ads


Oleh: Novita Sari*


Tulisan ini merupakan respon pada suasana hari raya Idul adha untuk pertama kalinya kita merayakannya pada situasi pandemi Covid-19. Hujan gerimis jatuh pagi itu seperti intuisi akan kehilangan Gayo sebagai salah satu negeri yg tua, namun seberkas cahaya menjadi petunjuk bahwa masih ada ruang bagi kita berbenah diri.


Para pengkhotbah menjelaskan makna kurban tidak lagi fokus pada cerita Nabi Ibrahim AS yang akan mengorbankan anaknya Nabi Ismail AS, tetapi dengan suara tinggi menyerempet kepada kekuatan makhluk Allah yang dianggap lemah yang bisa merubah tatanan dunia seketika.


Begitulah Allah merahasiakan misteri kematian terhadap manusia agar berupaya untuk hidup. Bisa jadi ketika pada saatnya kita selamat akan berkata “Gayo” yang bermakna selamat atau sehat walafiat. Sebagai mana beberapa pasang manusia ketika banjir pada masa Nabi Nuh AS, orang yang pertama keluar dari bahtera itu juga berucap “Gayo”.


Hari ini berita cepat sampai yang bagi kita harus pandai-pandai mencari kebenarannya. Kejahatan pada hari ini bukan lagi didominasi para koruptor, pencuri dan penipu, tetapi kabar jalanan yang berisi berita hoax. Rasanya ingin mengadu langsung pada Ilahi dari seluruh berita yang bersileweran; berikan petunjuk-Mu manakah berita yang benar?


“Nyanyian corona” kadang lebih merdu terdengar di telinga bagi para “ahli koruptor” yang menjadi peluang baginya untuk menjadikan dana pencegahannya sebagai bancakan. Sungguh terlalu!


Sementara di kampung-kampung ketakutan menggoda iman. Sebagian menganggap covid-19 hanya candaan, ada yang menganggap mengada-ada. Sehingga melahirkan prilaku sosial baru yakni “ukang”.


Itulah penyakit sosial “ukang” barang baru stok lama merusak sistem kehidupan. Percayalah corona adalah makhluk Allah berupa “tetakut“ tetapi kita sok berani dengan melanggar protokol kesehatan; tidak bermasker saat keluar rumah, tidak jaga jarak, tidak mencuci tangan dengan sabun. Kita hidup dalam “new normal” di mana sedang diadu imunitasnya.


Kita sekarang berada dalam suasana “homo homini lupus” hanya yang kuat yang bertahan hidup dan kekuatan itu ada pada prilaku kita. Tidak saja hanya bersandar “terserah kepada Allah”. Pernyataan yang lebih kepada “ukang” dari pada berserah kepada-Nya.


Kecenderungan garis grafik semakin naik yang terpapar corona di negeri kita harus memaksakan diri untuk diam saja di rumah kalau tidak ada kepentingan mendesak. Bersyukur kita saling mengingatkan melalui story WA dan media sosial sebagai motivasi agar terbangun kesadaran dalam menjaga protokol kesehatan untuk memutuskan mata rantai covid-19.


Di ruang lain sesama kita juga membagi edukasi dan literasi kepada masyarakat tentang bahaya corona yang jika “ukang” bisa memusnahkan peradaban. Sehingga akan menimbulkan kesadaran kolektif bahwa negeri tua ini harus diselamatkan agar sejarah kita dibelokkan dengan “teori sucsesor state.”


Pada hari ini, percayakan? Allah tidak malu menciptakan makhluk yang rendah, seumpama nyamuk bahkan lebih rendah lagi, yakni corona “mengajarkan” kita bahwa kekuatan itu tidak bergantung kepada fisiknya, tetapi daya “bunuhnya” yang dahsyat yang menyebabkan ratusan ribu orang mati dan terus berlangsung karena vaksinnya belum ditemukan sampai saat ini.


Akhirnya setelah dengan segala daya upaya kita untuk selamat dari terpapar corona baru kita “ngalah” yang hakikatnya berserah kepada Allah. Benar Allah yang menciptakan negeri ini, tetapi penataannya itu bergantung kepada manusia. Nah, kalau negeri tua Gayo ingin diselamatkan maka patuhi protokol kesehatan. []


The post Corona ; Pesan Runtuhnya Negeri Tua appeared first on LINTAS GAYO.

ads
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini