ads


Oleh Ahmad Humam Hamid*


Perbedaan mendasar antara virus dengan manusia secara awam dapat digambarkan dalam satire kelas ringan. Bahwa virus tidak bisa berpikir, tidak bisa bertanya, tidak bisa bertukar informasi, tidak mampu membuat Zoom conference, tidak bisa membuât percobaan laboratorium, dan tidak mempunyai sekolah dan ilmu tentang biologi manusia. Virus juga tidak punya asosiasi, dan tidak punya kota, negara, dan bahkan perkumpulan negara semisal ASEAN atau WHO yang multilateral. Virus juga tidak mempunyai vaksin untuk menghentikan manusia apalagi mempunyai persiapan secara sistematis untuk membasmi manusia dari muka bumi.


Sebaliknya, apa yang tidak dimiliki oleh manusia? Akal yang cukup, sekolah mulai dari PAUD sampai dengan sekolah tinggi, kajian advance dan canggih. Manusia membuat pohon ilmu, dan cabang ilmu dengan spesialisasi tidak berhenti di ilmu besar saja. Mikrobiologi saja misalnya, bahkan dibagi lagi kepada berbagai jenis makhluk halus itu. Tidak cukup di situ, seluruh ciptaan Tuhan di muka bumi menjadi objek pengetahuan dan penguasaan manusia. Lebih dari itu, ada juga keahlian untuk menggabungkan semua ilmu untuk mengatasi berbagai persoalan manusia yang disebut dengan multidisiplin.


Bayangkan saja kalau virus bisa berkomunikasi, bermusyawarah seperti berteleconference sesamanya, bisa membuat langkah menyerang lalu bersembunyi. Misalnya saja mereka mengalah di tiga negara di ASIA yang maju–Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan–dan satu yang sedang berkembang–Vietnam. Atau “perkumpulan Covid-19 internasional” bersepakat hanya menargetkan Cina sebentar, kemudian masuk ke Eropa, AS, dan Brazil. Kemudian datang ke India, sedikit melunak di negara bagian Kerala, kemudian singgah di Pakistan dan Bangladesh.


Dari ilustrasi ini semakin tampak, persoalannya semua terpusat pada manusia dengan segala kapasitas yang dimilikinya. Peduli, belajar, bertanya, terbuka, berkomunikasi, dan yang paling penting, bijak. Bukti yang ada telah menunjukkan bahwa angkuh, dan tak peduli, tidak mau belajar, dan tidak mau bekerja sama adalah apa yang membuat manusia kalah dari virus, walaupun manusia itu hebat, bahkan negara superpower sekalipun.


Mari kita mulai dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan di mana pemakaian masker telah menjadi bagiaan dari kehidupan sehari-hari, terutama di daerah perkotaan. Pengalaman wabah SARS beberapa tahun yang lalu cukup membekas di negera-negara itu sehingga hal itu menjadi bagian yang menonjol dari literasi kesehatan publik. Kesadaran dan pengetahuan publik inilah yang menjadi modal besar yang mereka miliki yang kemudian memudahkan pemerintah dalam menangani pandemi.


Walaupun tingkat pengetahuan dan keasadaran publik Vietnam tidak setinggi masyarakat masyarakat Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan, tetapi kesiapan dan kesigapan pemerintahnya telah membuat negara itu berhasil keluar dari kepungan Covid-19 tahap pertama. Kerala di India sama sekali tidak dapat disamakan dengan ke empat negara Asia itu, namun peran besar pemerintah pada tahap awal dalam mengantisipasi dan menanangani pandemi telah membuat Kerala berbeda dari negara-negara bagian lain di India.


Pelajaran penting dari kasus keberhasilan di sejumlah negara dan kawasan di Asia itu menunjukkan pendulum pemerintah dan masyarakat menjadi kunci penjelas penanganan pandemi dengan porsi yang beragam. Untuk kasus pendulum berimbang, di mana bobot masyarakat dan negara relatif berimbang dan bertemu, maka Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan adalah contoh yang paling prima.


Kelebihan Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan dibandingkan dengan Vietnam dari segi pengalaman SARS memang sama, akan tetapi tingkat kemajuan sosial ekonomi berbeda, di mana masyarakat Vietnam masih tertingga jauh dibandingakn dengan ketiga negara itu. Akan tetapi, peran sentral Pemerintah Vietnam sungguh menjadi faktor utama yang diikuti oleh partisipasi publik membuat Vietnam–walaupun masih kategori negara berkembang berhasil–bahkan menjadi salah satu juara penangangan Covid-19 inernasional.


Kerala adalah contoh pemerintah daerah, dalam hal ini negara bagian di India yang “berbeda” dari negara-negara bagian lainnya di India. Pemerintah Kerala memahami keterbatasannya sekaligus kekurangan masyarakatnya. Tingkat sosial ekonomi dan kondisi industrial yang berbeda dengan Vietnam, tetapi pemerintahnya dengan sangat sungguh-sungguh dan berupaya mengadopsi kebijakan yang kelihatnnya “keras” pada tahap awal, namun kemudian menjadi salah satu penyumbang keberhasilannya dibandingkan dengan kawasan lain yang serupa. Dalam konteks negara dan pemerintahan lokal, inovasi yang dibuat oleh Kerala membuktikan bahwa kelemahan dan kekurangan yang ada pada masyarakat, akan tertutupi dengan sikap, peran, dan kapasitas pemerintah yang terbuka dan kuat.


Perang manusia dengan pandemi sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dengan berbagai serial yang berselang waktu. Manusia pernah mengalami masa-masa suram, ketika ilmu dan tehnologi yang dimiliki tidak memadai untuk melawan pandemi, seperti yang terjadi dengan kematian akibat black death di Eropa pada awal abad ke-14.


Harari (2020) yang mengutip Horrox (1994) menguraikan para ahli di Universitas Paris tidak tahu tentang makhluk kecil penyebab kematian sekitar 75 sampai dengan 200 juta juta jiwa manusia pada masa itu, dan sama sekali tidak tahu bagaimana mengatasinya. Ilmuwan Universitas Paris menyebutkan adalah keterhubungan tiga planet besar–Saturnus, Mars,dan Jupiter–pada tingkat 40 derajat dari Aquarius yang menyebabkan perubahan udara yang menyebabkan penyakit yang membawa kematian massal itu. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang makhluk super kecil yang bernama bakteri, apalagi virus.


Adalah ilmuwan Swiss-Perancis, Alexander Yersin yang menemukan bakteri itu pada tahun 1894 ketika wabah itu meledak di Hongkong. Butuh waktu hampir 600 tahun untuk ditemukan penyebab kematian yang disebabkan oleh bakteri Yersenia Pestis yang disebarkan oleh kutu melalui mamalia seperti tikus sekaligus dengan cara mengatasinya.


Cerita black death sangat berbeda dengan pandemi Covid-19 seperti yang sedang kita alami pada saat ini. Ketika kasus pertama di Wuhan ditemukan, hanya butuh waktu dua minggu para ilmuwan telah menemukan namanya-Covid-19 berikut dengan informasi genomnya. Ilmuwan juga segera mengetahui infeksi yang ditularinya kepada manusia melalui test laboratorium yang akurat dan kredibel.


Imuwan saat ini tidak berhenti hanya dengan identifikasi virus, mereka mengembangkan berbagai tehnik “memperpanjang permainan”–masker, karantina, social distancing, cuci tangan,dan lain lain, sambil menunggu ditemukannya vaksin. Kreativtas lain juga dikembangkan untuk membendung dan menghentikan sang virus semisal peningkatan kehigienisan, infrastruktur, dan alat kesehatan yang semuanya ditujukan untuk memenangkan manusia melawan virus yang sangat berbahaya ini.


Apa yang terjadi di dunia pada hari ini tidaklah sepenuhnya berjalan linear dengan berbagai temuan ilmuwan yang idealnya dapat mengendalikan virus, bahkan pada tingkat global sekalipun. Kesalahan manusia, baik sebagai komunitas, maupun sebagai kumpulan besar warga negara adalah sesuatu yang selalu melekat pada setiap zaman. Akan tetapi kesalahan, atau kealpaan sekelompok manusia yang mendapat “mandat” untuk menjaga dan menyelamatkan pemilihnya adalah penyebab terbesar malapetaka pada hari ini.


Kesalahan itu, bahkan di negara yang mempunyai jumlah ilmuwan terbanyak dan tercanggih sekalipun belum menjadi jaminan untuk memberikan keselamatan warganya. Tragedi menimpa mereka ketika pemimpin yang mereka miliki tidak peduli dengan ilmu pengetahuan, tidak mau mengengar, dan tidak mau bekerjasama dengan semua pihak yang berkontribusi untuk pengendalian pandemi ini.


Di banyak tempat kegagalan menangani Covid-19 berakar dari satu kata, “kepercayaan”. Ketika pemegang otoritas tidak percaya dan tidak mau mendengar para ahi, ketika itu pula akan lahir ketidakpercayaan publik kepada mereka. Dari situlah kemudian ketidakpercayaan “beranak pinak” yang berlanjut kepada krisis. Di mana banyak ketidakpercayaan, di situ pula tidak akan ada kerja sama, dan saat itulah sang virus akan menang. Mudah-mudahan tidak ada tempat di Indonesia apalagi di Aceh, virus menang melawan manusia dan pemerintah.


Di masa depan Wikipedia akan terus berkembang, bahkan dengan penjelasan yang sangat deskriptif, runtut, dan rinci. Ketika pandemi ini nanti berakhir muda-mudahan topik Covid-19 tidak akan ada kata Aceh, atau Indonesia di situ. Boleh saja ada, tetapi dengan cerita yang baik-baik saja.[]


Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh


Editor : Ihan Nurdin

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini