Keadilan sultan iskandar muda memimpin nanggroe aceh seuramoe mekkah

Tribunbarat.com - Nanggroe aceh seuramoe mekkah. Itulah julukan dunia terhadap Aceh, khususnya pada masa kerajaan Aceh. Hal tersebut tentunya bukanlah julukan tanpa makna. Julukan tersebut menunjukkan kuatnya pelaksanaan dan pemahaman akan agama Islam oleh rakyat Aceh, sehingga hampir dipersamakan dengan Mekkah, tempat dimana Islam diajarkan pertama sekali.

Pada masa lalu, Aceh menjadi kiblat pemahaman Agama Islam, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Ulama-ulama Aceh layaknya Syeh Abdurrauf As-Singkil, atau lebih dikenal dengan nama Syiah Kuala, serta Syech Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fansuri, serta Syamsuddin as-Sumatrani menjadi rujukan dalam berbagai permasalahan Islam.

Kitab-kitab karangan ulama Aceh, seperti Shirath al-Mustaqim karya Syech Nuruddin Ar-Raniry, Mir’at al-Thullab karangan Syech Abdurrauf As-Singkili, dan kitab Safinatul Hukkam-nya at-Turasani menjadi bahan ajar agama dan Fiqh nomor satu di Asia Tenggara.

Pada masa dulu, ulama sama sekali tidak bisa dikangkangi oleh siapapun. Ulama Aceh menjadi satu-satunya rujukan dalam permasalahan dan tak boleh dicampuri oleh siapapun. Karena itu, terdapat sebuah filosofi yang terkenal adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala. Qanun nibak Putroe Phang, reusam bak laksamana.

Kualitas pemahaman agama dari masyarakat Aceh tempo dulu sudah tak perlu diragukan lagi. Kitab-kitab ulama Aceh sampai sekarang masih menjadi rujukan yang pertama dalam masalah Fiqh di Brunei Darussalam.

Namun, pemahaman saja tanpa pelaksanaan tidaklah cukup. Apalah artinya ilmu tanpa amal. Bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa ilmu tanpa amal hanyalah seperti pohon yang tak berbuah. Tak ada gunanya.

Aceh sepertinya tak akan mendapat gelar Serambi Mekkah jika hanya mampu memahami ajaran agama, tanpa mampu menerapkannya dalam semua lini kehidupan.

Tragedi Meurah Pupok anak Dari sultan iskandar muda
Salah satu literatur yang menunjukkan penerapan syariat Islam dalam segala lini kehidupan adalah catatan sejarah mengenai eksekusi mati putra mahkota kerajaan Aceh sultan iskandar muda akibat ketahuan telah melanggar hukum Islam.

Sang anak tersebut bernama Meurah Pupok. Ia dituduh telah berzina sehingga harus menerima hukuman mati dari ayahandanya sendiri yaitu sultan iskandar muda,raja aceh pada masa itu,anak yang tercinta dan agung, Sang Perkasa,Ia dihukum dengan hukuman rajam, sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam syariat Islam.

Banyak pihak yang kemudian mencoba untuk menyelamatkan nyawa Meurah Pupok agar tidak dieksekusi mati. Berbagai pihak melobi Sultan untuk mau mempertimbangkan kembali hukuman yang dijatuhkan kepada anaknya.

Karena walau bagaimanapun, Meurah Pupok adalah anak kandung Sultan sendiri. Jadi seharusnya Sultan mampu untuk meringankan hukumannya dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan Sultan yang sangat dihormati oleh seluruh rakyat Aceh tersebut. Begitulah kira-kira pemikiran beberapa pihak.

Namun, semua usaha yang dicoba tidak mampu untuk menggoyahkan keputusan Sultan aceh. Sultan iskandar muda tetap memilih untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Meurah Pupok. Jawaban Sultan kemudian menjadi peutuah chik yang sangat terkenal di Aceh. Matee aneuk meupat jeurat, matee adat hana pat tamita. (Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya)

Dengan demikian, akhirnya Meurah Pupok dieksekusi mati dan dimakamkan di kawasan Blower, tepatnya di dalam area Kerkhof saat ini. Karena itulah Kerkhof memiliki nama lain yaitu Peutjoet, yang artinya Pangeran Muda, yang merujuk pada makam dari putra mahkota Sultan Iskandar Muda, Meurah Pupok.

Hal yang dilakukan Sultan Iskandar Muda tersebut sudah pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat di masa lalu. Alkisah, Khulafaur Rasyidin kedua, Sayyidina Umar ibn Khattab r.a. pernah menghukum cambuk anaknya sendiri akibat mengkonsumsi khamr dan berzina dengan seorang perempuan akibat mabuk.

Ketika eksekusi, Umar tidak mengindahkan permintaan anaknya yang meminta untuk dihentikan sebentar hukumannya untuk mengobati luka dari cambukan yang diterima serta meminta segelas air. Umar beralasan di neraka Allah SWT tidak menghentikan hukuman Nya karena tersebut. Akhirnya, anaknya pun meninggal dunia dalam keadaan bertaubat.

Kisah serupa juga pernah dijanjikan Rasulullah SAW akan terjadi apabila putrinya sendiri, Fatimah Az-Zahra, kedapatan mencuri. Rasulullah menjamin beliau sendirilah yang akan menegakkan hukum Allah dengan memotong sendiri tangan putrinya apabila kedapatan mencuri.

Semoga tetap Meupat Adat

Ajaran Islam di Aceh dilaksanakan sebagaimana dipahami. Setiap hukum Allah harus ditegakkan walaupun terhadap keluarganya sendiri. Karena tidak ada hak yang lebih besar daripada hak Allah SWT.

Itulah yang dipahami oleh masyarakat Aceh tempo dulu. Sultan Iskandar Muda memenuhi hak Allah walaupun itu terhadap anaknya sendiri. Maka, sungguhlah wajar kiranya jika Aceh kemudian dijuluki sebagai Seuramoe Mekkah.

Ajaran Islam bahkan sudah dianggap sebagai adat di Aceh. Artinya setiap ajaran Islam adalah adat dan budaya masyarakat Aceh. Hal tersebut tercermin dari ucapan Sultan, matee aneuk meupat jeurat, matee adat hana pat tamita (Mati anak jelas kuburan, mati adat-istiadat tak akan jelas keberadaannya). Sultan menyebut hukuman tersebut sebagai adat Aceh. Artinya, hukum Islam telah meresap dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat Aceh sehingga menjadi adat.

Kita tentunya berharap agar tradisi adat Aceh yang berlandaskan hukum Islam tetaplah dijaga sampai kapanpun. Tetap menegakkan hukum dan hak Allah SWT walaupun kepada keluarganya sendiri. Tetap tidak mau membebaskan siapapun terdakwa sampai ia terbukti tidak bersalah sebesar apapun kekuasaan dan kekuatan yang dia miliki. Jika hal ini terjadi, Insya Allah Aceh akan kembali makmur dan adil seperti Kerajaan Aceh Darussalam. Insya Allah.

Sumber:myword-1902
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini