ads


Oleh Ahmad Humam Hamid*


Pernahkah atau mungkin lebih tepat, dapatkah Anda membayangkan pekerjaan sehari-hari para dokter dan petugas kesehatan yang menyelamatkan nyawa pasien Covid-19 di ruangan atau bangsal rumah Sakit? Kalau belum nontonlah satu dari banyak film sejarah Kerajaan Roma yang bertemakan gladiator, yakni kisah pertarungan hidup mati para gladiator melawan binatang buas Afrika atau manusia kuat lainnya. Itu adalah pesan rekan baik saya, seorang dokter yang setiap pulang sore dari rumah sakit melayani pasien, menyebut dirinya keluar dari Colosseum.


Saya memutar ulang film Gladiator yang pernah saya tonton produksi tahun 2000, yang disutradarai oleh Ridley Scoott dengan pemeran utama Russel Crowe. Ia berperan sebagai Maximus, seorang Jenderal Romawi yang hebat pada masa Kaisar Marcus Aurelius. Karena persoalan perebutan kekuasaan dan pembunuhan keluarganya, ia sakit, papa dan kemudian menjadi budak. Ia dijadikan gladiator dan bertarung.


Maximus bertarung melawan binatang buas, melawan gladiator lainnya, dan akhirnya ia melawan sang raja. Tidak penting ia tewas pada akhirnya, karena yang menjadi pesan adalah harus ada yang hidup dan yang mati. Dan itu adalah pertarungan pandemi dengan para pekerja kesehatan saat ini, secara global, dan kolosal, di hampir semua rumah sakit di muka bumi.


Seperti diceritakan dalam berbagai literatur dan film, gladiator adalah manusia biasa yang seringkali berstatus budak atau tawanan perang, dan sangat jarang ada manusia bebas. Mereka dipertarungkan dengan binatang singa, gajah, badak, kuda nil,leopard, dan juga harimau. Alternatif lain adalah manusia kuat lainnya. Penontonnya, sekitar 35.000- 50.000 manusia dan Raja Roma. Tontonan gladiator dimulai lebih dari dua abad sebelum Masehi dan berakhir lebih dari dua abad setelah Masehi.


Acara gladiador dilaksanakan di dalam sebuah arena yang disebut colossium. Bangunan itu masih ada sampai hari ini dan menjadi salah satu situs purbakala yang ramai dikunjungi turis. Gladiator yang tampil dengan berbagai senjata hanya punya dua pilihan, membunuh atau dibunuh, hidup atau mati. Perjuangan itulah yang dinikmati sebagai hiburan oleh masyarakat Roma selama hampir setengah milenium. Mereka melihat manusia setengah mati, mati perlahan, mati seketika, erangan kesakitan, wajah yang memelas, wajah menang, wajah kalah.


Pekerja kesehatan kita, terutama yang bertugas sehari-hari di baris depan pelayan pasien Covid-19 bukanlah gladiator. Memang benar di situ ada masalah hidup mati ketika mereka bertugas layaknya gladiator yang berjuang untuk hidup di colossium . Benar ruang dan bangsal tempat mereka bertugas mempunyai kemiripan dengan colosseum. Para pekerja medis juga dilengkapi dengan berbagai alat untuk melindungi dirinya dan mengobati pasien, mungkin sama tapi tak harus serupa dengan alat para gladiator.


Benar suasana ketika mereka masuk ke dalam ruangan, mereka langsung berhadapan dengan”musuh”nya. Dan, benar pula musuhnya yang harus “enyah” atau mereka yang akan dikalahkan. Itu tidaklah lebih dari pintu masuk untuk membuat kita mengerti, memahami, dan mampu mengapresiasi bagaimana mereka “mempertaruhkan” nyawanya untuk memastikan manusia hidup dan kemanusiaan berlanjut.


Ada perbedaan yang sangat hakiki antara gladiator dan para tenaga medis. Gladiator adalah keterpaksaan dari sebuah kesewang-wenangan. Gladiator adalah hiburan yang dibuat oleh raja-raja Roma untuk menghibur sekaligus “melalaikan” rakyatnya agar patuh dan tidak terlalu banyak bertanya, apalagi mengkritisi mereka. Gladiator juga seringkali menjadi instrument “prestise” raja dan kaum bangsawan untuk menyatakan posisi sosial mereka kepada publik.


Berbeda dengan gladiator, para tenaga medis adalah sekelompok manusia yang semenjak memasuki jenjang pendidikan telah dengan sangat sadar memilih profesi itu tanpa paksaan. Dan mereka juga sangat tahu dari dini, bahwa betapun baik buruknya kehidupan yang dijalani, mereka telah bersumpah untuk sebuah tugas suci kemanusiaan, menyelamatkan manusia, t**ik.


Kita tidak tahu secara pasti apakah para dokter yang hidup dan bertugas hari ini lebih beruntung atau tidak beruntung dibandingkan dengan para senior mereka yang telah tiada. Pandemi terakhir yang mengakibat kematian sekitar 50 juta manusia adalah Flu H1N1 yang terjadi satu abad yang lalu. Setelah itu ada beberapa jenis penyakit menular yang sangat mematikan semisal, SARS, Mers, dan Ebola. Tetapi itu terjadi dalam skala terbatas, endemi ataupun epidemi, karena telah dihadang lebih awal oleh ilmu pengetahuan dan kepemimpinan global yang cergas.


Kejadian Covid-19 ini sekalipun tidak sangat mematikan, tetapi menyebar dengan sangat cepat dan menjalar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan hari, minggu, dan bulan. Virus ini telah menghentakkan apapun yang berkaitan dengan kata global; kesehatan, kematian, pangan, ekonomi, keuangan, kemiskinan dan bahkan kekerasan rumah tangga. Inilah musuh besar manusia saat ini, dan musuh inilah yang telah, sedang, dan akan diperangi oleh pekerja medis di seluruh dunia. Mereka tidak akan berhenti sampai musuh ini dihentikan, dan yang paling tragis dalam proses “mengalahkan” ini ada sejumlah pekerja medis yang “kalah” atau “dikalahkan” oleh virus berbahaya ini.


Adalah sebuah sumpah klasik yang telah berumur sekitar 2.500 tahun yang disebut dengan “Sumpah Hipokrates” yang dilafalkan ketika mereka ditabalkan profesinya sebagai dokter. Sumpah itu pula yang mengikat dan memerintahkan para dokter dalam bertugas dengan butir inti “menghibahkan” hidupnya untuk keselamatan kehidupan manusia dan memastikan berlanjutnya kemanusiaan. Itulah yang kini mereka tengah alami.


Bayangkan seorang tenaga medis ketika berangkat berpamitan dengan isteri/suami dan anak-anaknya untuk menyelamatkan nyawa pasien dan berhadapan dengan musuh yang sangat dekat, tidak terlihat, sangat licik, dan sangat mematikan. Berbeda dengan gladiator yang mempunyai misi hanya menyelamatkan dirinya, sang dokter mempunyai misi utama menyelamatkan orang lain, dan sekaligus juga menyelamatkan dirinya.


Ada tiga emosi yang bergelimang seketika, manakala kakinya melangkah ke dalam “colossium” rumah sakit. Ada satu yang mesti dikalahkan, ada dua yang mesti dimenangkan. Sang virus harus kalah, pasien harus selamat, dan dia sendiri harus selamat. Dan emosi itu akan berlanjut dari hari kehari-minggu ke minggu bulan, dan mungkin tahun, dengan kemirisan, kekecewaan, frustrasi, bahkan tak jarang jerit putus asa akibat keterbatasan yang dimiliki. Sekali dua ada kebahagian dan senyuman optimis ketika ada tantangan besar yang dapat dilewati. Tetapi seringkali perasaan itu tak lama karena pandemi mempunyai berbagai wajah dan karena kebaruannya, seringkali ada sesuatu yang tak terduga terjadi.


Satu hal yang tidak boleh diabaikan, pekerja medis adalah manusia biasa dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Seorang dokter perempuan menceritakan kondisi keparahan yang belum pernah dia alami seumur hidup. Kamar operasi telah dikonversi menjadi ICU dengan dokter dari segala macam spesialisasi telah berkumpul untuk mengobati dua sejawat dokter yang telah menjadi pasien Covid-19. Dan hanya dua hari kemudian mereka berduka, mereka telah kehilangan keduanya.


Dokter perempuan itu kemudian mendapatkan dirinya ditulari Covid-19 , dan ia menjadi yakin dia sendiri yang membawa virus itu ke rumah dan membuat suaminya sakit. Sekalipun kedua mereka akhirnya sembuh, tetapi dia merasakan bagaimana rumah sakit telah tak mampu melindungi dirinya dan keluarganya. Kekecewaan itu kemudian menjadi panjang karena ia merasa tidak hanya rumah sakit telah gagal melindunginya, tetapi sistem dan pemerintah yang telah gagal melindungi mereka, pekerja kesehatan dan keluarga mereka.


Cukup banyak dokter dan tenaga medis lain yang menjadikan Covid-19 sebagai pemicu utama “dedikasi” mereka untuk lebih bergiat dalam profesinya melayani pasien. Tetapi semangat itu kemudian berwarna kelam. Ketika mereka sadar ada APD mereka yang tidak lengkap, bahkan mungkin tidak berkualitas.


Seringkali karena keterbatasan alat dan fasilitas mereka tidak bisa berbuat, padahal mereka tahu dan bisa. Mereka menjadi terkurung dalam sebuah penantian panjang tanpa kejelasan. Kapan dan bagaimana akan berakhir, dan itu sangat perih dan melelahkan. Mereka menjadi sangat terpukul ketika melihat ada pasien yang kembali “menghadap-Nya” sendirian tanpa ditunggui oleh yang mencintainya.


Mereka melihat perjuangan untuk kelangsungan hidup yang kadang berhasil, tidak jarang pula yang gagal. Mereka melihat “kematian sunyi” untuk waktu yang belum pasti kapan berakhir. Mereka juga tak jarang menghadapi dilema moral ketika alat yang dipunyai rumah sakit hanya satu, sedangkan yang membutuhkan lebih banyak, dan keputusan harus dbuat untuk siapa? Dan itu adalah beban mental, racun psikis yang akan menjadi residu dan membunuh “perlahan” sepanjang hidup. Kadang harus membawa pesan dari pasien yang meninggal hanya dengan satu dua kata seperti pesan “saya sangat mencintai dia, mereka,dst”.


Pekerja kesehatan, sekuat apapun mereka, ketika kehidupan kesehariannya bergumul dengan semangat, gairah, tetapi seringkali berakhir dengan kecewa, frustrasi, kelelahan fisik, dan psikis. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal JAMA (2020) menyebutkan survey terhadap 1.257 pekerja kesehatan Cina pada Februari 2020 menemukan beban mental yang mereka hadapi yang terbesar adalah depresi 54 persen, kecemasan 44,6 persen, dan insomnia 34 persen.


Kita bisa bayangkan bagaimana kelelahan mental mereka dalam jangka panjang sementara kita belum tahu kapan pandemi ini berhenti. Dalam beberapa bulan terakhir bahkan ada beberapa kasus di Amerika Serikat dan India yang menyebutkan dokter dan pekerja kesehatan yang bunuh diri karena beban psikologi Covid-19 yang tak sanggup mereka tanggulangi.


Di bagian akhir tulisan ini ada baiknya kalau kita sedikit mengetahui statistik para pemegang “Sumpah Hipokrates” yang telah menjadi korbaan keganasan sang virus, ketika menjalankan misi kemanusian mereka yang paling suci. Sebuah penelusuran yang dibuat oleh Amnesty Internasional memperkirakan sampai minggu ke dua bulan Juli 2020,tidak kurang dari 3.000 tenaga medis di seluruh dunia telah meninggal. Di Indonesia, dokter yang meninggal menurut Ikatan Dokter Indonesia sejumlah 61 orang. Sementara itu jumlah perawat yang meninggal menurut organisasi perawat, PPNI, mencapai 39 orang.


Sementara itu, kejadian tragis di Aceh dalam hari hari belakangan ini di mana tiga rumah sakit kabupaten–Bener Meriah, Tamiang, dan Abdya dan rumah sakit Propinsi RSUZA sungguh sangat memprihatinkan. Kejadian ini sungguh memprihatinkan dan tentu saja doa dan harapan kita agar mereka segera sehat dan kembali menjalani tugas dengan baik, Ini adalah “last call” untuk keselamatan para “pahlawan” kita. Hari ini Aceh sudah mulai masuk ke dalam sebuah “pertarungan” panjang yang meminta ketekunan, kesabaran, dan kerja keras. Andalan kita di benteng terakhir adalah mereka, para pekerja kesehatan kita.


Akhirnya, kita mungkin bisa membangun empati kita kepada pekerja medis dengan memahami cerita gladiator, tetapi itu tak lebih dari kulit luar saja. Ada berbagai lapis lain yang perih dan miris yang tak terungkap dari cerita pekerja kesehatan kita. Di babak awal saja sudah mulai melihat dalam beberapa hari ini betapa risiko yang mereka hadapi. Tetapi yang paling penting, terutama bagi pemegang mandat kebijakan publik di daerah, jangan pernah biarkan, apalagi menjadikan mereka sebagai gladiator.


*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.


Catatan redaksi: Lhob Mate Corona merupakan serial tulisan dari Ahmad Humam Hamid–intelektual organik Aceh– yang dikhususkan untuk bahasan tentang Covid-19 yang dianalisa dari berbagai informasi. Juga berisi gagasan, teguran sekaligus jalan keluar yang dapat ditempuh oleh pengambil kebijakan.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini