TRIBUNBARAT.COM - OLEH EZI AZWAR ANZARUDDIN, alumnus Ummul Ayman, mahasiswa Al-Ahgaff asal Tongperia, Pidie, melaporkan dari Tarim, Yaman

TIDAK terasa sudah lima tahun saya tinggal di Hadhramaut, Yaman. Insya Allah, tidak lama lagi saya akan kembali ke Tanoh Rincong tercinta. Di pengujung saya tinggal di Hadhramaut, banyak hal yang saya lakukan, terutama ketika ada waktu luang. Salah satu kegiatan saya adalah berziarah ke makam sahabat Nabi Muhammad, ‘Abad bin Bisyir Al-Anshari.

Makam ‘Abad bin Bisyir Al-Anshari berada di Desa Lisiek, 30 menit perjalanan darat dari tempat saya tinggal sekarang, Tarim. Ia adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang sangat masyhur di kalangan para penghuni langit, bahkan melebihi kemasyhurannya di kalangan penghuni bumi. Kemasyhurannya di langit dan di bumi tidak terlepas karena semangat ibadahnya yang begitu besar.

Sejarah mencatat bahwa ‘Abad bin Bisyir meninggal saat dalam perjalanan berdakwah di daerah Hadhramaut, Yaman. Keturunan aulia ini masih bersambung sampai sekarang. Saat ini, keturanannya dikenal dengan nama julukan Al-Khatib (juru dakwah) yang dipakai di akhir nama mereka masing-masing.

Ini adalah kali ketiga saya menziarahi makam ‘Abad bin Bisyir. Yang paling menarik dalam ziarah kali ini adalah semua peserta ziarahnya merupakan pelajar asal Aceh yang tinggal di Tarim. Ziarah ini memang sengaja kami selenggarakan agar silaturahmi dan solidaritas antara kami sesama ashab satu daerah semakin kuat.

Ada tantangan tersendiri saat menziarahi makam ‘Abad bin Bisyir. Butuh perjuangan kuat untuk mencapai makam beliau. Makamnya terletak tepat di Ghurab, salah satu gunung di Desa Lisik yang menjulang tinggi. Untuk mencapai makam, para peziarah harus berjalan menanjak mengikuti jalan setapak yang masih berbatu.

Salain karena memang ingin menziarahi makam, tantangan inilah yang menarik perhatian saya hingga berziarah tiga kali ke makam ‘Abad bin Bisyir. Apa pun itu, para peziarah tetap harus menjaga niatnya.

Butuh waktu sekitar 30-40 menit untuk tiba di makam ‘Abad bin Bisyir. Salain menguras tenaga, cuaca panas juga menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai makam ‘Abad bin Bisyir. Karena itu, tidak semua orang bisa sampai di makam beliau. Dan Alhamdulillah, rombongan kami bisa sampai semua di lokasi makam.

Ketika pertama kali saya berziarah ke makam ‘Abad bin Bisyir, ada satu hal yang membuat saya heran, yaitu lokasi makam beliau yang sulit untuk dijangkau. Timbul pertanyaan, siapa yang memakamkan beliau di atas gunung ini? Ternyata oh ternyata, yang memakamkan beliau di atas gunung itu bukanlah orang biasa, melainkan para malaikat. Keheranan saya terjawab sudah oleh Habib Umar bin Hafidz dalam ceramahnya ketika ziarah tahunan di makam ‘Abad bin Bisyir.

Ketika sampai di area makam, mau tidak mau kami harus beristirahat sekitar 10 menit untuk mengatur napas dan menghilangkan keringat. Setelah suasan sudah mulai santai, barulah kami melanjutkan ziarah dengan tertib bacaan yang sudah tertera di kitab kecil yang kami bawa. Dimulai dengan bacaan salam, kemudian selawat, bacaan Surah An-Naas, Al-’Alaq, Al-Ikhlas, dan Yasin. Kemudian doa berjamaah, doa pribadi, dan ditutup kembali dengan Surah Alfatihah. Setelah itu dilanjutkan dengan cerita singkat mengenai biografi sahabat Nabi ‘Abad bin Bisyir Al-Anshari.

Inilah sekilas kisah perjalanan kami saat menziarahi makam sahabat Nabi, ‘Abad bin Bisyir Al-Anshari. Akhirul kalam, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pembaca, khususnya bagi syedara lon yang na di Seuramoe Mekkah. Saleum aneuk nanggroe! 

sumber: http://aceh.tribunnews.com/2017/07/21/menziarahi-makam-aulia-yang-dimakamkan-malaikat
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini