TRIBUNBARAT.COM - Suatu malam, Fina baru saja pulang setelah menghabiskan dua belas jam di kantor. Rapat berturut-turut yang disusul penyelesaian tugas-tugas yang mendekati tenggat waktu menguras habis energinya. Jika tak diingatkan rekan kerja petang tadi, ia akan benar-benar alpa menyumpal perutnya dengan makanan seharian. Di pikirannya, sesampai di rumah, ia hanya ingin rebahan sampai pagi menjelang, sebelum rutinitas kembali dijalaninya.

Namun, itu cuma bisa dilakukan Fina lima tahun silam, sebelum ia menikah dan memiliki dua anak. Baru saja ia membuka pintu, terdengar tangisan si bungsu dari kamar. Sang asisten rumah tangga yang menggendongnya sudah berusaha menenangkan sejak sejam lalu, tetapi hasilnya nihil. Tak ada pilihan lain, Fina mesti mengurus dulu anaknya yang ternyata tengah demam tinggi. Mustahil pula meminta bantuan suaminya karena saat itu, ia sedang berdinas di luar kota untuk seminggu ke depan.

Dari ruangan lain, si sulung menghambur ke arahnya, merengek minta Fina membenarkan mainannya yang rusak. Sementara Fina masih sibuk menyiapkan kompres untuk si bungsu, si sulung tidak henti-henti menarik tangannya. Perempuan itu meledak. Ditepisnya genggaman si sulung seraya berteriak menyuruh anak itu berhenti bermain dan masuk kamar. Tangis kedua pecah dari si sulung.

Suasana kian riuh, tidak hanya di rumah Fina, tetapi juga di kepalanya sampai beberapa hari berikutnya. Satu per satu pekerjaan Fina telantar. Teguran atasan mengekor, pun demikian dengan depresi Fina yang membuatnya tak bersemangat berinteraksi dengan anak-anak.

Kisah ini adalah ilustrasi tekanan yang kerap mendatangi orangtua, terlebih ketika ia memanggul beban ganda sebagai pekerja. Dalam survei yang dilakukan Pew Research Center tahun 2015, terdapat temuan bahwa 60% ibu menyatakan sulit untuk menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga, terlebih ketika mereka bekerja penuh waktu. Lebih lanjut dari survei tersebut juga dinyatakan, dari bapak dan ibu yang merasa sulit menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga, 39 persen mengaku menjadi orangtua itu melelahkan dan 32 persen merasakan tanggung jawab tersebut memberikan tekanan dalam hidup mereka.

Lebih banyaknya ibu yang mengaku kesulitan mengimbangi kehidupan karier dan keluarga dapat disebabkan oleh tuntutan dalam masyarakat untuk menerapkan peran gender tradisional. Sampai kini, perempuan masih diharapkan mengambil porsi lebih besar untuk urusan domestik sekalipun ia berkesempatan menjajal ranah profesional. Ketika ada hal-hal di rumah yang terbengkalai, perempuan sering kali menjadi pihak yang pertama kali disalahkan atas kesalahan tersebut.

Orangtua semakin mungkin mengalami tekanan atau depresi ketika ia menjadi pejuang tunggal dalam mengurus anak-anaknya. Dikutip dari data Child Trends, tahun 2013, 11% orangtua tunggal menunjukkan gejala-gejala depresi. Persentase ini lebih besar 6 poin dibanding orangtua lengkap.

Di samping beban ganda orangtua, mereka yang dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus juga rentan terkena depresi. Sejumlah penelitian menemukan, orangtua atau pengasuh yang menangani anak-anak seperti itu mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Dalam studi di Oman yang dimuat di jurnal Neuropsychiatric Disease and Treatment  tahun 2016 dikatakan, 46% orang yang mengasuh anak dengan autism spectrum disorder (ASD) tercatat mengalami depresi. Hal ini ditandai dengan adanya pengabaian diri, kehilangan semangat, murung, pemikiran bahwa hidup tidak berarti, atau sulit merasa senang dan puas. Orang yang mengasuh anak dengan ASD juga dilaporkan mengalami kecemasan lebih tinggi.

Selain status orangtua tunggal dan orangtua anak dengan kebutuhan khusus, masalah finansial dan konflik dengan pasangan juga memberi sumbangsih terhadap stres orangtua.

Dampak Buruk Orangtua Depresi pada Anak-anakshare infografik



Stres pada orangtua bukanlah hal sepele. Tidak hanya dirinya sendiri yang mendapat imbas dari masalah psikologi ini, tetapi juga anak-anak yang diasuhnya. Erlanger A. Turner, psikolog klinis dan asisten profesor Psikologi dari University of Houston-Downtown, menuliskan di Psychology Today, dari studi-studi terdahulu ada temuan bahwa orangtua dengan stres tinggi berkemungkinan menjadi otoriter, kasar, dan berinteraksi secara negatif dengan anaknya. Stres ini pula yang bisa menyebabkan berkurangnya kualitas relasi orangtua-anak.

Anak-anak adalah makhluk pengimitasi perilaku orang dewasa. Saat orangtuanya gagal mengelola stres dengan baik atau kerap melampiaskan emosinya dengan cara tidak sehat, anak akan menirunya di kemudian hari.

Hal ini lantas dapat berdampak terhadap kehidupan sosial si anak. Tindakan penuh emosional yang dilakukan orangtua depresi akan memengaruhi cara pandang dan kepercayaan anak terhadap orang-orang lain yang ditemuinya kelak. Ini pula yang bisa menimbulkan efek terhadap penilaian diri seorang anak ketikan membawakan diri di depan lawan interaksinya.  

Ditilik dari aspek gender, ibu yang stres bisa memicu anak-anaknya mengalami kesulitan belajar, punya masalah perilaku, bahkan mendapat masalah kesehatan termasuk kesehatan jiwa. Sedangkan menurut studi dari Michigan State University, kondisi stres seorang ayah bisa berdampak buruk terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak yang berusia 2-3 tahun sekalipun ibunya telah memberi pengaruh positif kepada si anak.

Studi lain yang dikutip Health.com menyebutkan, mereka yang dibesarkan ibu dengan catatan medis depresi berat lebih potensial mengalami depresi pada usia 19-24. Di lain sisi, anak-anak laki-laki yang memiliki ayah depresi bahkan berkemungkinan memiliki pemikiran bunuh diri.

Begitu signifikannya pengaruh depresi orangtua terhadap kehidupan anak, perlu ada strategi tertentu untuk mengendalikannya. Pertama, mencari support group yang bisa meredakan situasi emosi orangtua, termasuk di dalamnya kehadiran pasangan dan anggota keluarga yang mendukung alih-alih serba menyalahkan. Ketika sudah menemui orang-orang yang dipercaya mampu membantu masalah psikologisnya, orangtua bisa mulai menceritakan hal-hal yang mengendap di kepala atau perasaannya. Semakin lama ia membiarkan stresnya terpendam, makin buruk efeknya terhadap diri sendiri dan anaknya.

Karena tanggung jawab sebagai orangtua seringkali lebih diutamakan, sebagian dari mereka kerap melupakan kebutuhan psikis mereka sendiri. Padahal, ketika mental tidak dalam keadaan prima, segala hal yang dilakukan untuk orang lain pun tidak akan maksimal hasilnya. Fokus pada pemulihan diri sendiri, psikis dan fisik,—seperti dengan cara mengambil jeda dari rutinitas—adalah hal yang tidak kalah penting untuk menanggulangi depresi dan menciptakan relasi dengan keluarga yang lebih baik. 

SUMBER: https://tirto.id/dampak-buruk-orangtua-depresi-pada-anak-anak-cBz2
Bagikan:

1 comments so far,Add yours

  1. PENGUMUMAN !!!
    Untuk Merayakan Natal 2017 dan Menyambut Pergantian Tahun 2018
    www(titik)pokerayam(titik)org ingin memberikan info
    Deposit 50 ribu FREE 50 ribu loh !!!
    Berlaku pada 1 Des 2017 - 1 Januari 2018
    Hanya 100 User ID Beruntung jangan ketinggalan
    Masih banyak promo lainnya juga loh

    info keberuntungan lebih lanjut
    BBM : D8C0B757
    Line : pokerayam
    Whatsapp : +85587646043

    ReplyDelete