ads


Oleh : Fauzan Azima*


“Terburu-buru itu syetan,” kata Mursyid Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah, H. Hasan Basri Ginting mengingatkan saya ketika mendesak agar naik tingkat zikir syari’ah “Lailahaillallah.”


Phrase tersebut sering saya pakai ketika kawan-kawan tidak sabaran dalam segala hal. Terutama saat sedang asyik berbincang, lalu tiba-tiba ditelefon si istri untuk segera pulang. Sontak saya berucap “Bung, terburu-buru itu syetan.”


Kalimat itu, tentu bertentangan dengan ungkapan yang dipopulerkan mantan Wapres Jusuf Kalla “Cepat lebih baik” untuk memacu kabinet kerja yang istilah itu diadopsi dari demokrasi terpimpin pada masa Soekarno.


Sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan dari kedua ungkapan itu. Hanya saja penerapannya menurut situasi dan kondisi. Pada saat tertentu wajar kita berujar “Terburu-buru itu syetan,” namun pada moment lainnya wajar pula berucap “Cepat lebih baik.”


Sayangnya di negeri ini, kita sering membolak-balik ungkapan atas dasar kebencian. Kalau pimpinan bilang “Terburu-buru itu syetan” kita sebagai rakyat membantahnya dengan phrase “Cepat lebih baik.” Sebaliknya kalau pimpinan sebut “Cepat lebih baik,” kita sebagai rakyat tidak ingin sama dengan pemimpin dan memaksa mengungkapkan, “Terburu-terburu itu syetan.”


Saya sudah maklum soal rakyat. Sebesar apapun pertolonganmu kepada rakyat, jangan pernah berharap terima kasihnya.


Dalam sejarah, pada masa kekuasaan Louis XIV di Prancis yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi dan terkenal otoriter serta menghukum pembangkangnya dengan “silet besar” yang dijatuhkan tepat pada batang lehernya. Sehingga terpisah antara badan dan kepalanya.


Seorang pengacara pada masa itu, membebaskan seribu orang pembangkang yang sudah siap dihukum dengan “silet besar” itu. Begitu besar jasa pengacara itu, tetapi dari seribu rakyat yang dibebaskan hanya satu orang yang berterima kasih. Bahkan sebagian besar dari mereka malah kembali memfitnahnya.


Begitulah rakyat! Sekali lagi jangan heran. Masalahnya sekarang cara “seumike” rakyat banyak ditiru oleh para pemimpin. Kita serahkan pun “kepala kita di atas mejanya” sebagai persembahan tidak ada artinya bagi mereka.


Sekarang pilihan ada pada kita; bermental rakyat atau pemimpin. Tidak bermaksud mengabaikan rakyat, percayalah, Tuhan melebihkan siapapun yang bermental pemimpin.


(Mendale, Jum’at, 28 Agustus 2020)


The post Jangan Pernah Berharap Terima Kasih Dari Rakyat appeared first on LINTAS GAYO.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini