ads


Oleh Azhar*)


Di dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, Khususnya masyarakat yang menetap di pedalaman yang hidup secara agraris, memiliki banyak tradisi yang bernilai positif. Hal ini tumbuh secara perlahan sesuai dengan kebutuhan mereka untuk dapat mempertahankan hidup dan berinteraksi sosial dengan baik antar sesama. Salah satu yang dianggap bernilai sosial tinggi adalah kegiatan meu-urup.


Secara harfiah, meu-urup adalah kerja sama untuk kegiatan ekonomi, tanpa melibatkan uang sebagai alat bayar. Dalam konteks ini, alat bayar digantikan oleh tenaga. Misal saya hari ini terlibat membersihkan kebun si A, maka si A akan melakukan yang sama pada kebun saya, ketika saya membersihkan kebun. Lebih tepatnya kegiatan ini disebut utang sosial. Artinya membalas sebagai bentuk bayaran, sifatnya wajib. Di masa sekarang, praktik meu-urup meluas ke bidang-bidang lain di luar sektor ekonomi.


Kegiatan ini kemudian ditasbihkan menjadi sebuah kearifan lokal Aceh, yang dapat diartikan sebagai local wisdom adalah suatu kebijakan hidup atau cara hidup yang bijak yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi baik melalui tradisi lisan, seperti pepatah, hadih maja, peribahasa, ungkapan, dan cerita rakyat, maupun melalui tradisi tulis, seperti manuskrip, dan benda-benda pakai (etnografika). Selanjutnya Kearifan lokal (local genius) merupakan kecerdaasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh lewat pengalaman masyarakat. Artinya kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain.


Kebiasaan ini pernah berkembang dalam kehidupan masyarakat tani di hampir seluruh Aceh. Kegiatan ini terus dilakukan secara bersama-sama sampai semua lahan peserta selesai ditanami, proses ini terus dilakukan secara bergiliran sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Pemilik lahan hanya menyediakan makanan dan minuman.


Dalam a***isis sosiologi kegiatan meu-urup terbentuk dan terbangunnya beberapa struktur sosial dalam masyarakat di antaranya: terbangunnya modal sosial dalam sebuah kelompok masyarakat. Terbentuknya interaksi sosial dan terbangunnya nilai nilai sosial. Menjadi sebuah kekuatan sosial kemasayarakatan untuk menjaga kekerabatan dalam kelompok masyarakat. menjadi alat komunikasi sosial masyarakat tradisional untuk mempertahankan hidup dan terbentuknya rasa solidaritas serta menekan terjadi konflik lokal.


Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi di berbagai bidang, terutama pada sektor pertanian, eksistensi meu-urup mulai tergeser secara perlahan lahan. Perubahan pola hidup masyarakat dari humanis mulai dikikis oleh pengaruh kapitalis, menyebabkan kebiasaan ini secara perlahan mulai ditinggalkan. Uang sudah menjadi nilai tukar yang utama. Lahan-lahan pertanian dan perkebunan –yang telah lama– dikuasai oleh para pengusaha dengan diberikan izin Hak Guna Usaha (HGU) oleh pemerintah, juga menjadi faktor yang ikut melunturkan tradisi ini, karena kelompok- kelompok masyarakat semakin sulit untuk mempertahankan ladang mereka.


Namum di beberapa tempat atau tepatnya di beberapa gampong di Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, kebijakan lokal ini telah berintegrasi dalam aspek-aspek sosial yang lain, seperti dalam pelaksanaan adat pesta perkawinan (resepsi perkawinan). Budaya tolong menolong masih kentara terlihat dan masih dipertahankan dengan baik. Setiap kepala keluarga bersedia menyumbang dengan jumlah yang sudah ditentukan untuk keluarga yang akan melakukan kenduri. Kegiatan ini terus bergulir ke rumah rumah lain secara alamiah tanpa perbedaan miskin dan kaya. Selanjutanya dalam upacara Kematian; dibentuknya sebuah Serikat Kematian Tolong Menolong (SKTM) atau nama lainnya sesuai kesepakatan masyarakat setempat, di mana rumah yang tertimpa musibah tidak perlu lagi mengeluarkan semua pembiayaan yang dibutuhkan untuk keperluan pemakaman dan hal hal lainnya. Termasuk menggunakan saranan prasana yang dibutuhkan sejak hari pertama sampai hari ketujuh (tenda,kursi dan peralatan dapur lainnya), karena sudah disubsidi silang oleh anggota masyarakat lainnya.


Semoga tradisi warisan leluhur ini tetap dipertahankan dan dikembangkan oleh masyarakat kita dalam aspek dan sisi humanis yang lain, agar terbentuknya modal sosial yang tinggi dalam pola dan corak kehidupan masyarakat Aceh di zaman globalisasi ini.


*)Pemerhati Kebijakan Sosial, Politik dan Pembangunan.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini