ads


Oleh Maharani dan Sutrisno*


Data dari Badan Pusat Statistik 2019 bahwa total penduduk Provinsi Aceh sebesar 5.371.532 jiwa. Laki-laki sebanyak 2,69 juta jiwa dan perempuan 2,7 juta jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, usia 0-14 tahun (28%), umur 15-64 tahun (66,8%) dan di atas 65 tahun (5%). Tahun 2045, penduduk Serambi Mekah diproyeksi bakal mencapai 6,9 juta jiwa.


Penambahan penduduk disebabkan karena kenaikan angka kelahiran dan banyaknya pendatang atau migrasi masuk ke Aceh. Umur produktif menduduki proporsi tertinggi, artinya tingkat produktifitas masyarakat Aceh bisa dipacu untuk meningkat lagi. Kaum perempuan mempunyai potensi untuk menjadi golongan penduduk yang produktif.


Seiring dengan bertambahnya penduduk, jumlah warga miskin di Provinsi Aceh juga ikut bertambah. Aceh masih menempati provinsi termiskin di Sumatera dan nomor enam se-Indonesia. Per September 2019, jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai 810.000 orang (15,01%) sedangkan angka kemiskinan Aceh turun 0,31%. Secara keseluruhan persentase kemiskinan kabupaten/kota di Aceh, kabupaten Aceh Singkil menempati peringkat pertama sebanyak 20% dan disusul Kabupaten Gayo Lues sebanyak 19%. Kemiskinan merupakan pangkal banyak masalah. Status kesehatan ibu dan anak sangat tergantung pada tingkat sosial ekomomi keluarga. Keluarga miskin menghadapi banyak kendala untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas.


Upaya menurunkan jumlah penduduk miskin di Provinsi Aceh terkesan lambat, meskipun anggaran daerah yang digelontorkan untuk mengentas kemiskinan setiap tahun meningkat, namun jumlah penduduk miskin belum turun secara signifikan. Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19, yang tidak hanya berdampak pada perekonomian di Indonesia juga menambah angka pengangguran besar-besaran sehingga juga akan berdampak pada peningkatan rakyat miskin. Ada fenomena menarik di Aceh, peluang kerja yang dijalankan Pemerintah Aceh melalui proyek APBA dan Pemerintah Pusat melalui proyek APBN, di lapangan banyak sekali tenaga kerja luar Aceh yang terlibat aktif, sementara masyarakat di sekitar lokasi jarang terlibat.


Kemiskinan selalu membawa pengaruh kurang baik terhadap derajat kesehatan. Pentingnya memutuskan mata rantai kemiskinan fokus kepada 3 sektor yaitu pendidikan, pendapatan, dan kesehatan. Prioritas Pemerintah Aceh kini pada upaya meningkatkan kesehatan. Merujuk laporan Riskesdas (2018) hampir semua penyakit dan permasalahan kesehatan dapat dijumpai di Aceh, dengan angka dan peringkat yang cukup memprihatinkan. Lima isu strategis terkait kesehatan ditangani Pemerintah Aceh, di antaranya pencegahan stunting, penanganan penyakit tidak menular, tuberculosis, peningkatan cakupan dan mutu imunisasi, serta angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).


Angka Kematian Ibu (AKI) di Aceh pada tahun 2019 sebesar 172 per 100.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kematian ibu absolut sebesar 157 kasus. Ditemukan kasus tertinggi sebanyak 25 kasus dikabupaten Aceh Utara, disusul Bireuen 16 kasus, terendah di Pidie Jaya sebanyak 1 kasus. Perhitungan AKI di setiap kabupaten/kota propinsi Aceh sulit dilakukan karena medan yang berat, sumber daya tenaga kesehatan belum tersebar merata, pencatatan yang belum terdokumentasi baik, kontak masyarakat yang belum sepenuhnya intensif dan berbagai kendala lapangan lainnya. Trias penyebab utama kematian ibu di Aceh adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi dan lain-lain. Ini berbeda dengan pola nasional, di mana perdarahan secara nasional bukan lagi menjadi penyebab utama. Perdarahan terkait erat dengan distribusi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang belum merata di wilayah Aceh.


Jumlah tenaga kesehatan menurut kabupaten/kota di Aceh tahun 2019 yaitu dokter sebanyak 1.974 orang, bidan sebanyak 10.398 orang, perawat sebanyak 8.567 orang, farmasi sebanyak 944 orang dan ahli gizi sebanyak 615 orang. Jumlah dokter spesialis sebanyak 723 orang dan dokter umum sebanyak 1.557 orang. Selanjutnya jumlah rumah sakit umum sebanyak 66, rumah sakit khusus ada 2, puskemas sebanyak 359, posyandu 7.413 dan polindes sebanyak 2.801. Data di atas secara kuantitatif menunjukkan jumlah tenaga kesehatan mulai dari dokter, bidan dan ketersediaan sarana kesehatan semakin bertambah. Meskipun proporsinya belum ideal benar namun kenapa AKI masih tinggi? adalah pertanyaan klasik yang tidak mudah dijawab.


Hambatan komunikasi masyarakat dengan tenaga kesehatan mempunyai dimensi masalah tersendiri. Masih ada masyarakat yang kurang percaya terhadap tenaga kesehatan yang terlatih sehingga terlambat mendapat pertolongan. Bahkan dilaporkan ada ibu yang meninggal karena memiliki kondisi kehamilan yang baik dan selama hamil tidak berisiko/mempunyai resiko renda, namun kondisi keterlambatan proses rujukan menyebabkan ibu mengalami kematian. Adanya keterlambatan yang terjadi, baik saat mengambil keputusan saat rujukan, saat mencapai tempat rujukan ataupun saat tiba di fasilitas kesehatan. Adanya keengganan ibu untuk segera menuju ke fasilitas kesehatan karena menganggap tanda komplikasi yang dialami biasa terjadi dalam kehamilan, sementara anggota keluarga lain tidak mengetahui tanda kegawatdaruratan obstetrik yang terjadi.


Perilaku yang berbasis kebiasaan tradisional juga menjadi hambatan tersendiri. Penundaan pengambilan keputusan dalam mencari perawatan pada fasilitas kesehatan tertentu ditentukan oleh keputusan oleh suami sebagai kepala keluarga atau orang yang memegang peranan penting di dalam keluarga. Akibatnya jika terjadi kasus kegawatdaruratan pada ibu hamil, melahirkan atau setelah melahirkan harus melibatkan beberapa pihak untuk berembuk. Hal ini juga akan mengakibatkan keterlambatan dalam mengambil keputusan dan memberi dampak kematian ibu.


Masa nifas juga terbelenggu tradisi. Di antaranya adalah berupa praktik pantangan dan atau keharusan untuk mengkonsumsi makanan tertentu. Saat masa nifas, ibu hanya mengkonsumsi nasi putih tanpa protein hewani dan membatasi konsumsi air putih karena dianggap dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Hal tersebut dapat menurunkan kondisi ibu pasca melahirkan yang membutuhkan cukup asupan gizi untuk mengembalikan kondisi tubuh dan membantu proses menyusui.


Alat transportasi/ambulans juga menambah penyulit bagi masyarakat Aceh yang tinggal di pelosok dan lokasi sulit. Penyulit alat transportasi memiliki aspek penyulit yang semestinya tidak sukar dipecahkan. Penganggaran yang memadai dari APBD akan memotong rantai penyulit terkait alat transportasi. Hal ini memerlukan komitmen pemerintah dan semua pihak. Aceh memiliki anggaran relatif besar seiring diberikannya Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan Tambahan Dana Bagi Hasil Migas (TDBH Migas). Bahkan sejak 2010, Aceh sudah menjamin kesehatan seluruh rakyatnya dengan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Alokasi anggaran pemprov untuk program kesehatan melalui JKA terintegrasi dengan JKN-KIS bekerja sama dengan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan sebagai upaya untuk menjamin kebutuhan pelayanan kesehatan rakyat Aceh oleh pemerintah


Kematian ibu di fasilitas kesehatan dapat dicegah bila ibu dapat dibawa secepatnya, namun kondisi gawat darurat yang tidak diketahui dan keterlambatan lainnya menyebabkan peningkatan jumlah kematian pada ibu. Kondisi tanda bahaya dapat dikenali sejak dini jika ibu rutin melaksanakan pemeriksaan kehamilan dan mendapatkan pelayanan kehamilan berkualitas. Kepanikan dan ketidaktahuan terhadap keadaan emergensi saat hamil dan bersalin dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat akibat keterlambatan pengambilan keputusan oleh keluarga. Keterlambatan mencari pertolongan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.


Pemerintah Aceh kini telah memperbaiki sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan tersebut tidak hanya dihadirkan di provinsi saja tapi juga hingga pelosok desa. Adapun program JKA Plus, merupakan tekadnya untuk memberikan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berkualitas dan masif. Namun, terkait peningkatan kualitas kesehatan, Aceh masih kerap didera beragam tantangan seperti kekurangan tenaga dokter. Terutama di rumah sakit daerah dan belum ada tenaga medis yang memadai di Puskesmas. Kementerian Kesehatan telah mengirim tenaga medis dan berusaha untuk mengembalikan dokter spesialis ke setiap kabupaten dan kota.


Menggerakkan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak seperti program desa siaga, ambulans desa, kelompok donor darah berjalan, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan alokasi dana desa, dan program-program lainnya perlu digarap makin serius dan diintensifkan lagi. Selanjutnya, pusat layanan kesehatan pada level primer perlu didorong untuk lebih proaktif memprioritaskan pada upaya promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pendekatan preventif melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin. Penanganan penyakit pada tahap awal (deteksi dini) akan jauh lebih efektif dan efisien.


Keberhasilan Aceh mengatasi beban kesehatan diperlukan koordinasi dan peran multi pihak, mulai dari dinas kesehatan, rumah sakit, istitusi keagamaan dan intitusi pendidikan. Dukungan pemangku kepentingan dalam pembangunan kesehatan untuk menggaungkan germas serta penguatan layanan kesehatan diharapkan mampu menguatkan mutu kesehatan di Aceh menciptakan ibu dan generasi sehat berdampak terhadap keberhasilan pembangunan Aceh. Apalagi mengingat Aceh masih memiliki sumber pembiayaan yang relatif besar. Isu strategis kesehatan dapat dikendalikan dan harapan membebaskan Aceh dari stunting pada 2022 dapat terwujud. Generasi sehat mempunyai produktivitas tinggi sehingga indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan mengalami perbaikan.


Aceh, Agustus 2020.


*)Maharani, SST, M.Keb., staf pengajar Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh.


*)DR. dr. Sutrisno, SpOG.K., staf pengajar S-2 Kebidanan/Program Studi Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Brawijaya Malang.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini