TRIBUNBARAT.COM -  Setiap kali bulan Ramadhan tiba, kita sering mendengar dikalangan pemuda-pemudi ada istilah asmara subuh.  Istilah asmara subuh ini, tidak ada yang tahu dari mana tradisi ini muncul dan berkembang di Indonesia. Namun yang jelas praktek asmara subuh ini muncul berbarengan dengan datangnya bulan Ramadhan. Praktek asmara subuh ini pada kalangan pemuda-pemudi sudah menjadi sebuah ritual wajib saat bulan Ramadhan. Dalam ajaran Islam sendiri tradisi asmara subuh tidak dikenal, akan tetapi ritual ini selalu diidentikkan dalam agama Islam, karena memang kemunculannya tepat berada pada bulan Ramadhan tiba.
Asmara subuh dikalangan remaja sering dimaknai sebagai waktu yang memberi kesempatan bagi kalangan remaja untuk berkasih mesra. Praktek asmara subuh ini pun waktunya selepas salat subuh dan berakhir ketika masuk waktu duha (sekitar 09.00 Wib). Walaupun secara defenitif asmara subuh dipahami sebagai ritual berkasih mesra. Namun akan tetapi, dalam prakteknya belum tentu demikain. Karena jika kita menyaksikan bahwa ritual asmara subuh ternyata tidak seperti yang kerap dipahami banyak orang. Istilah namanya saja yang asmara subuh, namun dalam prakteknya yang muncul dari itu dapat beraneka ragam bentuk prilaku kalangan remaja. Misalnya, dalam prakteknya kita menyaksikan anak muda hanya sekedar tebar pesona di jalan-jalan, dapat pula kita menyaksikan para remaja balap-balapan motor atau hanya sekedar menghabiskan waktu berjam-jam di atas sepedamotor sambil menyaksikan orang lewat di jalan umum.
Tradisi ini jika dilihat banyak menimbulkan sisi negatif, dan jika ditanyakan kepada mereka sendiri (para remaja), pada umumnya mereka mengerti bahwa tradisi tersebut lebih banyak sisi negatifnya di bandingkan sisi positifnya. Dan bahkan diantara mereka ada yang menolak keras tradisi asmara subuh tersebut. Karena dinilai banyaknya sisi negatif tradisi asmara subuh di kalangan remaja ini, Majlis Ulama Indonesia sempat membuat fatwa haram tentang praktek asmara subuh di kalangan masyarakat, khususnya Indonesia.
Namun kelihatanya fatwa tersebut kurang mendapat respon dari masyarakat terutama para remaja sendiri. Dan tradisi ini terus dilakukan saat Ramadhan hingga kini oleh para remaja. Bahkan kuantitas dan intensitas yang melakukannya semangkin banyak. Hal ini jika sebelumnya tradisi asmara subuh hanya dilakukan oleh remaja SMA ke atas, namun sekarang tradisi ini sudah diikuti oleh anak-anak tingkat SMP dan SD, dengan diramaikan oleh pesta petasan. Dan tidak jarang tradisi asmara subuh ini, bahkan dipahami sebagai ruang bagi semua orang untuk menikmati udara segar subuh.
Jika dilihat secara psikologis masa remaja adalah masa  dimana mereka menunjukkan ekspresi mereka. Momen inilah yang mereka sering dimanfaatkan untuk menunjukkan kedudukan mereka di masyarakat. Walau terkadang mereka menunjukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, agama, adat istiadat dan budaya. Praktek asmara subuh ini, meski dalam konteks yang berbeda tidak sepenuhnya negatif, namun masyarakat pada umumnya menjadikan tetap dalam kacamata negatif.
Seiring perjalanan waktu, suka atau tidak suka, praktek asmara subuh terus akan menjadi bagian dari ekspresi kebebasan remaja. Sangat berat kiranya untuk melarang para remaja untuk tidak melakukan asmara subuh ria. Sama seperti berartnya melarang remaja untuk coret-coretan ketika selesai ujian nasional. Sebenarnya hal ini dapat diatasi sedikit demi sedikit. Yaitu dengan menasehati dan mengingatkan kepada anak akan dampak negative praktek asmara subuh ini dan orang tua harus selalu mengontol dan memperhatikan anak terhadap apa yang dilakukannya. Sebab jika kita melarang anak untuk keluar subuh sama saja kita melarang anak untuk beribadah salat berjamaah di masjid. Padahal kita juga mengharapkan buah hati kita menjadi orang yang taat beribadah. Kiranya yang perlu dipikirkan bersama saat sekarang adalah mencari alternatif lain agar praktek asmara subuh ini bisa diarahkan ke hal yang lebih positif. Karena itu, peran orang tua, guru dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam mendidik anak dan mengarahkan anak kepada ha-hal yang positif. 


sumber: http://hasrianrudisetiawan1.blogspot.co.id/2016/06/tradisi-asmara-subuh-di-bulan-ramadhan.html
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini