TRIBUNBARAT.COM - KAMARUDDIN terbaring lemah di atas gerobak sawit saat ditemui Serambi di rumahnya di Desa Bulusema, Kecamatan Suro, Aceh Singkil. Kedua kaki dan tangan pria berkulit putih tersebut tidak bisa digerakkan sejak usia 10 tahun. Jangankan untuk jalan, sekadar duduk saja ia tidak bisa. Segala aktivitas termasuk ke kamar mandi laki-laki berusia 24 tahun itu harus digedong Hani, kakak kandungnya yang telaten merawat.

Penyakit lumpuh pada dua anggota badan itu mulai dideritanya pascademam tinggi ketika kelas 3 SD. Seiring berjalan waktu kedua kaki serta tangannya terus mengecil, tak sanggup lagi digerakkan. “Sejak itu sekolah berhenti dan harus hidup di atas gerobak dorong,” kata Hani, Rabu (12/7) lalu.

Pihak keluarga menempatkan Kamaruddin di atas gerobak dorong yang biasa digunakan mengangkat tandan buah segar kelapa sawit. Ini dilakukan agar anak kedua dari empat bersaudara pasangan almarhum Sabirin dan Nana ini mudah dipindahkan. Untuk mengangkat tubuhnya yang terlihat bongsor perlu tenaga ekstra.

“Pakai kursi roda tidak bisa duduk. Untuk memudahkan kalau ingin ke luar rumah atau kamar mandi sehari-hari berbaring di atas angkong (gerobak dorong),” ujar Hani yang setia menemani adiknya. Upaya pengobatan telah dilakukan pihak keluarga. Namun keterbatasan ekonomi memaksa keluarga hanya mengandalkan obat tradisional.

“Pernah datang petugas dari kesehatan menyarankan dibawa ke rumah sakit, tapi kami tidak ada biaya,” katanya dengan suara terbata-bata. Pihak Puskesmas Suro, menyatakan telah beberapa kali meminta keluarga membawa Kamaruddin ke rumah sakit. Sebab berdasarkan diagnosa penyakit yang dideritanya tidak mungkin dapat ditangani di Puskesmas.

Sayangnya, pihak keluarga belum bersedia, dengan alasan tidak memiliki biaya. Hani berharap, Pemkab Aceh Singkil, dapat membantu memfasilatasi pengobatan adiknya.

SUMBER: http://aceh.tribunnews.com/2017/07/18/sejak-kecil-kamaruddin-hidup-di-atas-gerobak-sawit
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini