ads


Ahmad Humam Hamid*
.
Hampir semua pembahasan yang ditulis oleh lembaga internasional dan para ahli tentang bencana kehidupan masyarakat Aceh dalam menghadapi konflik dan tsunami seringkali berurusan dengan dua kata, resilience dan solidarity. Kata itu dihubungkan dengan perilaku individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi dan hidup dalam bencana.


Ketika fokus pembahasan tentang penguatan dan pembângunan masyarakat desa di Aceh oleh berbagai lembaga nasional dan internasional yang ditujukan kepada masyarakat gampong, kedua kata tersebut dijadikan sebagai sebagai modal dasar. Selalu ditemui dua kata kunci. Resilience dan solidarity. Kadang cukup dengan resilience saja, tanpa solidarity, atau sebaliknya, atau dua-duanya sekaligus.


Apa sesungguhnya makna resilience dan solidarity, dan kenapa kedua kata itu sangat diajurkan oleh publikasi berbagai lembaga internasional dan para ahli untuk menjadi rujukan dalam pembangunan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan Aceh? Apakah kata itu telah ada dalam masyarakat Aceh sebelumnya? Apakah itu elemen penting yang diimpor, kemudian ditanam secara rekayasa sosial dalam masyarakat Aceh ?


Tidak ada padanan kata resilience dalam bahasa Aceh dalam satu kata selain dari kata “batat”, atau tepatnya “batat positif”. Dalam bahasa Idonesia, resilience umumnya disinonimkan dengan kata ketangguhan, kekuatan, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi.


Resilience lebih banyak berurusan dengan kapasitas individu, atau unit sosial masyarakat tertentu, untuk bertahan, atau jikapun jatuh, sanggup bangkit kembali seperti sebelumnya. Tahan banting adalah bahasa prokem yang cocok untuk istilah ini yang tentu saja bersejawat dengan kata “batat” dalam bahasa Aceh, atau tepatnya “batat positif”


Kata solidarity yang juga cukup banyak ditulis dalam deskripsi tentang Aceh lebih banyak dialamatkan kepada kekompakan anggota dalam sebuah kelompok, baik dalam waktu suka maupun duka. Basisnya adalah moral, kepercayan, pengalaman, dan kepentingan bersama. Ukurannya adalah saling percaya, saling tolong menolong, saling menghormati, dan saling bertangungjawab. Solidaritas di dalam bahasa Aceh hanya dapat dijelaskan dengan menggunakan dua kata, “seutia” dan “padoli”.


Dengan hanya menggunakan dua konsep dan istilah, resilience, dan solidarity atau tepatnya dalam bahasa Aceh, “batat”, atau “batat positif”, “seutia“, dan “padoli”, banyak sekali pengamat dan peneliti Aceh mampu masuk dan menganalisa ke dalam jantung kehidupan masyarakat Aceh.


Dengan kedua konsep itu mereka mampu menemukan sejumlah atribut yang memberi petunjuk untuk dapat menganalisa daya tahan, daya juang, dan ketangguhan masyarakat untuk hidup dalam dan pasca bencana. Yang dimaksud adalah bencana buatan manusia, konflik Aceh, dan bencana sunnatullah, gempa dan tsunami 2004.


Ketika pandemi seperti Covid-19 ini dilihat dalam perspektif bencana, apakah konsep ketangguhan dan solidaritas dapat digunakan? Tentu saja bisa, karena bencana, apapun bentuknya selalu berhubungan dengan ancaman terhadap hidup dan kehidupan manusia, baik itu individu, keluarga, kelompok,maupun komunitas. Cukup banyak bukti-bukti yang menunjukan bahwa “hormon adreanalin” masyarakat Aceh selalu timbul ketika menghadapi ancaman kehidupan kolektif.


Rahasia keberlanjutan kehidupan masyarakat Aceh dengan bencana kekerasaan yang berlangsung paling kurang lebih dari satu abad sesungguhnya berakar dari kekuatan, ketangguhan dan solidaritas masyarakat. Bencana besar gempa Tsunami tahun 2004 menjadi godam terakhir yang memperkokoh kedua modal sosial tersebut.


Mustahil membayangkan masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang dalam bencana yang berkelanjutan walaupun di sana sini terjadi stagnasi relatif. Tidaklah berlebihan untuk membuat sebuah kesimpulan awal, bahwa keunikan kehidupan masyarakat Aceh, terutama di kawasan pedesaan, yang tidak pernah berhenti bergumul dengan pasang surut bencana, berakar pada DNA ketangguhan dan solidaritas yang telah teruji sepanjang zaman.


Tanpa harus merujuk kepada teori ketangguhan yang sangat rumit, dengan hanya melihat kepada statistik gangguan jiwa masyarakat Aceh saja, kita bisa melihat segi lain yang mampu menerangkan perjuangan kehidupan masyarakat. Statistik resmi prevalensi gangguan kejiwaan masyarakat Aceh disebutkan berada pada angka 2,7 -angka nasional 1,7, cukup memberikan gambaran residu bencana yang telah menimpa Aceh.


Kekerasan akibat konflik, bencana tsunami, dan musibah kemiskinan telah memberikan ujian yang sangat besar kepada masyarakat Aceh. Angka gangguan 2,7 yang bermakna setiap 1.000 orang Aceh terdapat 27 orang yang menderita gannguan jiwa, bukanlah sebuah prevalansi yang ganjil, apalagi aneh bila dibandingkan dengan frekuensi, durasi, keparahan dan kedalaman bencana yang telah dilalui oleh masyarakat.


Fenomena itu harus dibaca secara terbalik tidak hanya terhenti pada 27 orang yang menderita gangguan jiwa, tetapi pada 973 sisanya yang dapat menjalani kehidupan normal sehari-hari. Artinya, mereka telah melewati berbagai masa dan bermacam krisis dengan baik. Mayoritas mereka yang tersisa, baik secara individu, keluarga, maupun komunitas masyarakat adalah gugus pilihan yang cukup tangguh.


Ketangguhan mereka juga akan mustahil terjadi tanpa rasa solidaritas yang kuat. Intinya, mereka adalah gugus besar yang mampu bertahan, dan tangguh terhadap kedua bencana besar itu. Mereka tahan banting, fleksibel, dan adaptif terhadap berbagai bencana yang telah dialui. Mereka “batat that that”, maksudnya “batat” positif.


Secara umum dapat pula dibayangkan kualitas survival mereka yang berhasil keluar dari bencana itu sesungguhnya tidak mudah didapatkan. Jawabannya sebagian besar terdapat pada tradisi ketangguhan kolektif yang telah berjalan cukup lama dan terjaga dengan baik. Selanjutnya ketangguhan individu, keluarga, dan komunitas tidak akan terpelihara tanpa solidaritas yang kuat.


Dengan melihat kepada tantangan dan kecenderungan pandemi Covid-19 yang rumit dan berpeluang terselesaikan dalam waktu yang relatif lama, Aceh berada pada sebuah t**ik kritis yang menentukan. Persoalan terbesar pada saat ini adalah bagaimana mempercepat dan memperkuat ketangguhan dan solidaritas komunitas, sehingga masyarakat mampu menghadapi tatangan pandemi dengan baik dan berhasil.


Perbedaan nyata antara pandemi dan bencana lain adalah cara pandang masyarakat terhadap bencana, tepatnya, persepsi resiko. Ketika berita dan kasus Covid-19 dipublikasi, dan dibicarakan dalam masyarakat, terjadi sebuah proses kognitif pencarian informasi yang akan dijadikan sebagai basis pemahaman terhadap fakta sosial dan non sosial pandemi.


Informasi positif dan négatif akan diterima dan diproses, dan kegagalan pemahaman akan, menghasilkan bias kognitif yang tidak membantu penguatan ketangguhan dan solidaritas masyarakat. Tidak hanya masyarakat biasa, apalagi masyarakat gampong, bias kognitif ini bahkan pada awalnya sempat berjangkit di kalangan petinggi nasional yang menganggap enteng pandemi Covid-19, sehingga timbul percaya diri yang berlebihan.


Pada saat ini bias optimis inilah yang sedang berkembang pesat di kalangan bawah sehingga anjuran masker, social distancing, cuci tangan, hindari keramaian menjadi aneh, dan bahkan menjadi bahan tertawaan sebagian besar publik.


Persoalan kognitif lainnya adalah kepercayaan diri yang sangat tinggi dan berlebihan, sehingga ancaman pandemi dianggap akan teratasi dengan kekuatan lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan aspek klinis dan non klinis pandemi. Suburnya infodemics- berita pandemi yang massif dan saling bertabrakan via media sosial, ceramah tokoh atau pemuka agama yang tidak mengerti pandemi,dan berita hoaks juga menjadi sumber utama penghalang besar tumbuhnya persepsi risiko yang benar.


Ini artinya, pekerjaan terbesar dalam mengendalikan pandemi harus dimulai dengan komunikasi masif yang melibatkan semua pihak. Sangat mustahil mengharapkan tumbuhnya ketangguhan dan kesiapan untuk penguatan solidaritas tanpa kedalaman persepsi risiko dan ancaman akibat Covid-19.


Ketika Covid-19 merebak, kadang ada sekelompok masyarakat yang merasa tidak berdaya dan cenderung mengharapkan perhatian dan bantuan pemerintah. Sekiranya pemerintah cepat menanggapi dan memberikan perhatian, maka kepercayaan akan tumbuh terhadap perlindungan pemerintah dan ini akan meningkat persepsi risiko individu maupun publik. Peningkatan persepsi yang terjadi secara kolektif akan memberi jalan kepada penguatan ketangguhan dan menumbuhkan solidaritas komunitas dalam menghadapi ancaman Covid-19.


Penyampaian informasi yang rutin dan benar tentang perkembangan pandemi menjadi alat untuk menumbuhkan kepercayan publik. Kejujuran informasi adalah kunci yang akan menyentuh emosi, sekaligus menggerakkan hati dan pikiran masyarakat untuk mengikuti berbagai anjuran dan protokol pandemi. Jika tahapan ini telah dicapai, maka ketangguhan dan solidaritas akan tumbuh, dan secara perlahan namun pasti akan lebih siap untuk berhadapan dengan bencana pandemi.


Di atas segalanya, ancaman terbesar terhadap komunikasi resiko adalah kompetisi narasi antara kelompok yang menyampaikan narasi yang benar, benar sebagian, salah, dan juga narasi bohong dan palsu. Penguasaan komunikasi risiko hanya akan terjaga, jika kemampuan mengusai narasi yang benar terpelihara secara berkelanjutan.[]


*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.


Dari redaksi: Lhob Mate Corona (LMC) adalah serial tulisan dari Ahmad Humam Hamid, Sosiolog Universitas Syiah Kuala yang ditujukan untuk sharing dan edukasi publik dan pihak- pihak terkait untuk topik Covid-19. Dipublikasikan setiap Selasa dan Sabtu.


.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini