TRIBUNBARAT.COM - Kemarau panjang melanda Aceh akhir-akhir ini ternyata juga membuat kolam kawah gunung Berapi Seulawah Agam, Aceh Besar yang biasanya berair menjadi kering kerontang. Panas dari bawah kawah kolam gunung tersebut mencapai 96-98 derajat celsius dan mengeluarkan gas beracun H2S antara 65-86 Ppm. Namun secara umum hingga kini gunung berapi itu masih normal.

Kepala Dinas (Kadis) Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh, Ir Akmal Husen MM menyampaikan hal ini kepada wartawan di lokasi kawah Gunung Berapi Seulawah Agam, Sabtu (29/7), saat meninjau kawah gunung tersebut. Kunjungan itu untuk mendapat data terkini mengenai suhu panas dalam perut bumi gunung tersebut yang akan dijadikan pembangkit listrik.

Adapun kondisi terbaru panas di kawah gunung berapi itu, kata Akmal sesuai hasil pengukuran tiga ahli geologi terhadap tujuh hingga sembilan lubang di kawah gunung Berapi Seulawah Agam. Akmal menyebutkan Gunung Berapi Seulawah Agam memiliki dua lubang kawah. Pertama, bernama hestz di lereng gunung sebelah utara kawasan Gunung Seulawah di wilayah Kecamatan Lamteuba, Aceh Besar. Kedua, bernama Simpago di lereng sebelah selatan Gunung Seulawah di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar.

“Dari dua lubang kawah yang masih aktif itu mengeluarkan asap panas berwarna putih dan bau busuk, lubang kawah yang besar berada di kawah hestz. Luasnya sekitar 50x100 meter. Sedangkan kawah simpago tidak begitu luas sekitar 30- 50 meter,” jelas Akmal.

Akmal menceritakan pada Desember 2012, aktivitas di kedua kolam kawah itu pernah meningkat, sehingga pada 3 Januari 2013, status Gunung Berapi Seulawah Agam sempat dinaikkan dari normal (level I) ke waspada (level III). Kemudian kembali normal hingga kini.

Sebelumnya, kata Akmal, sumber panas bumi dalam perut bumi Gunung Berapi Seulawah Agam yang bisa menggerakkan dinamo listrik dan menghasilkan ratusan megawa watt arus listrik, diketahui tim geologi dari Jerman yang berkunjung ke Aceh pada masa rehab rekon Aceh pascatstunami.

Kemudian, Tim Geologi dari Jerman menyarankan kepada pemerintah negaranya untuk membantu memulihkan kondisi ekonomi Aceh yang sudah terpuruk akibat gempa dan tsunami, sehingga pada 2009 Pemerintah Jerman melalui Kfw menghibahkan dana untuk eksplorasi proyek listrik tenaga panas bumi (Geothermal) Seulawah Agam 7,720 juta Euro atau sekitar Rp 108 miliar lebih ke Pemerintah RI.

Kemudian pada 2012, Pemerintah RI melalui Menkeu dan Menteri ESDM sudah melelang proyek eksplorasi panas bumi Seulawah Agam dan pemenangnya PT Pertamina. Namun, karena pada pada masa pemerintahan Gubernur Aceh sebelumnya dr Zaini Abdullah (2012-2017), kegiatan itu tidak ditindaklanjuti, maka pelaksanaan tahapan proyek ini terhenti hingga habis masa jabatannya 25 Juni 2017. Kini, Irwandi yang kembali menjabat Gubernur bersama Wakilnya Nova Iriansyah akan melanjutkan lagi proyek Geothermal yang dulu dirintis Irwandi saat menjabat Gubernur bersana Wakilnya Muhammad Nazar.

Bukti Irwandi melanjutkan proyek Geothermal itu, kata Akmal, PT Pertamina dengan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) akan meneken pembentukan kerja sama perusahaan yang akan melanjutkan eksplorasi proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Seulawah Agam yang diberi nama PT Geothermal Energi Seulawah (PT GES). Penandatanganan ini akan berlangsung di Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, hari ini, Senin (31/7). Dikonfirmasi terpisah, Direksi PDPA, Muhammad YY Dinar membenarkan hal ini.
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini