ads


Oleh : Fauzan Azima*


Nenek moyang atau “pemuger” tanah Gayo senantiasa memelihara tradisi penghormatan kepada alam semesta dengan ungkapan, “Tabi mulo langit si kujunjung seringkel payung, maaf mulo bumi si kujejak seringkel tapak.”


Kalimat persalaman itu membumi sebelum Agama Islam berkembang di tanah Gayo. Bagi nenek moyang kita, alam bukan saja tempat hidup, tetapi juga sebagai mana topik bahasan kita “Alam takambang jadi guru” sebuah pepatah Minang yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru.


Bagi orang Gayo, alam telah menuntunnya pada pencapaian “maqom tahu diri” dengan mengambil pembelajaran ayat-ayat Allah selain ayat Kitabiyah atau Al-Qur’anul Karim; yaitu ayat qauniyah atau mengambil pelajaran dari realitas alam dan realitas sosial.


Mereka juga berziarah ke tempat-tempat yang dianggap suci dan makam-makam keramat atas keyakinan hakikat ziarah adalah mengkaji dan mengetahui sejarah sebagai bentuk petunjuk dari ayat takhiriyah.


Di samping mengkaji alam semesta di luar diri, nenek moyang kita juga mengkaji alam di dalam diri atau mikro cosmos atau ayat nafsiah. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa diri adalah refresentasi dari alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta.


Kita patut bersyukur, secara syariat lahir sebagai orang muslim, namun kita bisa mengambil pelajaran dari nenek moyang kita dahulu adalah kemampuan pencapaian maqom tertinggi, yakni selamat atau Islam.


Tentu saja untuk mencapai “maqom tertinggi” itu mereka telah melalui maqom level hidup atau hindu, atau masih dalam tataran berbudaya atau Budha, atau masih berliku-liku untuk mencapai kesempurnaan atau Kristen.


Banyak jalan menuju “maqom tertinggi” itu, lewat seluruh ayat-ayat Allah. Sehingga sangat dilarang bagi kita untuk fanatisme buta. Fikiran yang sempit atau menutup fikiran (kafir) adalah pengakuan bahwa ilmu Allah itu hanya semangkok tinta. Padahal andai lautan dan ditambah satu lautan lagi sebagai tinta untuk menulis ilmu Allah tidak akan cukup. Sungguh tiada bandingan luas dan dalamnya ilmunya Allahu Akbar.


Dengan turunnya Al-Qur’anul Karim sebagai ayat kitabiyah, tentu semakin mudah bagi kita untuk mencapai maqom selamat atau Islam. Sudah ada semacam “manual book” sebagai pedoman untuk mencapai selamat atau Islam. Lagi-lagi dalam memahami Al-Qur’an tidak boleh dengan “kacamata kuda,” tetapi semua ayat-ayat Allah saling melengkapi untuk kesempurnaan.


Benar bahwa kitab suci Al-Qur’anul Karim ditulis dalam bahasa arab, tetapi hakikatnya banyak ditemukan dalam bahasa-bahasa daerah di nusantara dan bahasa lainnya di dunia. Terutama dalam bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Aceh, bahasa Sasak, dan bahasa Gayo, juga bahasa Inggris. Semua bahasa itu saling melengkapi di dalam menemukan hakikat. Apa yang tidak ada dalam bahasa Melayu, bisa jadi ada dalam bahasa Jawa dan seterusnya.


Sebagai contoh, Surat Al-Baqarah ayat pertama, berbunyi “Alif lam mim” di dalam bahasa Arab dan bahasa manapun tidak ada artinya serta dalam terjemahannya “Hanya Allah yang mengetahui”, namun ternyata di dalam bahasa Aceh ada maknanya, yaitu; “Alif di dalam Mim” atau “Allah pada Muhammad.” Buktinya pada bagian tubuh manusia ada bentuk tulisan “Allah”. Misalnya pada telinga, lubang hidung, pada kedua mata, dan pada jari.


Demikian juga ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW, “Iqra’” artinya “baca,” yang pemaknaannya belum sempurna, kalau sekedar diartikan “baca” tetapi begitu kita coba ramu dalam bahasa Inggris, menjadi “IQ rotation” atau “putar otak” lebih sesuai karena kemudian banyak ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berfikir. Nenek moyang kita menyebutnya ilmu itu sebagai “Ilmu satu kata seribu bahasa.”


Risalah singkat ini mendiskusikan tentang “tanah” sebagai salah satu “anasir empat” ciptaan Allah SWT, bukan dari sudut struktur dan tata ruangnya, tetapi seperti dalam pemaparan Ibu Ratna Dewi dalam presentasinya pada tanggal 31 Juli 2020 lalu, “air dan hal-hal yang tidak lagi dipercakapkan.”


Saya pun akan berbagi ilmu pengetahuan melalui risalah ini dengan judul “Beramanah kepada tanah” yaitu berisi tentang tema; hilangnya tradisi penghormatan kepada tanah dalam kehidupan kita dan bagaimana kembali menjadikan tanah sebagai jalan keselamatan, kekuatan dan kemenangan kepada kita di abad modern ini.


“Tanah” apapun jenisnya itu hanya “nama sandi” atau nama panggilan. “Tanah” bukan nama sebenarnya. Nama yang kita dapat dari orang tua maupun dari bangku sekolah tentang unsur bumi dan langit lainnya hanya “nama samaran”.


Sebenarnya mereka punya nama lahir yang resmi dan sejurus dengan penamaan lahir itu mereka juga mempunyai sumpah. Sehingga dengan “nama” dan “sumpah” itu kita bisa beramanah dan mengendalikan tanah itu untuk kepentingan hidup dan kehidupan kita; baik untuk kebaikan, maupun untuk kejahatan.


Sahabat Sayyina Ali bin Abi Thalib RA salah seorang yang mengetahui nama dan sumpah tanah. Suatu hari seorang anak yatim piatu yang sedang menangis dan sahabat Ali menghampirinya. Selidik punya selidik, ternyata anak itu takut dimarahi kakaknya jika pulang ke rumah karena merasa bersalah menumpahkan minyak goreng di padang pasir yang baru saja dibelinya.


Sahabat Ali meminta kepada anak itu untuk menunjukkan di mana minyak goreng itu tumpah. Lalu anak itu menunjukkan tempatnya dan memang tidak ada lagi sisa minyak goreng itu.


Kemudian sahabat Ali mengambil tanah di mana tempat minyak goreng itu tumpah, lalu menyebut “nama aslinya” dan membacakan sumpahnya serta meremasnya. Tanah itupun menjerit dan mengeluarlah minyak yang tumpah tadi dan bahkan lebih jumlah volumenya dari semula. Rasa sakit yang dialami tanah membuatnya bersumpah, “Demi Allah saya bersumpah… tidak akan tumbuh, tanaman yang ditanam oleh tangan Ali pada punggungku.”


Pada hari-hari berikutnya setiap tanaman yang ditanam oleh tangan Sahabat Ali semuanya mati layu, namun Ali bin Abi Thalib RA yang menyandang salah satu sifat Nabi Muhammad SAW, yakni Fatanah (bahasa Arab), cerdik (bahasa melayu) dan politik (bahasa Inggris). Sebagai orang cerdik, Sahabat Ali tidak kehilangan akal, beliau tanam pohon beringin yang menumpang hidup pada pohon lainnya. Lama kelamaan pohon induknya mati dan yang tumbuh adalah pohon beringin yang berdiri sendiri.


Sebagai mana Sahabat Ali Bin Abi Thalib, ternyata banyak juga orang Gayo yang tahu nama asli tanah dan sumpahnya. Terbukti pada daerah-daerah yang rawan erosi, ditanamlah pohon ongkal atau andong yang akarnya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu serabut, tetapi dengan syarat menyebutkan amanah, nama dan sumpahnya tanah, maka tanah itu urung untuk longsor atau erosi.


Betapa dengan kearifan lokal, yang sebagian orang menganggap tanah tidak bernyawa, ternyata mendengar amanah untuk tetap diam di tempat. Betapa besar keuntungannya, daripada kita harus membangun tembok penahan tebing yang biayanya mencapai ratusan juta rupiah, tentu lebih baik kita tancapkan pohon ongkal atau andong yang tidak perlu biaya dan mudah kita dapat di perkuburan masyarakat.


Pada kasus lain, berdasarkan pengalaman kami yang berperang dengan Jakarta. Apabila pasukan GAM sudah masuk ke dalam hutan, maka dipastikan sudah aman karena kami merasa sangat “dilindungi” oleh hutan, bukan saja tegakan pohonnya relatif banyak, tetapi tanahnya memang keramat atau mulia.


Kami selamat dalam pertempuran bukan karena kami punya ilmu kebal atau mempunyai kemampuan tempur yang hebat, tetapi karena dukungan tanah yang kami pijak.


Tentu saja sebelum memasuki hutan kita melaksanankan upacara kecil. Orang pertama masuk ke dalam hutan melakukan prosesi; membuka 7 (tujuh) daun yang tertutup dan menutup 7 (tujuh) daun yang terbuka sambil mengucapkan, “Assalamu’alaikum ya ahlul badri?” kalau kita tidak mengetahui nama penunggu di sana. Sebaliknya kalau kami mengetahui nama “hamba Allah” penunggu di sana maka salamnya langsung ditujukan kepadanya.


Kalau kita melakukan prosesi itu, maka dalam satu malam tanah di sana menjamin keamanan dan keselamatan kita. Jangankan manusia atau binatang buas, semutpun tidak akan mengganggu kita. Selanjutnya, kalau kita keluar hutan maka kita harus lakukan prosesi yang sama seperti masuk hutan tadi; membuka 7 (tujuh) daun yang tertutup dan menutup 7 (tujuh) daun yang terbuka dengan tujuan agar para satwa yang ada di dalam hutan tersebut tidak kelaparan.


Selama berada di dalam hutan, tidak boleh takabbur dan sombong karena itu kita harus memakai tongkat, yang gunanya agar berjalan tidak lelah dan bisa mengusir binatang buas dan binatang melata. Tongkat yang kita gunakan, ujungnya harus ke bawah; gunanya untuk mengatasi kelelahan dan bisa menghalau angin puting beliung kalau sewaktu-waktu datang.


Selama berada di tengah hutan, jangan khawatir minum air sekotor apapun, dijamin tidak sakit perut asal memberi salam kepada air di dalam hutan dengan lafadz, “Salah serung, salah sangul, bibik rebinah, putri keriput.” Kemudian ambil ranting kayu dan lintangkan pada kubangan air itu.


Selama kita menjaga adab di dalam hutan, mudah-mudahan kita akan selamat dalam situasi apapun, termasuk dalam perang sekalipun.


Beramanah dengan menyebut nama asli dan sumpah tanah, sehingga beroleh keselamatan, kekuatan dan kemenangan bagi kita sebenarnya bisa dirasionalisakan dan sangat aplikatif.


Do’a, ratapan, tafakur, sujud, kontemplasi, yoga, semedi adalah proses pekerjaan membangun “tower untuk memperkuat sinyal”. Semakin dilakukan dengan khusu’ semakin kuat “sinyal” untuk menghantarkan gelombang elektromagnetik kepada apa dan siapapun yang kita maksud.


Do’a sendiri berasal dari kata “Dia”, “Allah” dan “Dua” atau “Dia dan diri”. Hanya “Dia” yang bisa mengabulkan “Do’a” sebagaimana syahadat diri; la hayyun, la samiun, la bashirun, la mutakallimun, la alimun, la muridun, la qadirun faqir illahlah.


Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakan alam semesta ini, tetapi yang mengaturnya adalah para Waliyullah. Di Aceh kita meyakini bahwa Tengku Syiah kuala (Syekh ku Allah) adalah Waliyullah yang bertugas menjaga pusat air di lautan. Buktinya ketika terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami makamnya sama sekali tidak rusak dan dimasuki air. Padahal makamnya berada di pusat gempa bumi dan tsunami yang menghantam daratan mencapai 3 (tiga) KM jauhnya.


Sebagai perenungan; manusia diciptakan dari saripati tanah, lalu dilahirkan pada tanah kelahirannya, kemudian tumbuh menjadi anak kecil yang bermain-main dengan tanah di atas tanah, seterusnya ketika dewasa membangun rumah pada sebidang tanah, dan ketika orang tuanya wafat, ada yang memperebutkan tanah warisan, akhirnya meninggal dan ditimbun dengan tanah. Begitu banyak aktivitas kita dengan tanah, adakah kita mengikuti cara leluhur kita dalam beradab kepada tanah?


*Mantan Panglima GAM Wilayah Linge. Tulisan ini disampaikan pada Sarasehan Kebudayaan Bangsa Samudera, Rabu 12 Agustus 2020

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini