TRIBUNBARAT.COM -  Hartini (21) mengemasi barang-barang yang dianggap penting untuk keperluannya selama di kampung halaman. Dengan teliti, gadis bermata bulat itu memeriksa satu persatu barang bawaan yang hendak di bawa pulang ke tempat dia berasal.

Sekitar lima belas menit dia mematut semua barang yang hendak dibawa. Bukan kue ataupun kenang-kenangan yang sedang dia periksa dengan telaten itu. Tapi baju, perlengkapan hias dan beberapa judul buku yang dianggap dibutuhkan saat berada di kampung.

“Saya hendak pulang ke kampung sebentar bang, sebab lusa sudah meugang puasa. Kan tidak mungkin saya sendiri di sini. Apalagi sudah menjadi tradisi, tiap meugang, orang kita pulang ke rumah untuk makan daging bersama keluarga,” Kata Hartini kepada The Globe Journal, Rabu (18/7).

Bukan hanya Hartini, semua penghuni kos mahasiswa di Gampong Neuheun Kecamatan Peusangan berencana pulang kampung. Mereka hanya menghitung jam. Paling lama, pada hari Jumat lusa semua sudah berangkat.

“Jumat paling telat semua mahasiswa penghuni kost disini sudah pulang,” tambah Hartini sambil kemudian pamit.***

Walau bukanlah sebuah kewajiban, namun hari meugang merupakan suatu momen yang sakral bagi orang Aceh. Sebab dihari tersebut merupakan waktu terkhusus yang dimanfaatkan oleh keluarga di Aceh sebagai waktunya kumpul dan makan bersama.

Apalagi, untuk banyak lelaki di Aceh, meugang merupakan pembuktian bila dirinya benar-benar seorang laki-laki. Semakin banyak daging lembu yang mampu dibawa pulang, maka semakin tinggilah harga diri seseorang dimata masyarakat.

Falsafah itu pula yang masih dipegang secara ketat oleh orang tua Marlaini (22) mahasiswa bahasa Inggris di salah satu kampus di Bireuen. Menurut dara Samalanga ini, setiap meugang semua anggota keluarganya akan pulang ke rumah orang tua mereka di kecamatan paling barat Kabupaten Bireuen itu.

“Bapak akan marah bila kami tidak pulang saat meugang. Sesibuk apapun kami diluar, bukan menjadi alasan untuk tidak pulang. Kecuali bagi yang sudah menikah,” terang Marlaini.

Hamdani, SE, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Bireuen, memberikan tanggapan yang menarik. Menurutnya, selama ini meugang bagi orang Aceh telah dijadikan sebagai tradisi yang mengagungkan kemampuan ekonomi.

Sehingga wajar bila kemudian harga daging di Aceh bila hari meugang meroket tinggi mencapai ratusan ribu rupiah. Padahal pada hari biasa, harga daging Cuma Rp. 70 sampai Rp.80 ribu per kilogram.

Pedagang daging lembu musiman tentu saja akan mengikuti gejolak pasar. Akibatnya yang menanggung resiko adalah orang miskin dan anak yatim. Sebab saat harga daging menanjak, maka kelompok ekonomi lemah mencari cara untuk dapat membawa pulang daging meugang ke rumah. Termasuk dengan berhutang dan kemudian tak kunjung mampu membayar.

“Meugang telah menjadi tradisi peuleumah kaya, hari itu akan menjadi ajang mempertahankan gengsi. Bukan lelaki Aceh namanya bila tak mampu membeli daging pada hari meugang. Ini merupakan gejala sosial di masyarakat,” terang Hamdani.

Walau sebagai salah satu kekayaan khasanah budaya Aceh, menurut Hamdani, meugang tetap memiliki sisi negatif. Sebab dengan simbolisasi kemakmuran dengan seberapa banyak daging mampu dibeli, telah menjadikan jurang yang dalam antara si kaya dan si miskin.

Untuk pengantin baru, meugang juga sebagai ajang pembuktian harga diri. Sang suami yang baru menikahi istrinya, kalau tak mampu membawa pulang daging minimal 5 kilogram, maka oleh jirannya dia akan dianggap sebagai lelaki yang tidak mampu dan tak punya malu.

“Ini gejolak sosial yang telah lama sekali terjadi di Aceh. Linto baro harus mampu membawa daging minimal 5 kilo kerumah mertuanya. Kalau dia tidak mampu, maka akan menjadi bahan gunjingan para tetangga. Walau sebenarnya sang mertua tidak pernah mempersalahkan hal tersebut,” Tambah Hamdani.

Pun demikian, meugang tetaplah sebuah tradisi Aceh yang perlu tetap di jaga. Cuma, perlu cara pandang berbeda terhadap hari spesial itu. Setiap orang harus melihat bahwa pembuktian kelelakian seseorang bukanlah pada hari meugang. Sebab masih banyak hari-hari yang lain untuk membuktikan kemampuan ekonomi seorang laki-laki Aceh. Hamdani bertamsil “Uleu beumate ranteng bek patah”, meugang tetap berlanjut, lelaki Aceh tak perlu merasa hina bila pada satu meugang gagal membawa pulang minimal 1 kilo daging lembu/ kerbau. [Muhajir Juli | TGJ]

sumber: http://www.samudranews.com/2012/10/meugang-tradisi-peuleumah-kaya.html?m=0
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini