncul pertanyaan, apakah orang Aceh tidak akan pernah utuh menjadi Indonesia? Tentu pertanyaan tersebut keliru. Karena sebelum berbagai universitas besar dan maju di Indonesia berdiri di berbagai provinsi, sebelum orang-orang di Pulau Jawa mengenal arti merdeka yang sesungguhnya, Aceh merupakan bangsa yang terlibat langsung menghalau masuknya kembali Belanda ke bumi pertiwi. Aceh adalah bangsa yang berhasil meyakinkan dunia bila Indonesia masih ada. Radio Rimba Raya merupakan alat perjuangan yang dibeli oleh orang Aceh dan ditempatkan di Aceh, untuk menyuarakan Indonesia Merdeka!


Juga menyumbangkan tiga pesawat terbang. Dua unit dibeli dengan sumbangan langsung rakyat Aceh. Satu unit dibeli melalui unit usaha Central Trading Company (CTC) Padang yang dipimpin oleh putera Aceh asal Samalanga Teuku Hamid Azwar.


Demikian juga orang-orang Papua yang pernah dipaksa menjadi orang Irian. Mereka juga komponen di ujung timur yang walaupun tidak pernah secara gamblang memperjuangkan Indonesia, tapi telah memberikan sumbangan besar bagi pembangunan hingga Pulau Jawa hari ini dapat dibangun menjadi kota-kota besar. Ingat Kota Tembagapura? Di zaman Soeharto emas Papua diangkut ke Amerika oleh PT Freeport.


Indonesia lahir di Jakarta, tapi bisa merangkak dan kemudian besar menjadi sebuah negara berdaulat, berkat perjuangan bangsa-bangsa di luar Jawa. Memberikan susu dan memberikan makan, hingga akhirnya menjadi negara yang disegani.


Sampailah kesimpulan bahwa menjadi Indonesia, berarti harus siap menjadi himpunan yang beranekaragam. Berjuta rupa. Beribu kepentingan. Indonesia tidak akan pernah menjadi satu identitas yang satu rupa; satu warna. Negara ini lahir dari kesepakatan dan dukungan ragam bangsa; Aceh, Batak, Melayu, Jawa, Dayak, Papua, Arab, Tionghoa, dan ragam bangsa-bangsa lainnya.


Musuh kita saat ini bukan bangsa luar. Bukan negara luar. Musuh Indonesia saat ini adalah pejabat negara hingga pejabat daerah yang korup. Mereka yang mewacanakan nasionalisme, tapi di lapangan terus menghisap darah rakyat. Menyerobot lahan rakyat, mengusir rakyat dari tanah ulayat.


Musuh Indonesia adalah pejabat yang mengeksploitasi agama-agama besar, bangsa-bangsa besar, agar terciptanya huru hara, demi berjalannya bisnis -bisnis mereka.


Musuh Indonesia adalah pejabat yang membunuh jurnalis dan membungkam media karena kritis insan pers yang menganggu jalannya aksi korupsi mereka.


Mari menjadi Indonesia yang sesungguhnya. Semoga semakin banyak mukjizat yang akan menjaga Indonesia. Merdeka!


*)Penulis adalah jurnalis aceHTrend.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini