ads


Oleh Ahmad Humam Hamid*


Kematian, penderitaan, takut, waswas, dan frustrasi adalah sejumlah kata-kata yang sering ditemui di mana-mana ketika pandemi seperti Covid-19 menimpa komunitas, masyarakat, atau negara. Perasaan itu relatif sama di negara kaya dan juga negara miskin, karena semua perasaan itu berasosiasi dengan kesamaan spesies manusia, homo sapiens. Andai saja spesies manusia yang lain tidak punah jutaan tahun yang lalu, semisal manusia neandhertal atau homo erectus dan hidup dalam keberagaman sampai dengan hari ini, ceritanya mungkin saja berbeda.


Pandemi dalam sejarahnya tidak hanya berurusan dengan dampak biologi dan psikologi bagi individu dan masyarakat. Pandemi seringkali menerjang hampir semua aspek kehidupan manusia,tidak hanya pada tingkat lokal, dan juga tidak pada tingkat nasional dan regional. Sama dengan penyebarannya yang sulit dihentikan, dampak non-biologi pandemi seringkali melintasi batas alam dan negara dan baru berhenti-tidak total- ketika tatanan global telah dijamahnya. Namun dampak lanjutan non biologinya terus mengalir dan bahkan dapat mengubah landskap peradaban manusia.


Hampir tidak ada tsunami yang melahirkan pandemi, kecuali beberapa penyakit menular tertentu dengan kasus yang relatif sedikit. Sebaliknya, pandemi selalu melahirkan tsunami, walaupun bukan tsunami dalam arti yang sebenarnya. Kita tidak tahu bagaimana kehidupan manusia dan kemanusiaan akan berlangsung ketika pandemi ini berakhir.Yang pasti kehidupan manusia pasca pandemi ini tidak akan pernah sama lagi dengan kehidupan sebelum terjadinya pandemi.


Kalau tsunami terjadi dalam hitungan jam atau menit dan hanya kawasan tertentu saja yang dilanda, tetapi “tsunami” yang ditimbulkan oleh pandemi berlangsung awal perlahan, kemudian cepat, dan menyapu sampai seisi dunia diubahnya. Kalau tsunami biasa, tidak memberi aba-aba, atau hanya memberi signal untuk waktu yag cepat, pandemi seringkali memberi peluang kepada manusia untuk membuat persiapan menyambutnya.


Perubahan sosial, bahkan perubahan peradaban seringkali ditautkan dengan pikiran-pikiran besar, temuan teknologi, demografi, perubahan lingkungan, dan konflik sosial yang bersakala luas. Bayangkan saja dua benua besar yang telah dijajah berabad-abad oleh negara-negara Eropa meraih kemerdekaan setelah Perang Dunia ke II, dan itu adalah “mega” perubahan global. Itu semua terjadi karena kecanggihan teknologi perang sekutu yang meluluh lantakkan Jerman dan Italia di Eropa, dan mengubur Jepang di Asia.


Banyak penyebab,kemerdekaan di Asia dan di Afrika, dan satu di antaranya adalah kecanggihan teknologi perang yang membuat sekutu menang. Hal itu berdampak politik yang dalam dan luas. Indonesia saja misalnya tidak harus bersyukur dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, karena kematian dan penderitaan yang terjadi bukanlah pada tentara Jepang, tetapi kepada ratusan ribu warga sipil kedua kota itu. Indonesia juga mungkin tidak harus berterimaksih kepada Amerika Serikat yang telah mengeksekusi kedua kota Jepang itu. Namun dapatkah kita bayangkan kemerdekaan Indonesia dan negara-negara Asia lain tanpa teknologi canggih itu?


Perubahan yang terjadi akibat datangnya pandemi juga tidak kurang kalah hebatnya dari akibat yang ditimbulkan oleh teknologi ataupun faktor yang menjadi sumber perubahan sosial lainnya. Kelahiran Eropa modern yang mempunyai asosiasi dengan revolusi Industri, kapitalisme modern, dan penjajahan Asia, Afrika, dan Amerika, sesungguhnya berutang besar kepada pandemi di Eropa yang terjadi pada pertengahan abad ke-15.


Berbeda dengan deskripsi kelahiran kapitalime modern yang ditulis secara deskriptif historis oleh banyak sekali penulis, sebuah kajian komprehensif matematis yang dibuat oleh Voigtländer dan Voth( 2013) mengambarkan akar kebangkitan Eropa modern dengan pandemi black death yang terjadi pada tahun 1447-1451 Dengan model matematika yang canggih, ditambah dengan keluasan dan kedalaman pendekatan kualitatif, kajian itu memperlihatkan bagaimana pandemi black death 1447-1451 menjadi pemicu awal yang besar dan terus bergerak dalam merobah benua Eropa.


Black death yang terjadi di Eropa sesungguhnya terjadi akibat dari penyebaran bakteri Yersinia Pestis yang di dalam kosakata bahasa Indonesia disebut dengan penyakit pes atau sampar. Kematian yang cukup besar di Eropa– antara sepertiga sampai setengah penduduk Eropa–telah menyebabkan hancurnya sistem ekonomi feodal, akibat kematian buruh tani dan petani miskin yang jumlahnya sangat besar di kawasan pedesaan.


Jika Malthus mengemukakan perubahan sosial terjadi karena ledakan penduduk, kasus black death, justeru membuktikan sebaliknya. Perubahan sosial yang terjadi Eropa selama tiga abad dan mencapai puncaknya pada abad ke-18 terjadi karena kematian penduduk, atau kematian penduduk dalam jumlah besar.


Kematian penduduk akibat black death telah membuat keseimbangan baru di pedesaan Eropa. Keadaan sebelum pandemi dengan penduduk pedesaan yang banyak telah membuat para aristokrat dan feodal benua biru menikmati buruh murah dan sewa tanah mahal kepada masyarakat miskin yang mayoritas. Kematian yang cukup banyak membuat kawasan pedesaan kehilangan warganya dalam jumlah yang banyak,dan itu membuat tenaga kerja yang tersedia sangat sedikit sehingga upah buruh menjadi sangat mahal.


Tidak hanya berhenti di upah buruh tani yang naik mencapai tiga ratus persen lebih, nilai sewa tanah yang sebelumnya sangat tinggi, juga ikut berubah secara lebih adil, untuk tidak mengatakan lebih menguntungkan si penyewa. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya ekonomi pedesaan yang terkait dengan kota yang sebelumnya dimonopoli oleh para aristokrat, kini mulai dinikmati oleh penduduk biasa pedesaan-buruh dan penyewa.


Perubahan struktur sosial ekonomi pedesaan akibat kematian itu kemudian mempunyai implikasi lanjutan seperti air bah yang tidak berhenti. Surplus pedesaan yang relatif besar, dinamis, dan merata membuat aliran uang dan barang antara kota dan desa menjadi lebih masif. Akibat dari monetisasi pedesaan di hampir semua kawasan Eropa, secara perlahan Eropa mulai berpindah dari ekonomi kapitalis klasik, -kapitalis feodal, kapitalis agraria, kapitalis merkantilis- menjadi kapitalis modern pada abad ke-18.


Keunikan pandemi melahirkan Eropa modern walaupun ditulis oleh Voigtländer dan Voth( 2013) dalam model matematika yang rumit, dalam penjelasannya seperti membaca hikayat Malem Diwa mengawini Putri Bunsu di negeri Antara. Kenapa tidak? Uraian itu menggambarkan tragedi, frustrasi, dan prestasi, dan itu adalah Malem Diwa. Tulisan itu memang mengalamatkan pandemi dengan kenaikan upah buruh pedesaan, akan tetapi kejadian itu kemudian memfasilitasi tumbuhnya kota-kota besar, memperlancar perdagangan, dan menjadikan Eropa mengalami perang selama dua abad lebih.


Kata kunci dalam kebangkitan Eropa dan awal kelahiran kapitalisme modern adalah pandemi black-death yang memfasilitasi perdangangan, urbanisasi, dan perang. Berpindahnya episentrum perdagangan Eropa di Italia dari kota klasik sepanjang laut Mediterania di kota-kota Florence dan Tuscany, bahkan Valencia di Spanyol ke Amsterdam, Antwerpen, dan London pada hakikatnya berhubungan dengan kuatnya permintaan barang produksi non pertanian kota yang mengalir ke pedesaan yang dimungkinkan oleh surplus dan pendapatan tinggi masyarakat desa.


Dengan skala hinterland yang luas dan infrastruktur kota yang lebih baik Belanda dan Inggris mulai mengalahkan Italia Selatan sebagai pusat perdagangan dan fenomena urbanisasi besar-besaran mulai terjadi. Di samping alasan infrastruktur, kemudahan dan atraksi kehidupan perkotan, upah buruh yang tinggi di perkotaan juga menjadi daya tarik sendiri bagi penduduk pedesaan untuk pindah ke kota. Dan ini menandai proses urbanisasi besar-besaran Eropa.


Konsentarsi manusia yang tinggi di perkotaan Eropa pada masa itu, dan belum berkembangnya sistem sanitasi kota yang andal kemudian menimbulkan persoalan baru. Kota-kota besar Eropa, terutama kota-kota perdagangan yang sesak kemudian menjadi ajang tumbuhnya pandemi, yang terus menerus membuat kematian warga dan tersebar di seluruh Eropa. Black-death memang berhenti pada tahun 1451- tetapi selama lebih dari tiga abad setelah kejadian itu black death kecil terus menerus terjadi. Data yang dikumpulkan oleh Yue, Lee, dan Wu (2017) terhadap 20 kota perdagangan Eropa menunjukkan antara 1347–1760 semua kota itu mengalami serangan wabah yang membawa kematian signifikan. (Bersambung)


*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini