TRIBUNBARAT.COM - Peneliti yang juga ahli gempa dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Nazli Ismail PhD meminta pemerintah Aceh melestarikan Guha Ek Leuntie dekat pantai di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Aceh Besar. Gua yang menyimpan bukti tsunami purba (paleotsunami) itu diharapkan dapat menjadi situs cagar dan pusat edukasi tsunami.

Nazli Ismail menyampaikan hal ini dalam konferensi pers “Pelestarian Gua Pantai yang Menyimpan Bukti Tsunami Purba Selama 7.400 Tahun Sebagai Museum Alam”, Senin (31/7) di Balai Senat Unsyiah. Hadir dalam kesempatan itu Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal MEng, dan peneliti tsunami dari Georgia Institute of Technology, Prof Hermann M Fritz.

Nazli Ismail mengatakan, Guha Ek Leuntie menyimpan bukti tsunami purba di Aceh sejak 7.400 tahun lalu. Menurutnya, bencana tsunami di Aceh selalu berulang dengan periode yang beragam. “Dengan mempelajari bukti tsunami purba di dalam gua ini, maka para ahli akan terbantu untuk memecahkan teka-teki tsunami di masa depan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dirinya bersama tim dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, telah berhasil mengidentifikasi lapisan pasir yang bersusun silang dengan endapan tahi kelelawar yang mengendap akibat peristiwa tsunami masa lalu. “Melalui penentuan umur radioaktif karbon dan analisis fosil mikroskopis dalam pasir, kami akhirnya mampu merangkaikan kembali tsunami purba,” jelasnya.

Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal MEng mengatakan, pihaknya mendesak semua pihak terkait untuk menyelamatkan situs tsunami purba itu. Pasalnya, gua tersebut sangat penting untuk pembelajaran ke depan terkait mitigasi bencana. “Selain itu cagar budaya seperti peninggalan Kerajaan Lamuri juga perlu dilestarikan. Kami hanya bisa menyajikan data dan input kepada pemerintah demi kemaslahatan anak cucu kita,” katanya.

Sementara itu, Prof Hermann M Fritz lebih banyak menjelaskan tentang tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Hermann yang meneliti tsunami Aceh mengatakan, bencana tersebut berdampak ke sejumlah negara dan menelan ratusan ribu korban jiwa. “Padahal tsunami baru sampai di Somalia setelah 8 jam gempa. Tapi karena tidak ada peringatan awal maka korbannya tetap banyak,” ujar Hermann, seraya memperlihatkan dokumentasi sejumlah wilayah di Aceh saat sebelum dan sesudah tsunami. 

SUMBER: http://aceh.tribunnews.com/2017/08/01/peneliti-minta-guha-ek-leuntie-dilestarikan
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini