TRIBUNBARAT.COM, SEJAK 1945 sampai 2017, Aceh telah dipimpin oleh 23 orang kepala daerah (gubernur/residen). Mereka adalah Teuku Nyak Arif sebagai Residen Aceh yang berada di bawah Gubernur Sumatera (1945-1946), Teuku Daud Syah sebagai Gubernur Aceh Darussalam (1947-1948), Tgk Muhammad Dawud Beureueh sebagai gubernur militer (1947-1949) dan sebagai gubernur sipil (1949-1952), Teuku Sulaiman Daud (1952-1953), Abdul Wahab (1953-1955), Abdul Razak (1955-1956).

Kemudian, Ali Hasjmy sebagai Gubernur Daerah Istimewa Aceh (1957-1964), Nyak Adam Kamil (1964-1966), Hasbi Wahidi (1966-1967), A Muzakkir Walad (1967-1978), A Majid Ibrahim (1978-1981), Eddy Sabara (1981-1981), Hadi Thayeb (1981-1986), Ibrahim Hasan (1986-1993), Syamsuddin Mahmud (1993-2000), Ramli Ridwan sebagai Pj Gubernur (21 Juni 2000- November 2000), Abdullah Puteh sebagai Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (November 2000-19 Juli 2004).

Kemudian, Azwar Abubakar sebagai Pj Gubernur (19 Juli 2004-30 Desember 2005), Mustafa Abubakar sebagai Plt Gubernur (30 Desember 2005-8 Februari 2007), Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh (8 Februari 2007-8 Februari 2012), Tarmizi A Karim sebagai Pj Gubernur Aceh (8 Februari 2012-25 Juni 2012), Zaini Abdullah (25 Juni 2012-25 Juni 2017), dan terakhir Irwandi Yusuf (dilantik sebagai Gubernur Aceh pada 5 Juli 2017 sampai 2022).

Kita sebutkan Irwandi Yusuf sebagai “Gubernur Lama, Harapan Baru” yang sekaligus kita angkat sebagai judul artikel ini, karena beliau sudah pernah menjadi Gubernur Aceh periode 2007-2012 dan sekarang menjadi gubernur Aceh lagi untuk kedua kalinya masa bakti 2017-2022. Sebagai mantan gubernur di satu sisi dan gubernur baru untuk Aceh di sisi lain, beliau memiliki banyak pengalaman yang menjadi harapan bagi rakyat Aceh ke depan untuk kemajuan Islam, Aceh, dan bangsanya.

Telah berbuat banyak
Sebagai gubernur lama, Irwandi Yusuf bersama wakilnya Muhammad Nazar telah berbuat banyak untuk kepentingan Aceh dan bangsanya yang belum dikerjakan oleh gubernur-gubernur sebelumnya. Beliau terkenal dengan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), yang kini ditiru oleh daerah-daerah lain dan dipraktikkan secara Nasional di Indonesia, program beasiswa putra-putri Aceh keluar negeri juga bagian lain dari inisiatif beliau, sehingga banyak anak-anak Aceh yang sempat melanjutkan pendidikan peringkat master dan doktoral di luar negeri. Wacana dan gebrakan Aceh Green yang dicanangkan Irwandi, juga menjadi amatan tersendiri oleh warga dunia untuk Aceh ketika beliau memimpin Aceh dalam periode pertama dahulu.

Penyantunan dan bantuan beasiswa kepada seluruh anak yatim di Aceh (terutama korban konflik) juga dimulai pada masa Irwandi memimpin Aceh dan menjadi pemikat antara rakyat dengan penguasa. Pengembangan pendidikan peringkat menengah juga tidak luput dalam kepemimpinan Irwandi, seperti yang terjadi kerja sama antara Pemerintah Aceh dengan pesantren modern Fajar Hidayah di Aceh Besar, di mana sejumlah guru dilatih dan dididik secara reguler dan berjenjang di sana.

Membuka jaringan luar antara Aceh dengan sejumlah negara dan provinsi di dunia juga pernah terjadi dalam kepemiminannya sehingga Aceh masyhur di peringkat internasional. Dalam bidang olah raga Irwandi juga pernah mengirim sejumlah pelajar peringkat SLTA ke Paraguay untuk melatih dan mendalami ilmu sepak bola di sana. Prihal semacam itu belum tersentuh oleh tangan-tangan para gubernur Aceh sebelumnya, sehingga Aceh menjadi perhitungan pihak luar dalam berbagai bidang kehidupan. Ke depan dengan posisi gubernur baru, Irwandi Yusuf menjadi harapan umat Islam Aceh yang mendiami wilayah paling barat Tanah Air ini, terutama sekali berkaitan dengan implementasi syariat Islam secara kaffah yang sudah dibina dan dipromosikan oleh Gubernur Abdullah Puteh sebelumnya.

Tidak bisa kita pungkiri kalau Irwandi Yusuf pernah tidak menandatangani Qanun Jinayah yang sudah disahkan oleh DPR Aceh pada 2009, ketika beliau menjadi Gubernur Aceh pertama dengan alasan DPR Aceh mencantumkan pasal rajam di dalamnya. Pengakuan Irwandi tersebut terungkap kembali dalam Debat Kandidat Gubernur Aceh yang diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh pada 11 Januari 2017, di Amel Convention Hall Banda Aceh. Beliau mengaku kepada Abdullah Puteh yang menyoal perkara tersebut dalam Debat Kandidat Gubernur Aceh tidak melakukan itu, karena ada pasal tentang rajam di sana.

Terlepas ada pasal rajam dengan tidak adanya di sana, Aceh mengalami kerugian dan degradasi hukum lebih dari lima tahun akibat tidak terjadinya penandatanganan tersebut. Karenanya dalam periode kedua sebagai gubernur lama bersuwa kembali menjadi gubernur baru, masyarakat muslim Aceh menggantungkan banyak harapan pada sosok Irwandi Yusuf untuk menebus keterlanjuran tersebut sehingga kepemimpinannya mendapatkan ridha dan bantuan Allah sepenuhnya dan mendapatkan dukungan serta pembelaan dari rakyat Aceh seluruhnya.

SUMBER: http://aceh.tribunnews.com/2017/07/06/gubernur-lama-harapan-baru
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini

Nina Tun said...

Disini aku mau Sharing aja ya
Banyak temen aku yang tercukupi kebutuhannya tanpa kerja
Caranya bagaimana?? hanya mengeluarkan 10 ribu
untuk bermain di www. pokerayam .com hanya hitungan menit saja
ratusan hingga jutaan pun didapat dikarenakan pokerayam
selalu memberikan promo dan keberuntungan kepada member setianya
banyak promo dan hadiah menarik yang akan update disetiap saat
yuk silahkan bergabung pada pokerayam jangan lewatkan
MODAL 10 ribu MENJADI 1 JUTA
info keberuntungan lebih lanjut bbm : D8E5205A

Nina Tun said...

Keberuntungan diawali dari kerja keras dan pantang semangat
Minimal depo 10 ribu akan menjadi bongkahan HARTA !!
Hadir disini untuk kalian yang membutuhkan kami
Kunjungi www,pokerayam,co
info keberuntungan lebih lanjut bbm : D8E5205A