ads


ACEHTREND.COM, Banda Aceh — Akademisi Unsyiah berhasil mengembangkan kapal pancing sederhana berbahan komposit melalui penggunaan material sintetis untuk penggunaan di kawasan pesisir pantai, tambak, sungai, dan danau. Material ini berasal dari turunan minyak bumi yang diolah menjadi beberapa bahan baku industri.


Pengembangan kapal pancing tersebut dilakukan oleh Tim Akademisi Pelaksana Pengabdian Unsyiah yang didanai Unsyiah melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat SKIM Berbasis Produk. Anggota tim terdiri atas Nazaruddin M.Eng.Sc, Dr.Ing Rudi Kurniawan, dan Hendra Gunawan MT.


Ketua proyek, Nazaruddin mengatakan keluargan khusus produk ini berupa material hasil penggabungan antara perekat yang dikenal dengan sebutan “matrik” secara ilmiah dan masyarakat awam mengenalnya sebagai resin.


“Adapun dimensi kapal ini berukuran kecil yaitu panjang 5 meter dan lebar 1,2 meter serta tinggi 0,4 meter. Memiliki kemampuan untuk membawa beban sebesar 0,4–0,5 ton,” katanya kepada aceHTrend, Selasa (18/8/2020).


Nazaruddin mengatakan, keunggulan dimensi kapal pancing ini ialah dari segi ukuran merupakan permintaan mayoritas nelayan pancing pesisir, didukung penggunaan material komposit yang terbukti lebih tahan lama dan mudah perawatan serta perbaikan, kapal ini lebih ringan dan mudah dimobilisasi.


“Sehingga sangat menguntungkan apabila digunakan di daerah pesisir pantai, tambak, sungai dan danau serta rawa-rawa,” katanya.


Ide awal munculnya pembuatan kapal pancing kata Nazar, berawal dari input data yang didapat di lapangan sekitar pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar. Selama ini mayoritas nelayan masih menggunakan kapal berbahan kayu.


Mereka mengeluhkan kualitas kayu yang tersedia sekarang tidak berkualitas apabila digunakan untuk sarana pembuatan kapal. Selain itu bentuk kapal pancing berukuran kecil yang mereka gunakan sekarang dari segi dimensi bentuk, terlalu sempit serta terlalu berat.


“Model kapal pancing pun yang ada sekarang tidak inovatif atau masih menggunakan desain lama yang turun-temurun,” kata Nazar.


Hendra Gunawan menambahkan, bentuk desain kapal pancing nelayan yang telah ada tidak memberikan kenyamanan untuk penumpang karena terlalu sempit dan goncangan yang terjadi lebih besar. Dari data yang diterima menyebutkan tersedia 90% kapal nelayan Aceh masih menggunakan bahan perpaduan kayu dan memiliki desain sempit sehingga memberikan tingkat kenyamanan rendah.


“Sehingga sangat buruk kualitasnya untuk penggunaan jangka panjang yang menurut data yang didapatkan c**a mampu bertahan dua tahun,” ujar Hendra.


Adapun mitra kerja sama yang diketuai oleh Akram MT dalam bidang manufaktur produksi kapal pancing komposit menerangkan, keunggulan kapal pancing komposit ini sangat mudah dipabrikasi atau dibuat, mudah dilakukan perawatan, mudah memperbaikinya apabila mengalami kerusakan, dan memiliki biaya operasional yang sangat rendah dan data ini dapat memberikan pengguna produk ini ekstra income, yaitu penghematan dalam segi biaya operasional rutinitas.


“Hal inilah yang mendasari kapal pancing komposit ini layak untuk dilakukan produksi massal pada masa yang akan datang,” katanya.


Selain itu Rudi Kurniawan turut menambahkan, kapal pancing komposit yang diciptakan oleh Tim Akademisi Unsyiah yang berbasis di Laboratorium Desain dan Manufaktur (LDM) Jurusan Teknik Mesin ini memiliki prospek bagus untuk dipasarkan baik di lokasi wisata yang ada di kawasan pusat kota dan juga daerah pesisir pantai.


Hal ini dikarenakan kapal pancing wisata berbahan komposit ini mampu memiliki daya tahan lebih lama dari kapal pancing berbahan kayu yaitu minimal tujuh tahun.


“Kapal ini dapat digunakan untuk berbagai fungsi, baik untuk nelayan pencari ikan, nelayan pengelola tambak, dan juga penggunaan bagi masyarakat penikmat di lokasi wisata kolam dan pantai,” kata Rudi.


Kemudian, selain ramah lingkungan karena tidak ada penebangan hutan secara ilegal, kapal komposit ini juga membutuhkan energi yang sangat efisien. Bisa menggunakan motor penggerak mesin dan bisa juga menggunakan tenaga manusia yaitu dengan cara mendayung.


Kapal pancing wisata berbahan komposit ini telah dihibahkan untuk mitra nelayan Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Mitra ini menjadi prioritas karena sangat aktif dalam profesi sebagai nelayan yang berbasis di sekitaran pesisir pantai Alue Naga.


“Semoga kehadiran produk ini menjadi awal penggunaan kapal pancing wisata komposit, diharapkan akan memberi banyak manfaat untuk nelayan Aceh dan para pengguna lainnya sehingga semakin bersemangat dapat menambah extra income,” kata Nazaruddin selaku ketua tim.[]

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini