TRIBUNBARAT.COM, JAKARTA -- Kendaraan berbasis online kian populer di kalangan masyarakat. Bukan hanya motor, mobil atau taksi. Bajaj, kendaraan roda tiga ini juga tersedia pemesanan melalui online. Adalah BajajApp, platform pemesanan bajaj online.

Pertama kali diluncurkan pada 7 Oktober 2015  BajaiApp mendapat respon positif dari pengguna moda transportasi umum. Para sopir Bajai pangkalan pun berbondong-bondong mendaftar, supaya bisa menjaring penumpang lewat aplikasi. Namun, itu dulu.

"Itu dulu, sekarang mah udah bubar. Karena peminatnya udah nggak ada," kata Edwin saat di temui Republika.co.id di Jembatan tiga, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin, (17/7).

Pria bertumbuh gempal ini mengatakan  tarif terlalu tinggi dari moda daring lain menjadi penyebab kenapa BajaiApp tidak lagi diminati penumpang. Sehingga usia bajai online yang belum genap satu tahun itupun karena sepi lambat laun ditinggal pengemudi bajaj dengan cara uninstall aplikasi BajaiApp di smartphone-nya masing-masing.

"Ya ngapain dipasang sayang hapus aja daripada ngurangi baterai," ujar dia.

Kini, kata dia, para pengemudi Bajai kembali menjaring penumpang dengan langsung mengajukan penawaran kepada setiap orang yang ada dipinggir jalan. "Setelah penumpang mau ya mereka bisa tawar kalau misalnya dari Pluit ke Tanah Merah kita ajikun Rp 30 ribu mereka bisa tawar Rp 25 ribu ya kita jalan tapi kalau online kan gak bisa ditawar," katanya.

Edwin, pria kelahiran 1980 asli Pemalang itu mengatakan sebenarnya gabung dengan bajai online di bawah nauangan  PT Wahana Karya  sangat membantunya mendapatkan penumpang. Namun setelah penumpang tahu bajai daring lebih mahal dan tiba dilokasinya juga lebih lama daripada kendaraan daring lain akhirnya penumpang tidak menggunakannya lagi.

Menurut Edwin, jika ingin penumpang BajajApp ramai dan pengemudi Bajaj kembali aktifkan akun BajajApp, maka perusahaan BajajApp harus memperbaiki sistem pembayarannya. Misalnya mesti dibayar murah penumpang  sopir Bajaj tidak rugi karena ada tambahan dari pihak perusahaan BajajApp itu sendiri.

Rekan Edwin sesama sopir Bajai bernama Kodli 54 tahun mengatakan awalnya ia mengaku mau bergabung dengan BajaiApp. Namun, setelah mendengar semua teman-teman yang telah gabung mengeluh sepinya penumpang yang minat naik bajai online akhirnya tidak jadi gabung. Hal yang sama juga terkait batalnya gabung disampai Rohman dan Rustandi yang biasa mangkal di Mega Mall Pluit.

"Jadi kalau dibilang nggak ada ya enggak karena kantornya ada, dibilang ada gak ada peminatnya," katanya.

Mereka pun kembali kepada cara lama, menjaring penumpang secara konvensional dengan langsung menawari penumpang.

Sementara itu Manager BajaiApp Darwin saat dihubungi mengaku jumlah pengemudi BajajApp berkurang dari setahun yang lalu. "Sampai saat ini boleh dibilang ada penurunan. Apalagi pengemudi Bajaj belum banyak," katanya.

Ia mengakui jika tarif BajaiApp lebih tinggi daripada tarif moda online lain. Alasannya kata Darwin mengatakan kenapa tarif BajajApp lebih mahal karena supaya sopir bajaj bisa ngejar setoran kepada pemilik bajaim. Karena tidak mungkin pihak BajaiApp nambahin setoran pengemudi bajai yang kurang.

" Harga yang kita ambil itu gak dibilang mahal juga ya itu udah harga rata-rata naik bajai segitu," katanya.

Ia membantah jika aplikasi BajajApp sudah dihapus semua pengemudi bajai yang sudah mendaftar. Karena dari 1000 yang terdaftar masih ada sekitar 100 pengemudi yang masih menggunakan aplikasi itu untuk mendapatkan penumpang. Tapi memang BajajApp yang banyak aktif di sekitaran Jakarta Timur tepatnya di kawasan Cipinang dan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sementara di wilayah Jakarta Utara hampir semua pengemudi bajaj tidak menggunakan online lagi.

Padahal kata dia setiap hari selalu ada aja sekitar 10 sampai 50 penumpang memesan bajai online. "Tapi kebanyakan sopirnya belum aktif," katanya.

Ia tidak menampik saat awal buka peminatnya banyak sekali namun sekarang dibilang tidak ada. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit.

Republika.co.id telah mengunduh aplikasi BajajApp, namun saat mengetik lokasi dari dan ketempat tujuan tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Di dalam aplikasi itu juga sangat jarang ada bajai yang aktif.

Mesti aplikasinya sudah banyak ditinggal pengemudi, Darwin optimistis jika satu saat BajaiApp akan kembali diminati karena Bajai punya kelebihan yang tidak dimiliki kendaraan online lain. BajajApp ramah lingkungan karena bahan bakarnya menggunakan gas.

"Untuk itu strateginya kita dekatin lagi pengemudinya dan sosialisasi," katanya sambil mengatakan telah ada beberapa investor yang sudah merapat.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/energi/17/07/18/ot8usf368-ketika-sopir-bajaj-menyerah-dengan-sistem-online
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini