TRIBUNBARAT.COM - Sejumlah warga Indonesia hijrah ke Raqqa, sebuah kota di Suriah yang diklaim kelompok ekstremis ISIS sebagai ibu kota negara Islam. Asa harapan dan mimpi untuk hidup dengan sejahtera di bawah kekuasaan 'Daulah Islamiyah' menjadi harapan mereka.

Namun cerita berganti begitu mereka menginjakkan kaki di Raqqa. Apa yang menjadi impian dan harapan mereka pupus. Mereka pun berusaha untuk lari dari kota yang bak 'neraka' tersebut. Sejumlah kebohongan dari iming-iming militan ISIS telah membuai warga Indonesia tersebut untuk datang ke Raqqa.

Seperti yang dialami Nur (19). Awalnya Nur kepincut pindah ke Suriah setelah melihat foto dan video tentang negara Islam yang diunggah ISIS ke internet. Bayangan dan harapan Nur tentang tinggal di Raqqa kemudian pudar dan menghilang.

"Semua bohong ... ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet," kata Nur kepada wartawan AFP di satu kamp di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.

Baca Juga: WNI di Raqqa: Propaganda ISIS Semuanya Bohong

Semula, Nur beserta ayah dan saudara laki-lakinya diimingi bakal hidup layak di Raqqa. Ayahnya akan dijadikan milisi ISIS dengan gaji tetap. Impian tersebut yang memantapkan langkah kaki Nur hijrah ke Raqqa.

Begitu sampai, apa yang dialami Nur sekeluarga ternyata berbeda. Bahkan Nur dikejar oleh para tentara ISIS untuk dijadikan sebagai ISIS. Nur mengatakan, banyak dari para tentara tersebut menikah hanya dua bulan atau dua pekan. Mereka hanya bertanya apakah ada perempuan yang bisa dijadikan sebagai istri.

"Banyak milisi ISIS yang duda ... mereka menikah hanya dua bulan atau dua pekan saja. Banyak laki-laki datang ke rumah dan mengatakan ke ayah saya, saya ingin anakmu," ungkap Nur.

Tak cuma Nur. Cerita senada juga dialami Leefa (38). Perempuan yang tengah mengalami masalah kesehatan itu punya harapan. Jika tinggal di ISIS ia akan mudah mendapatkan pengobatan. Tanpa biaya sepeserpun. Leefa kemudian mengontak anggota ISIS melalui internet.

Gayung bersambut. Anggota tersebut mengatakan ISIS akan mengganti uang tiket dan mengiming-imingi Leefa dapat meninkmati kehidupan di Raqqa. Rupanya apa yang dikatakan anggota ISIS itu hanya bualan semata. Operasi yang dijalani Leefa ternyata harus merogoh kocek sendiri.


Ratusan WNI Masih Ada di Suriah dan Upaya Polri


Pemerintah Indonesia mengatakan saat ini masih ada 500 hingga 600 WNI di Suriah. Jumlah tersebut dapat bertambah sebab adanya ratusan WNI yang mencoba masuk. Namun pemerintah mengambil langkah untuk segera mendeportasi mereka.

Cerita Nur dan Leefa turut menjadi perhatian Polri. Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, polisi telah melakukan empat hal atas propaganda yang dilakukan ISIS di media sosial.

Pertama, polisi memberikan informasi yang benar kepada masyarakat dan meng-counter berita-berita yang meresahkan masyarakat.

Baca Juga: Kata Polri soal WNI di Suriah yang Ungkap Hoax Propaganda ISIS

Kedua, polisi juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir situs yang dianggap membahayakan. Polisi juga mencari dalang dari situs berbahaya itu.

"Hal pertama, kita counter, kita jelaskan, kita lakukan penyebaran informasi-informasi yang tepat benar untuk menjawab informasi yang tidak tepat itu," kata Martinus.

Terakhir, polisi juga akan melakukan tindakan hukum apabila masih terdapat situs-situs yang meresahkan. Upaya ini dilakukan secara utuh oleh polisi agar masyarakat dapat terhindar dari propaganda sesat.

"Apabila ini masih tetap tumbuh dengan situs-situs baru, web-web baru, maka kita lakukan penegakan hukum. Dalam beberapa bulan terakhir ini ada kasus penghinaan, ujaran kebencian, yang kemudian bermuatan melanggar UU ITE, maka kita akan proses," tuturnya. 

sumber: http://news.detik.com/berita/d-3533676/pesan-dari-wni-di-suriah-yang-ungkap-kebohongan-isis
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini