ads


ACEHTREND.COM, Lhoksukon – Hasanuddin Baridin, Kepala Dusun (Kadus) Pulo Drien terpilih di Gampong Binjee, Kecamatan Nisam, Aceh Utara dilaporkan ke Mapolres Lhokseumawe terkait dugaan pemalsuan dukumen saat mencalonkan diri sebagai calon kepala dusun.


Hasanuddin dilaporkan oleh Ketua Pemilihan Kadus, Razali Syafari terkait pemalsuan ijazah Paket C saat mendaftar sebagai calon kadus di Dusun Pulo Drien.


“Kita telah melaporkan Hasanuddin terkait pemalsuan ijazah ke Mapolres Lhokseumawe pada Senin, 10 Agustus 2020,” kata Razali Syafari kepada aceHTrend, Kamis (13/8/2020).


Dia menjelaskan di Dusun Pulo Drien itu ada dua calon, nomor urut satu Zaidun dan nomor urut dua Hasanuddin (terlapor). Ketika melakukan pendaftaran saat itu, terlapor tidak melengkapi berkas, sedangkan Zaidun berkasnya lengkap.


“Saat itu ada dua calon yang mendaftar, kemudian menjelang penutupan satu calon mengundurkan diri dengan alasan tidak direstui oleh pihak keluarganya. Lalu, pihak panitia memperpanjang pendaftaran selama dua hari, saat itu juga hanya Zaidun yang mendaftar,” katanya.


Lanjutnya, setelah beberapa hari pendaftaran ditutup Hasanuddin mendaftarkan diri sebagai bakal calon Kadus Lhok Drien, namun dari panitia menolak karena berkas yang dilampirkan tidak lengkap. Kemudian, panitia melakukan koordinasi dengan perangkat desa.


“Saya menolak berkas Hasanuddin, tapi saat itu tuha peut siap mempertanggungjawabkan jika kemudian hari nanti bermasalah bila berkas itu terima,” kata Razali.


Razali menjelaskan setelah dilakukan pemilihan semua calon kadus terpilih dibawa untuk ke kantor kecamatan, saat itu berkas Hasanuddin dikembalikan ke desa dikarenakan kedapatan ada perbedaan nomor NIP Kepala Dinas Pendidikan Aceh Utara berbeda di ijazah dan SKHU. Saat itu pihaknya baru mengetahui Hasanuddin diduga melampirkan ijazah palsu.


Dengan demikian itu, Hasanuddin tidak jadi dilantik sebagai kadus. Keuchik pun kembali menunjukkan kadus sebelumnya, Matsyah Abddulah, sebagai kadus sementara. Padahal dalam komitmen awal jika salah satu calon tidak melengkapi berkas dinyatakan menang dalam pemilihan, maka calon yang kalah memenuhi persyaratan yang akan dilantik.


“Dikarenakan komitmen awal ini diabaikan dan saya dirugikan serta desakan dari Zaidun calon yang kalah. Maka perkara itu saya melaporkan ke pihak kepolisian terkait dugaan ijazah palsu yang digunakan Hasanuddin,” katanya.


Sedangkan Keuchik Binjee, Murhaban, mengatakan kasus dugaan pemalsuan ijazah palsu itu sudah dilapor ke Mapolres Lhokseumawe. “Jika sudah dilaporkan ke pihak kepolisian, ya kita serahkan semuanya kepada pihak penegak hukum, tetapi baiknya kedua pihak bisa berdamai dan memilih solusi yang terbaik,” tuturnya.


Jika berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa, menyatakan apabila Perangkat Desa diangkat oleh Kepala Desa.


“Karena masyarakat meminta pemilihan secara demokrasi, maka kami menyetujui hal tersebut dengan mengambil kebijakan dalam musyawarah dengan Tuha Peut, dan aparatur gampong untuk pemilihan tersebut,” pungkasnya.[]


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini