TRIBUNBARAT.COM - Kantor Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Banda Aceh menemukan fakta baru perkembangan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Banda Aceh. Dari hasil riset yang dilakukan, mendapati ada 530 orang LGBT.

Memang dalam beberapa bulan terakhir ini, dunia dihebohkan dengan fenomena LGBT. Belakangan LGBT mulai mencuat di Indonesia dan Aceh – hingga menjadi heboh pasca Pemerintah Kota Banda Aceh meminta bantuan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh untuk penanggulangannya.

Komunitas ini juga semakin gencar berkampanye untuk menunjukkan eksistensi ke publik. Gerakan tersebut dilakukan baik melalui media sosial, hingga meminta diakui negara dan adanya dukungan dana dari lembaga dunia UNDP hingga gerakan mereka semakin massif.

Kiprahnya sekarang sudah mulai dilakukan secara terang-terangan. Padahal sebelumnya, khususnya di Aceh dilakukan secara tersembunyi. Akan tetapi sekarang mereka sudah berani memperlihatkan jati diri mereka masing-masing, terutama melalui media sosial.

Memang tak bisa ditampik, keberadaan LGBT ini sudah lama ada di Aceh. Misalnya kelompok transgender yang biasa disebut di Aceh, waria yang bekerja di salon-salon. Keberadaan mereka tersebar di seluruh pusat kabupaten/kota di seluruh Aceh.

Keberadaan mereka bahkan telah meresahkan warga yang bermukim di sekitar waria ini berkeliaran. Di Banda Aceh misalnya, ada beberapa titik yang biasa menjadi tempat mangkal sejumlah waria.

Lokasi itu seperti di Keudah, Simpang Lima, Peunayong dan sejumlah lokasi lainnya. Mereka berada di titik itu sekitar pukul 02.00 WIB dini hari hingga siap subuh pukul 06.00 WIB.

“Kebanyakan salon-salon itu ada waria. Ada sebagian yang bekerja hari kerja di salon dan malam menjadi waria keluar tengah malam hingga pagi,” kata Kepala Seksi Penegakan Peraturan Undang-undang dan Syariat Islam, Polisi Syariat Kota Banda Aceh, Evendi A Latif, Selasa (01/03/2016) di ruang kerjanya.

Bahkan, Polisi Syariat Kota Banda Aceh pada tahun 2015 lalu pernah menyegel sebuah Alin Salon di Simpang BPKP, Banda Aceh. Karena salon tersebut, kata Evendi A Latif, ditemukan pelanggaran Syariat Islam.

“Kita segel karena kedoknya saja,” kata Evendi A Latif.

Kemudian, pada tahun 2015 juga Polisi Syariat menahan 13 orang waria atau kelompok transgender di Banda Aceh. Pada Agustus sebanyak 2 orang, September 2 orang, Oktober 3 orang, November 6 orang tahun 2015.

“Mereka kita lakukan pembinaan dan kita serahkan pada keluarga masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, data dari kantor PPKB Kota Banda Aceh justru menemukan jumlah kelompok LGBT di Banda Aceh dalam jumlah yang lebih banyak. Hasil survey mereka lakukan mendapati 530 orang LGBT di Banda Aceh.

“Angka itu kita perkirakan jauh lebih banyak lagi. Tetapi sekarang bukan angkanya, tetapi fenomena ini ibarat gunung es, perlu segera ada penanganan sebelum perkembangannya besar,” kata Kepala Kantor PPKB Kota Banda Aceh, Badrunnisa, Selasa (01/03/2016) di ruang kerjanya.

Jumlah angka anggota LGBT yang ditemukan oleh kantor PPKN Kota Banda Aceh diperoleh dari survey media sosial yang dilakukannya. Kata Badrunnisa, mereka membuat satu tim khusus dan bekerja sama dengan salah satu komunitas untuk melacak keberadaannya.

“Caranya sederhana, kami buat akun media sosial dan kami tim mencari kelompok tersebut dan kami ajak berteman,” kata Badrunnisa.

Lanjutnya, untuk membuktikan bahwa akun media sosial itu benar dari kelompok LGBT. Pihaknya kemudian mengambil secara acak nama di akun tersebut dan kemudian mengajak untuk bertemu langsung.

“Mengejutkan, saat tim kami bertemu, bahkan ada salah satu yang bertemu mengajak kencan,” tegas Badrunnisa.

Katanya, dari jumlah yang ditemukan itu mayoritas adalah gay sebanyak 70 persen. Selebihnya beragam, baik lesbian, transgender maupun biseksual.

“Kesulitan kita itu, lesbian itu sangat tertutup, sedangkan Gay lebih terbuka dan tidak abadi atau tidak setia. Sedangkan lesbian mereka sangat setia dan sangat menjaga pasangannya,” jelasnya.

Menurut Badrunnisa, media sosial menjadi tempat empuk kelompok LGBT mencari anggota baru. Karena selain sulit terdeteksi oleh penegak hukum, aman dan banyak target yang bisa diajak.

Oleh karena itu, ia meminta kepada orang tua untuk mengawasi anaknya dalam menggunakan media sosial. Terutama akun media sosial yang menggunakan nama palsu atau bukan identitas asli. Seperti alamat, tempat pendidikan, pekerjaan hingga status-status yang tidak sewajarnya.

“Dari media sosial mereka mencari anggota baru, maka berhati-hatilah,” jelasnya.

Selain itu, Badrunnisa juga menyebutkan terlibat dalam kelompok LGBT ini tidak mengenal status sosial, pendidikan, ekonomi maupun lainnya. Fenomena LGBT ini bisa saja terlibat berbagai lapisan masyarakat.

Kata Badrunnisa, dari 530 orang LGBT yang ditemukan di Banda Aceh. Mayoritas mereka adalah berstatus mahasiswa, selebihnya siswa dan profesi lainnya.

“Ada salah satu kampus ternama di Banda Aceh yang banyak terdapat LGBT,” tutupnya.

sumber: http://habadaily.com/news/5960/lgbt-di-banda-aceh-mayoritas-mahasiswa.html
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini