ads


Oleh Tgk Helmi Abu Bakar El-Langkawi*


Kita sebagai manusia yang merupakan khalifah di muka bumi mempunyai kewajiban untuk menaati dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia sosok ahsani attaqwim yang dibekali akal dan kalbu untuk berusaha dan berikhtiar menjadi hamba yang terbaik di sisi-Nya.


Apa yang terjadi di muka bumi ini, tidak terlepas dari takdir Allah Swt. Keberadaan takdir merupakan konsep hidup dalam rukun iman keenam, yang menjadikan dasar berpegangnya kaum muslimin dan menjadi pondasi dalam kepercayaan beragama. Takdir adalah kadar dan ukuran, yakni ukuran batasan kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluknya.


Kita sebagai hamba-Nya berkewajiban dalam ikhtiar (usaha) namun mempunyai batasan dalam menjalani kehidupannya, entah itu batasan dalam melakukan suatu pekerjaan ataupun yang lainnya. Takdir ditempatkan di dalam rukun iman paling akhir adalah dikarenakan takdir merupakan ketentuan Allah yang bisa berubah dan bisa tetap.


Memahami konsep ikhtiar dan takdir, Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran: 26 yang artinya, “Katakanlah, wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Apa pun ketentuan yang terkait dengan kekuasaan dan apa saja yang terjadi itu semua ada di tangan Allah swt.


Percaya pada takdir yang baik dan buruk adalah suatu kewajiban tetapi jangan terus selalu merana bahwa hidup itu penuh dengan takdir buruk, takdir yang diberikan pastilah ada hikmah yang diberikan tetapi manusia terkadang tidak mau memikirkan hal yang itu sehingga yang dirasakan semua kehidupan penuh dengan kesusahan.


Tidak sedikit di antara yang mempunyai cita-cita dalam kehidupan ini, baik itu menjadi pemimpin, menjadi PNS, meraih beasiswa, kepala sebuah instansi dan lainnya termasuk merajut cinta meraih bidadari dan kita hanya mampu dalam ikhtiar. Namun, jika semua itu atau sebagiannya tidak terwujudkan, janganlah putus asa dan berkecil hati, tetapi hendaknya bisa menerima dalam konsep ridha terhadap hal yang telah ditetapkan Allah setelah kita mengusahakan dan berikhtiar.


Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah syair yang dilantunkan oleh seseorang bernama Al-Mutanabbi’ berbunyi:


لَيْسَ كُلُّ مَا يَتَمَنَّاهُ الْمَرْءُ يُدْرِكُهُ


تَجْرِي الرِّيَاحُ بِمَا لاَ تَشْتَهِي السُّفُنُ


Artinya: “Tidak setiap harapan seseorang dia dapatkan. (Sebagaimana) angin berhembus tidak sesuai dengan arah haluan kapal.”


Keikhlasan menerima takdir ada hikmah tersendiri, bisa jadi apa yang terjadi dan kita terima itu lebih baik untuk kita meskipun menyakitkan dalam pandangan pribadi. Allah lebih mengetahui yang lebih benar dan lebih baik bagi kita. Ini berdasarkan firman Allah Swt berbunyi:


وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, Boleh jadi kalian menyukai sesuatu sedangkan hal itu buruk bagi kalian, dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216)


Kita sebagai mukmin harus senantiasa berbaik sangka terhadap Allah, sedangkan kita hanya dapat melakukan tidak lebih sekadar berikhtiar. Sikap seorang mukmin tersebut merupakan respons positif dalam mengatasi sifat alamiah manusia yang umumnya mengeluh pada saat susah dan kikir saat mendapat anugerah.


Sikap tersebut merupakan modifikasi dari sifat alamiah-negatif menjadi progresif-positif dengan tujuan agar kaum muslimin tidak sampai bersedih hati dalam menghadapi masalah hingga berujung pada sikap putus asa.


Seorang muslim hendaknya senantiasa memiliki keyakinan kuat bahwa nasib dari perjalanan hidupnya adalah takdir Allah dan kewajiban dirinya adalah berikhtiar dengan sekuat tenaga dan sebaik-baiknya usaha dam kita harus memiliki prasangka baik terhadap Allah Swt atas takdir apa pun pada dirinya.


Kita berusaha untuk bersikap tawasut dalam keadaan apa pun dan terus berusaha menjadi lebih baik, sehingga tetap mampu berpikir normal dan kritis serta tidak terbawa oleh penderitaan atau terlena oleh kenikmatan. Juga harus memiliki visi untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan bersabar kala menerima cobaan serta yakin bahwa nikmat yang diberikan Allah jauh lebih banyak dari cobaan yang diterima.


Beranjak dari itu, kita harus ikhlas dan ridha terhadap takdir Allah Swt. Apa yang Allah takdir setelah kita berikhtiar sebagai kewajibannya, tentulah apa yang terjadi itu lebih baik untuk kita meskipun kita tidak menginginkannya. Yakinlah. Amin.[]


Penulis adalah guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan penggiat literasi


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini