Tribunbarat.com - Banda Aceh - Masyarakat Aceh punya tradisi khusus menyambut bulan suci Ramadan. Dua hari sebelum puasa, warga Tanah Rencong membeli daging lembu atau kerbau untuk dimasak, lalu disantap bersama. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu.

Harga daging yang dijual pada hari meugang atau madmeugang melonjak drastis. Jika biasa Rp 130.000 hingga Rp 140.000 maka pada hari meugang menjadi Rp 150.000 hingga Rp 170.000. Meski tergolong mahal, tapi itu tidak menjadi masalah bagi masyarakat Tanah Rencong. Pasalnya, jauh hari sebelum meugang warga sudah mempersiapkan diri untuk membeli daging sesuai kemampuan.

"Saat meugang semua orang statusnya sama baik orang kaya ataupun miskin. Mereka semua beli daging untuk dimakan bersama keluarga," kata kolektor manuskrip kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid saat ditemui detikcom di sebuah warung kopi di Banda Aceh, Kamis (25/5/2017).

Tradisi meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh. Kala itu, sebulan sebelum meugang kepala desa sudah menerima surat untuk mendata warga miskin di desanya. Setelah Sultan melihat semua data yang dikumpulkan, menjelang meugang baru dikirim uang kepada warga untuk membeli hewan ternak.

Dalam literatur buku "Singa Aceh", imbuh Tarmizi, disebutkan bahwa Sultan sangat mencintai rakyatnya baik fakir miskin atau pun kaum dhuafa. Orang tidak mampu kala itu menjadi tanggung jawab Sultan. Dia kemudian mengeluarkan satu qanun yang mengatur tentang pelaksanan meugang.

Setelah disahkan, qanun itu diberi nama "Qanun Meukuta Alam". Pada Bab II pasal 47 qanun tersebut disebutkan:

Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua'zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi yaitu mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong dihari Mad Meugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta. Pada tiap-tiap satu orang yaitu; daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada keuchieknya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi pertolonganya kepada rakyatnya yang selalu dicintai.

Sultan punya alasan tersendiri mengeluarkan aturan tersebut. Ketika itu, kerajaan Aceh terkenal dengan hasil alam melimpah dan kekayaannya. Sebagai seorang pemimpin, Sultan tidak ingin ada rakyatnya kesusahan saat menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

"Kenapa diatur begitu karena Aceh saat itu memiliki kelebihan, kemakmuran, dan hasil alam yang sangat berlimpah. Jadi artinya menjelang bulan puasa sultan ingin rakyatnya tidak susah dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan," jelas pria yang akrab disapa Cek Midi ini.

Lambat laun, meugang menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh yang mayoritas Islam. Meski modelnya berbeda dengan masa Kesultanan, makna terkandung di baliknya sama. Perayaan ini juga bagian dari kegembiraan menyambut Ramadan. Bulan suci bagi warga Aceh punya arti tersendiri. Tak heran, jauh hari sebelumnya, warga sudah menyiapkan persiapan dari perlengkapan ibadah sampai kebersihan lingkungan.

Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman Ismail, mengatakan, meugang merupakan sebuah simbol yang sangat menumental di kalangan masyarakat Aceh dalam membangun hubungan kekeluargaan dalam konteks islami. Seperti sudah menjadi sebuah keharusan, pada hari meugang umumnya warga Aceh yang merantau ke tempat lain pulang ke kampung halaman untuk menikmati daging meugang bersama keluarga.

"Tujuan meugang ini untuk menyambut Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha," kata Badruzzaman kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Pada zaman dulu, masyarakat Aceh menganggap makan daging sebagai makanan yang mewah. Selain hari meugang, masyarakat hampir tidak pernah makan daging. Dalam tradisi masyarakat Aceh, menyambut Ramadan harus dalam pesta besar dan berkumpul semua anggota keluarga sehingga diadakan hari meugang.

Bahkan pada masa dulu ada suami yang cerai dengan istri gara-gara tidak pulang pada hari meugang. "Cerai karena orangtuanya malu kenapa suami dia tidak pulang, dianggap seolah-olah tidak punya apa-apa," jelas Badruzzaman.

Saat meugang, warga di perantauan tidak boleh mengirim uang untuk membeli daging tapi harus pulang dan membawa daging untuk orangtua. Bagi masyarakat di Aceh, hari meugang tanpa membeli atau makan daging rasanya tak lengkap, bahkan bagai aib. Kaya miskin seakan wajib memilikinya.

Jika dalam sebuah kampung ada orang miskin yang tidak sanggup membeli daging, kepala desa akan mengumpulkan uang secara patungan agar semua warganya dapat menyantap daging.

Meski sekarang masyarakat sudah sering makan daging, tapi beda rasanya dengan saat meugang. Bahkan jika ada anggota keluarga belum pulang ke rumah, orangtua belum tenang meski anggota keluarga lain sudah berkumpul semua.

"Jadi intinya adalah pertama untuk membangun silaturrahmi dengan anggota keluarga dan hari itu semua harus makan daging baik kaya maupun miskin," katanya.

Menurut Badruzzaman, makan bersama saat hari meugang sebaiknya dilakukan di rumah bukan di pantai atau tempat wisata lainnya. Karena tujuannya adalah kumpul bersama mulai dari anak hingga nenek. Makan di tempat lain juga dapat menghilangkan hikmah dari tradisi tersebut.

"Sebagusnya tetap di rumah dilakukan, bukan di tempat lain," jelasnya.

Momen Ramadan sangat sakral bagi masyarakat Tanah Rencong. Sejak zaman dulu hingga kini, tidak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan, warga sangat bergembira dan antusias dengan tradisi ini.

"Dari sisi lain orang Aceh ini, meugang bisa disebut sebagai hari bersuka-cita. Ini hari sangat sakral dan bergembira untuk menyambut Ramadan," jelas Cek Midi.

Untuk daging sendiri, sebenarnya tidak ada aturan yang mengharuskan sapi atau kerbau. Daging rusa, kambing juga dibolehkan. Namun warga Aceh punya alasan khusus memilih dua hewan ternak di atas.

"Karena kerbau dan lembu lebih mahal maka mereka pilih itu. Gaya hidup orang Aceh dari dulu sangat mewah. Makanya makan pun harus mewah," ungkap pria yang mengoleksi sekitar 500 manuskrip kuno tersebut. 

SUMBER: https://news.detik.com/berita/d-3512248/meugang-tradisi-santap-daging-bersama-warga-aceh-sambut-ramadan
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini

Nina Tun said...

PROMO FREECHIP KETUPAT LEBARAN 2017

Dalam Memperingati Idul Fitri 1438 Hijriah,Kami Selaku POKERAYAM Agen Poker Terbesar Se-Indonesia mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, Untuk merayakan Hari Kemenangan ini kami selaku agen POKERAYAM akan mengadakan promo menarik dihari kemenangan demi keberuntungan member kami yang setia, Berikut Promo Ketupat Lebaran 2017 yang akan kami berikan :

1. Promo Freechip ketupat lebaran berlaku tgl 26 - 27 juni 2017
2. Bonus Freechip lebaran 50.000 untuk 100 userid.
3. Promo berlaku untuk member lama dan baru.
4. Untuk mendapatkan freechip minimum pernah melakukan deposit minimal Rp.50.000
5. Syarat melakukan Withdraw minimum melakukan Turn Over 1x bonus freechip yang diberikan.
6.Untuk informasi lebih lanjut hubungi customer service kami.

Kami mengharapkan dukungan dan partisipasi dari anda semua, Semoga anda semua diberikan keberuntungan yang melimpah dan sukses selalu.
Dapatkan Freechip Ketupat Lebaran dan Rayakan Hari Kemenangan Bersama Kami.
POKERAYAM Mengucapkan Minal Aidin Walfa Izin Mohon Maaf Lahir Dan Batin.
Blogspot : pokerayampromolebaran.blogspot.com
LiveChat : https://goo.gl/5tD6ZL
BBM : D8E5205A