TRIBUNBARAT.COM - Janda kembang itu bernama elis dari desa. Ia mengaku pernah menikah dengan suaminya hanya beberapa hari. Suaminya adalah seorang muslim yang sangat fanatik serta taat beragama. Elis bercerita panjang lebar padaku didepan kamar kost. Kost kost-a kecil sederhana terdiri dari beberapa lokal. Sumpek. Kadang air of kamar mandinya sering macet. Aku masih dengan setia mendengarkan keluhnya yang ia alami selama ditinggal suami. Sejak itu pula ia dianggap oleh masyarakat resmi sebagai janda. Hujan mulai merintik seolah menawarkan diri untuk menghangatkan perbincanganku bersama elis. Sedikit half sedikit suara elis semakin kecil. Terbagi dengan suara pukulan hujan menimpa atap seng kost itu, memasuki gendang telingaku. Kucoba merapat ke depan wajah ayunya agar lebih jelas lagi kudengar ceritanya. Menarik. Aku dibuat seolah tersihir mulut manisnya. Tak sepatah katanya pun kulewatkan.

 aku masih ingat betul hari pernikahan kami, jum, at sebelasember. Suasanaya persis seperti sekarang. Hujan tak gerimis juda tak lebat. Jika boleh dikata hujan sepoi - sepoi.Ã ¢ â,¬ Hahahaha hayk ku terah basah saat menangkap kata katanya. Elis memang orangnya humoris, Cerdas dan baik hati pula. Kadang saat ku pulang dari kantor, kehujanan, tengah malam ia dengan rela menukar mimpinya untuk membukakan pintu gerbang lalu membuatkanku secangkir kopi hitam. Ia tau persis aku belum memiliki kekasih. Yang ia tahu hanya aku pernah ditnggalkan menikah dengan wanita idamanku. Lalu setelah itu aku bertekad untuk tak bercinta lagi. Kami berdua layaknya dikata sejoli tanpa berketerangan yang sah. Tak pernah saling nyatakan cinta hanya saja mata memandang seolah saling menawarkan rasa. Bintik hitam dibawah matanya selalu kulirik lebih awal sebelum ia membalas pandanganku. Salahkah aku jika memandangnya seperti itu tanyaku dalam hati. Hujan sedikit mereda. Aku memperbaiki cara duduk ku dan handuk penutup badanku. Waktu itu memang aku hendak masuk kamar mandi namun entah kenapa aku memandang keluar. Dari dalam kamar aku melihat bokong elis yang begitu indah. Ia menghadap halaman sambil memandangi gerimis - gerimis yang jatuh ke tanah. Kudekati dengan pelan dan berdiri disampingnya.

Ia bahkan kaget melihatku tak berbaju dan hanya bersarungkan handuk. Ia malah mengajakku duduk berbincang pada teras kost itu. Santoso suamiku. Ia pergi begitu saja. Tak boleh tidak. kehendak tuhan tak boleh ditentang. Aku harus mengikhlaskannya. Ia adalah sosok yang taat kepada tuhan. Ia bahkan menuntunku beribadah dengan rajin. Saat seminggu setelah akad nikah ia meninggal karena kecelakaan lalulintas. Aku dikabarkan dari pihak rumah sakit bahwa nyawanya telah pulang. Tangisku mendidih darahku membeku. Janji yang telah kami ikrar terpotong nasib. Janjiku bersamanya adalah menciptakan kehidupan di jalan yang diridahai Allah subhanahuwataala. Naas memang. Kami belum berperang dan membunuh ribuan syaithan dalam semalam. Semua itu hanya karena harus menunggu selama 40 hari dahulu. Dai bernazar ingin memiliki anak yang shaleh. Tetapi apa yang terjadi bukanlah semata tidak ku terima. Sayang sekali aku belum pernah merasakan nafkah batin itu sendirià ¢ â,¬. Sulit dipercaya memand seorang janda yang masih perawan. Aku kebingungan harus mendengarnya dengan cara bagaimana. Kakiku sudah terlalu lama mendengkur. Keram. Kucoba menggerak - gerakkannya perlahan. Aku semakin kasihan.....BERSAMBUNG

Sumber:google.com
Bagikan:

1 comments so far,Add yours

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete