ads


Oleh Ahmad Humam Hamid*


Blitzkierg itu istilah perang, tetapi saat ini sering dipakai dalam menguraikan pandemi Corona. Istilah ini banyak digunakan dalam menjelaskan model serangan mendadak Hitler pada Perang Dunia II kepada musuh-musuh kuatnya di Eropa, dan banyak yang bikin keok lawannya.


Bahwa musuh Jerman kemudian bangkit lagi, itu butuh waktu yang relatif lama. Untuk bangkit dari serangan blitzkierg, Perancis misalnya, butuh waktu tiga setengah tahun, butuh energi luar biasa, yakin, percaya diri, kerja keras, saling berbagi peran, dan kompak.


Semua komponen pembangkit Perancis itu tertumpu keberhasilannya pada satu kunci, kepemimpinan. Benar ada kompetisi alot, paling kurang antara Marsekal Philippe Pétain dan Jendral Charles de Gaulle pada tahap awal. Setelah Jerman melakukan blitzkierg, mereka cease fire-gencatan senjata-. Rakyat Perancis senang dan mereka semua bersatu melawan Jerman.


Dengan bantuan Amerika Serikat, akhirnya Perancis berhasil mengusir Jerman, dan Perancis kembali Jaya. Bahwa kemudian de Gaulle menjadi pemimpin Perancis pasca Perang Dunia II, itu cerita lain lagi, karena menyangkut “arts of the game”. Yang penting ketika melawan Jerman seluruh komponen yang bertikai di Perancis kompak berperang melawan Jerman.


Blitzkierg itu bahasa Jerman, dan sering digunakan oleh pihak sekutu dalam menjelaskan strategi serangan Jerman dan bahkan dipakai oleh Amerika Serikat ketika memerang Saddam Husein. Yang dimaksud dengan blitzkierg adalah strategi perang cepat dan mematikan, dan memang berkonotasi dengan kecepatan kilat dan dasyhatnya gemuruhnya halilintar. Ini adalah model perang yang tidak memberi waktu kepada pihak lawan untuk bangkit dan mobilisasi kekuatan. Serangannya darat, laut, udara, dengan mengerahkan segala perangkat teknologi perang.


Apakah layak Covid-19 yang merebak cepat menjelang Iduladha 2020 disamakan dengan blitzkierg? Mungkin tidak, tetapi cobalah lihat fakta yang ada. Aceh butuh waktu 111 hari untuk 100 kasus pertama, 16 hari untuk 100 kasus kedua, dan kemudian terus berkembang melampaui 600 hanya beberapa hari berikutnya. Dan untuk diketahui angka itu umumnya bukan kasus test publik dari lapangan, tetapi dari test Rumah Sakit.


Kita tidak boleh berpuas diri dengan angka 400 stau 600 kasus itu saja. Negara kaya, hebat, dengan penduduk yang mempunyai pendidikan dan tingkat hidup tinggi seperti Amerika Serikat selalu menyertakan kasus yang tertinggal atau tidak tersentuh oleh test Covid-19. Dengan test yang dilakukan di lapangan, dari pemukiman sampai dengan mobil antrian berbaris dengan penumpang di dalamnya, drive through- untuk test, Center for Disease Control (CDC) badan milik Pemerintah AS mengeluarkan angka revisi itu.


Lembaga resmi Pemerintah AS yang mengurus pemberantasan penyakit menular mematok angka revisi 10 kali kepada angka aktual kasus positif lapangan yang luput dari test. Namun CDC mengakui keragaman yang didapatkan antar negara bagian adalah antara 6 kali- negara bahagian Connecticut, sampai dengan 24 kali -negara bahagian Missouri (Statnews. July 2020: JAMA, Juli 2020) Kajian lain yang dibuat oleh pakar MIT-Massachusett Institute of Technology (Boston Globe Juni 2020) untuk kasus perhitungan global atas dasar kajian di 84 negara terkena Covid-19 menyebutkan angka 12 kali dari angka resmi pemerintah.


Apa arti angka revisi aktual itu? Artinya, Pemerintah Amerika Serikat dengan presiden Trump yang keras kepala, tetap saja harus mengakui angka CDC itu. Ini artinya, setiap angka kasus positif Covid-19 yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah, maka angka total yang seharusnya adalah dikalikan dengan 10. Secara ilmu pengetahuan, untuk Aceh misalnya dengan 10, dan kasus yang dilaporkan adalah 600, maka jumlah angka yang sesungguhnya di lapangan adalah 6.000 kasus. Kalau memakai angka MIT yang lebih moderat maka 12 dikalikan dengan dengan 600, jumlahnya menjadi 7.200 kasus.


Berapa angka yang sebenarnya di Aceh kita tidak tahu, karena angka resmi yang dikeluarkan pemda, adalah angka rumah sakit. Jika Aceh kita samakan saja dengan angka terparah di salah satu negara bagian AS- Missouri, yakni 24 kali angka resmi, maka kalikan saja berapa kasus lapangan Aceh saat ini. Angka ini perlu kita sebutkan hanya untuk sebuah pertanyaan, apakah pelaksaan test Covid-19 di Aceh saat ini lebih baik dari pelaksanaan test di negara bagian Missouri AS yang terburuk menurut ukuran negara itu?


Berapapun angka yang kita ambil. 24, 12, 10, kali angka resmi, angkanya di Aceh tetap saja membuat kita shock. Mungkin juga sedih, marah, atau takut, karena selama ini kita sudah sangat nyaman dengan pertambahan 1 kasus perhari dari laporan resmi, bahkan kadang ada hari-hari yang kosong kasusnya. Terus terang kita harus mengakui kalaulah ini perang, dalam artian konvensional, ini adalah indakator blitzkiert pertama yang telah dilakukan Covid-19 kepada kita selama hanya seminggu dan Covid-19 ternyata lebih unggul dari kita.


Covid-19 tidak berhenti pada menulari 6.000 kasus positif, karena angka ini juga didukung dengan gambaran jumlah serangan dasyhat terhadap sejumlah benteng pertahanan kesehatan Aceh di beberapa kabupaten. Sampai dengan saat ini paling kurang 4 rumah sakit Kabupaten tutup, dan tersebar di pantai timur, tengah, dan barat selatan.


Pada awalnya dilaporkan RSUD Muyang Kute di Benar Meriah, diikuti oleh RSUD Teungku Peukan, Aceh Barat Daya. Tidak berhenti di situ beberapa hari kemudian dilaporkan RSUD Tamiang juga tutup. Dalam dua hari ini ada laporan terbaru yang menyebutkan RSUD Yulidin Away di Aceh Selatan juga tutup. Kelanjutannya adalah Dinas Kesehatan Aceh Besar juga dilaporkan tutup.


Penutupan sejumlah RSUD juga disertai dengan penutupan puskesmas yang juga relatif tersebar, walaupun tidak sangat merata. Ada tiga puskesmas di Aceh Selatan, Sama Dua, Sawang, dan Pasie Raja. Di Aceh Besar, Puskesmas Ingin Jaya juga ditutup. Yang juga menjadi berita penting adalah Kota Banda Aceh yang sudah berbulan bulan bersiap-siap menghadapi Covid-19 juga jebol pusat pelayanan kesehatan rakyatnya direngut pandemi. Dua puskesmas di Kota Banda Aceh, Ulee Kareng, dan Jeulingke juga terpaksa tutup.


Penutupan sejumlah rumah sakit dan puskesmas berkaitan erat hubungannya dengan tertularnya Covid-19 terhadap pekerja kesehatan di sana yang terdiri dari dokter dan perawat. Lusinan pekerja kesehatan di sejumlah RSUD itu, berikut dengan puskesmas di Aceh Selatan, Aceh Besar, dan Banda Aceh. Gambaran keparahan menjadi bertambah lengkap dengan laporan yang bertubi-tubi tentang paparan Covid-19 di RSUZA Banda Aceh.


RSUZA yang menjadi kebanggaan dan andalan masyarakat Aceh akhirnya juga bobol dengan Covid-19. Perawat dan para dokter bertugas juga tertulari dengan virus itu. Dan yang paling berat untuk dipercaya, 39 orang calon dokter spesialis yang sedang menyelesaikan kuliahnya terpapar virus Covid-19. Syukur sekali semua mereka masih muda dan tidak harus dirawat, cukup dengan isolasi saja. RSUZA beruntung, tetapi tetap saja menjadi maklumat besar bahwa virus ini telah merajalela di Aceh, bahkan di benteng besar kesehatan Aceh sekalipun, seperti RSUZA Aceh.


Kejadian penutupan sejumah RSUD dan Puskesmas, terpaparnya virus kepada lusinan pekerja kesehatan, dan terinfeksinya virus kepada banyak calon dokter spesialis di RSUZA tidak boleh dikategorikan sebagai kasus, apalagi dianggap biasa. Kalau 1 RSUD, dan puskesmas, ditambah satu dua pekerja kesehatan, itu mungkin dapat dianggap sebagai kasus. Kalau 2 RSUD, dua puskesmas, dan sepuluh pekerja kesehatan yang terpapar virus mungkin boleh dicurigai untuk dicari penyebabnya, atau mungkin dapat dianggap sebagai musibah.


Yang terjadi sesungguhnya bukan kasus, atau musibah. Karena yang tutup adalah banyak RSUD dan sejumlah puskesmas, dan itu tersebar secara geografis berarti ada yang kurang, untuk tidak menyebutkan salah dengan kesiagaan Aceh dalam mengantisipasi Covid-19. Kekurangan itu menjadi lebih tervalidasi dengan kasus paparan pandemi itu di RSUZA dan dua puskesmas Kota yang idealnya dapat menjadi teladan untuk puskesmas lain di seluruh Aceh.


Biarkanlah kekurangan yang telah terjadi itu, dievaluasi, ditangani dan diselesaikan oleh otoritas yang berwenang. Di sebalik itu kejadian penutupan RSUD dan paparan virus pekerja kesehatan telah memberikan cukup banyak dampak kepada berbagai pemangku kepentingan yang berurusan dengan Covid-19.


Betapapun kuatnya para pekerja kesehatan kita, sedikitnya hal itu telah mengakibatkan demoralisasi mereka, berikut dengan isteri, suami, anak, dan keluarga mereka. Padahal yang diharapkan adalah kita harus mempunyai pekerja kesehatan yang kuat dan hebat yang menjadi “pasukan” terdepan dalam memerangi pandemi ini.


Patut juga kita catat jika mereka merasa tidak dilindungi secara optimal dengan APD yang memadai, dan berbagai protokol pelayanan yang ketat, maka jangan harap berbagai rumah sakit itu akan menjadi “poros” pengharapan “terakhir” yang andal dari penanganan pandemi ini. Ini baru fase pendahuluan, kalau business as usual -bahasa Acehnya lagei biasa mantong, maka dapatlah dibayangkan betapa kritisnya medan tempur mereka di hari-hari mendatang.


Kalau kita menggunakan kerangka blietzkierg, maka kejadian bobolnya banyak pusat pelayanan kesehatan dan terpaparnya para dokter dan perawat dengan virus mempunyai a***ogi dengan perangkat peperangan. Bayangkan gudang peperangan,material, dan berbagai peralatan mendapat serangan yang begitu gencar. Tidak hanya harus tutup, para jenderal, perwira menengah, sejumlah serdadu di tempat strategis itu juga menjadi sasaran musuh hanya dalam hitungan hari. Harus diakui ini adalah blietzkerg yang luar biasa.


Memang benar, belum ada tenaga kesehatan kita yang menderita nasib yang fatal, -ada satu saja, dan tidak ada alat dan fasilitas perawatan dan pelayanan Rumah Sakit yang hancur. Walaupun secara fisik hal itu tidak terjadi, akan tetapi dampak psikologi terhadap publik baik, mengenai keterandalan rumah sakit, maupun kepercayaan terhadap tingkat keseriusan pemerintah menjadi pertanyaan besar. Dampak seperti ini sangat fatal, karena telah mengerus kepercayaan publik terhadap kapasitas pelayanan, dan kekecewaan terhadap model penanganan bencana yang sudah seharusnya diantasipasi semenjak empat bulan terakhir. Ini adalah blietzkerg yang perlu sangat segera untuk ditangani dan dipulihkan.


Sebenarnya tanpa harus merujuk kepada angka revisi CDC Amerika Serikat ataupun rumusan kelompok ahli MIT tentang angka aktual kasus positif, dari kejadian terhadap beberapa rumah sakit dan Puskesmas, telah dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian penularan di lapangan jauh di atas angka resmi yang dikeluarkan.


Dengan angka resmi pemerintah lebih dari 600 kasus lebih itu, maka perkiraan angka lapangan 7.000 kasus menjadi sesuatu yang tidak mustahil. Pemerintah tidak perlu mengakui angka 7.000 kasus itu, tetapi keseriusan dan kinerja yang perlu ditunjukkan kepada publik, diam-diam dalam hati, sejatinya harus menggambarkan melebihi dari angka aktual itu. []


*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.


Dari redaksi: Lhob Mate Corona (LMC) adalah serial tulisan dari Ahmad Humam Hamid, Sosiolog Universitas Syiah Kuala yang ditujukan untuk sharing dan edukasi publik dan pihak- pihak terkait untuk topik Covid-19. Dipublikasikan setiap Selasa dan Sabtu.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini