TRIBUNBARAT.COM - Penagih hutang terlilit masalah. Bukan soal uang yang tak kunjung dilunasi. Melainkan, bunga asmaranya pada si pengutang yang mendadak merekah.

Belakangan ini, tepatnya awal April lalu, kita telah mendengar kasus seorang penagih atau juru sita pajak bernama Parada Toga Fransriano S dan anggota Satuan Pengamanan Soza Nolo Lase yang tewas ditikam seorang pengutang Pajak berinisial AL. Maksud hati mengabdikan diri pada negara, namun begitulah akhir cerita sang pahlawan pencari sumber APBN. Doa kami menyertai-Mu, om.
Penampilan anggota kelas akting salihara


Akhir cerita tersebut tentu jauh berbeda dengan kisah si penagih hutang dalam lakon ‘Penagih Hutang’ karya Anton Chekov, yang dipersembahkan oleh kelas akting komunitas Salihara. Pada senja yang gerimis itu, si penagih hutang berpenampilan sangat santai namun bertema busana ala koboi. Dengan nada suara yang kencang, pria itu mengetuk sebuah rumah gedong. “Halo, permisi. Halo permisi, Woy permisi,” teriaknya sermbari menghisap cerutunya.

Dari dalam rumah, langkah lari pun terdengar. “Nyonya, ada tamu,” seru seorang pembantu pria kepada sang majikan perempuan. Dengan sinis, sang majikan menjawab. “Saya sedang berduka. Tidak berhasrat bertemu orang,” jawabnya lantang. Ya, sang perempuan setengah baya itu, adalah janda kembang yang baru saja ditinggal sang suami tiga puluh hari yang lalu.

Mendengar jawaban sang majikan, pembantu itu lekas menemui si penagih hutang. “Maaf pak, nyonya sedang berduka. Tidak ingin menerima tamu,” kata si pembantu memelas.

“Persetan! Peduli apa saya tentang itu. Yang jelas suaminya meninggalkan hutang pada saya. Sedangkan besok, saya harus membayar pajak ratusan juta,” gentak sang penagih hutang seraya memaksa masuk rumah gedongan itu.

Tak berdaya, sang pembantu terdorong dan penagih hutang berhasil masuk. Tepat di ruang tengah, janda kembang mengusirnya. “Kau tidak sopan, bung. Silahkan keluar,” tegas janda kembang berbaju motif kembang-kembang.

“Anda tahu nyonya. Suami Anda berhutang pada saya seratus juta. Saya tidak akan keluar, jika Anda tak bayar,” jawab si penagih hutang kekeh. Mendengar penjelasan demikian, janda kembang pun mengerutkan alis. Ia heran, untuk apa almarhum suaminya memiliki hutang sebanyak itu.

Tak kuasa menahan haru, janda kembang itu pun menangis. Amarahnya sekita reda tanpa jejak.

“Bung, taukah kau? Saat suamiku masih ada. Aku kerap kali ditinggal di rumah. Entah ia pergi dengan siapa. Dan aku masih setia. Sekarangpun, ia tiada, aku tetap setia. Dengan tak keluar rumah dan sedih sepanjang hari, menunjukan betapa cintanya aku padanya. Saat ini, ia meninggalkan hutang? Oh Tuhan aku tak punya uang,” cerita janda malang ditemani isak air mata.

Tak bergeming. Sang penagih hutang tetap meminta hutang. “Masa bodo. Apa urusannya dengan saya,” tegasnya dihadapan janda kembang itu.

“Baiklah untuk membela suamiku dari hutang, mari kita perang dengan belati. Saya akan tusuk kau,” balas sang janda kembang dan kemudian ia mengambil dua belati di belakang rumah. “Tapi, aku tak bisa menggunakan belati ini untuk perang. Bisa ajarkan dulu?” tambahnya.

Penagih hutang tercengang dan tertawa terbahak-bahak. “Kau ini wanita lucu,” seru si penagih hutang. Ditariklah tangan janda kembang itu. Ia mengajarkan bagaimana memegang benda tajam dengan baik dan benar. Di sela-selanya, mereka saling bertatap mata. Mereka seakan tersambar pepatah klasik ‘Dari mata turun ke hati’. Belati yang mereka pegang bersama seketika jatuh ke lantai. Dan apa yang terjadi. Mereka saling berciuman.

“Persetan dengan uang yang tak bisa kau bayar. Aku sungguh jatuh cinta padamu. Kau wanita yang setia pada pria yang keparat. Mau kah kau jadi ibu dari anak-anakku nanti,” bisik sang penagih. Krik-krik-krik. Kemudian lampu padam dan hening. Sekian.

Oh dewa asmara! Singkatnya pertemuan mereka dapat dengan mudah membuncahkan bulir-bulir cinta begitu saja. Ini tak adil bagi hamba yang sudah mengejar cintanya sejak lama. Curhat, sis.

Usai dia bilang jatuh cinta, dia ditolak janda kembang. Si penagih hutang bingung. Dan bekata: Masalah apa ini! Setan karena wanita. Nah abis itu. Ia memegang tangan si janda kembang, dan berbisik lagi : Tusuklah aku. Belah dadaku, aku sunggug mencitaimu. Dan ciuman. Lampu padam.

sumber: https://www.minumkopi.com/penagih-hutang-kepincut-janda-kembang/
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini