ads


Oleh Teuku Muttaqin Mansur*


Di tengah lesunya ekonomi masyarakat karena badai pandemi yang tak tahu kapan redanya, saya menemukan secercah kebahagiaan tersendiri karena bisa menggalakkan #GerakanSejutaKupiahaceh. Sebagai sebuah gerakan, kegiatan yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan ini telah turut melahirkan denyut-denyut baru untuk perekonomian warga. Saya bahagia karena denyut itu tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang, tetapi telah membentuk lingkaran yang besar.


Program memasyarakatkan kembali kupiah Aceh sebagai warisan budaya bangsa dan salah satu pelestarian identitas Aceh alhamdulillah berjalan dengan lancar. Harapan ini sudah lama berkelindan di kepala saya, tetapi baru menemukan momentumnya pada pertengahan tahun ini. Di tengah situasi dan kondisi yang tak terduga seperti ini pula. Ini benar-benar menjadi kejutan bagi saya karena sambutan masyarakat sangat hangat.


Setidaknya, hasil pantauan saya, lebih 30 ribu kopiah Aceh baik yang versi tempahan atau pabrikan telah digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan golongan. Semangat ini perlu kita apresiasi dan perlu terus digalakkan.


Dari jumlah itu, tentunya telah menghidupkan ekonomi beberapa keluarga yang memang mulai agak susah di masa Covid-19.


Baca: Muncul #GerakanSejutaKupiahAceh di Medsos, Inisiatornya Dosen FH Unsyiah


Kopiah tempahan/pabrikan makin ke sini harganya makin bersaing, meski ada sedikit keluhan terkait dengan perang harga dan kualitas, ada yang dibuat sedikit asal-asalan dan karakteristik yang berbeda dengan yang seharusnya.


Seharusnya, perekonomian di Aceh termasuk persaingannya harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di mana kita di Aceh mengamalkannya.


Kupiah tempahan/pabrikan terus diminati karena memang harganya terjangkau. Semoga persaingan sehat dan peningkatan ekonomi terus terjadi di sana, pada masa yang sama menghargai identitas budaya sendiri.


Seiring dengan boomingnya kupiah Aceh, dampak positif terhadap kupiah meukeutop atau kupiah Tungkop rajutan yang produksi asalnya di Gampong Tungkop, Garot Cut, Kabupaten Pidie dan sekitarnya mulai ada peningkatan permintaan dari hari ke hari. Walaupun pada awal-awal #GerakanSejutaKupiahAceh perajin mulai khawatir karena sepinya permintaan.


Seperti filosofi emas yang ditaruh di mana pun ia tetaplah emas. Barangkali ini kata-kata yang tepat untuk kupiah meukeutop versi rajutan buatan tangan perajin. Walau harga jualnya relatif mahal, tapi yang namanya emas tetap diminati dan dinanti.


Mahalnya harga, menurut penelusuran saya pada 2 Agustus 2020 lalu bukan tanpa alasan. Kupiah ini dibuat dengan sangat teliti, rumit, dan bernilai sejarah tinggi oleh tangan-tangan telaten perajin Pidie. Mereka melakukannya persis sebagaimana nenek moyang mereka dulu mengajarkannya. Persis.


Baca: “Quo Vadis” Kupiah Meukeutop


Saya sempat bertanya, apakah tidak mungkin kita buat inovasi dengan cara tertentu. Tak mungkin, jika diinovasi dengan cara baru, maka hasil kupiah meukeutop versi ini tak akan sama dengan aslinya yang telah dibuat secara turun temurun. Itulah jawaban mereka.


Pengerjaan untuk satu kupiah juga tak bisa dikerjakan sendiri, tetapi oleh tim. Satu kupiah dikerjakan oleh lima hingga enam orang. Setiap orang punya keahlian mengerjakan bagian masing-masing.


Sebetulnya, keuntungan mereka sangat tipis, bayangkan dengan harga jual Rp300-an ribu dibagi lima sampai enam orang tadi. Per kupiah selesai dikerjakan dalam rentang waktu sepuluh hari. Bisa dikalkulasikan berapa yang mereka dapatkan untuk satu kupiah per hari.


Baca: Kupiah Aceh Tembus Pasar Internasional


Nilai seni, estetika, sejarah warisan budaya kupiah meukeutop ini perlu kita apresiasi bersama. Dan mereka berkomitmen terus mewariskan dari generasi ke generasi.


Pemerintah Aceh kita harapkan akan membuat kebijakan secara makro dalam bentuk Qanun Aceh tentang Perlindungan dan Pelestarian Warisan Budaya Aceh, sementara dalam jangka pendek bisa membuat semacam surat edaran agar masyarakat memakai kupiah Aceh.


Bagi pejabat dan tokoh masyarakat, dapat diimbau memakai kupiah Aceh versi buatan tangan pada saat hari-hari besar kedinasan seperti dalam peringatan 17 Agustus dalam waktu dekat ini.


Ini adalah momen, jangan selalu kita kehilangan momentum. Mari bersama-sama melestarikan warisan budaya bangsa. Ini pekerjaan besar, tak bisa hanya dipikulkan pada pundak perajin saja.[]


Tertanda


Insiator #GerakanSejutaKupiahAceh #Bolehbelidimanasaja


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini