Usaha pencurian jasad Nabi
Tribunbarat.com - Sejarah mencatat,Ada beberapa upaya pencurian terhadap jenazah Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa sallam , semua mengalami kegagalan.

Sesungguhnya Allah Subhanaahu wa Ta’ala telah menjaga Nabi-Nya Sholallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hidup dan dalam keadaan sudah wafat.

Ada beberapa usaha pencurian jasad Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dicatat oleh penulis buku Sejarah Mesjid Nabawi As-Syarif, Muhammad Ilyas ‘Abdul Ghani.

Upaya pertama kali:


Di masa al-Hakim Biamrillah al-‘Ubaidiy

salah seorang zindiq mengusulkan kepadanya untuk menghadirkan jasad Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam ke Mesir untuk menarik perhatian manusia kepadanya sebagai pengganti Madinah, lalu memerangi Rakyatnya.

Pada hari sesudahnya, Allah SWT mengirimkan angin ke Madinah, dan hampir bumi tergoncang sebab kuatnya angin itu. Hal ini menjadi penghalang tujuan para pembangkang tersebut.

Di masa khalifah al-Ubaidiy

yang sama. Dia mengutus orang untuk tinggal di sebuah rumah dekat dengan al-Haram an-Nabawi.setelah itu ia menggali sebuah terowongan dari rumah tersebut menuju makam Rasulullah.

Kemudian Masyarakat Madinah mendengar ada suara menyeru, memanggil-manggil di tengah-tengah mereka bahwa ‘Nabi kalian akan digali (makamnya)’. Maka manusia pun menyelidikinya,Setelah itu mendapati mereka yang sedang menggali, lalu membunuh mereka.
Patut juga disebutkan bahwa al-Hakim bin Ubaidillah mengaku sebagai Tuhan pada tahun 408H.

zaman abbasiyah: Allah SWT menyelamatkan jasad Nabi Muhammad saw dari rencana jahat untuk mencuri jenazah Baginda


Peristiwa yang memilukan dan nyaris menampar wajah umat Islam ini terjadi pada tahun 1164 M atau 557 H, Seperti telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz dalam kitab Fusul min Tarikhi Al-Madinah Al Munawarah.

Sebagaimana yang telah kita ketahui sebahagian besar orang yang berziarah ke Masjid Nabawi pasti tidak pernah lupa untuk menghampiri makam Rasulullah yang diapit oleh makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.

Peristiwa ini berlatarbelakang zaman pemerintahan kerajaan Abbasiyah di Baghdad di mana keadaan umat Islam yang semakin lemah dan berdirinya beberapa buah kerajaan Islam di beberapa daerah. Lantaran keadaan itu, dalam diam-diam pemerintah Eropa Kristian telah menyusun rencana untuk mencuri jasad Nabi Muhammad saw.

Setelah terjadinya kesepakatan oleh para penguasa Eropa, mereka pun mengutus dua orang untuk menjalankan misi keji itu.

Ia dilaksanakan bertepatan dengan musim haji di mana pada musim itu ramai jemaah haji yang hadir dari pelbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji.

Kedua orang itu menyamar sebagai jemaah haji dari Andalusia yang memakai pakaian khas Maghribi.

Keduanya ditugaskan mengerjakan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW.

Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri untuk menyewa sebuah penginapan yang lokasinya dekat dengan makam Rasulullah.

Mereka membuat lubang dari dalam kamar menuju ke makam Rasulullah saw. Belum sampai pada akhir penggalian, rencara tersebut telah digagalkan oleh Allah swt melalui seorang hamba-Nya yang akhirnya mengetahui rencana busuk itu.

Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, bapak saudara Sultan Salahuddin Al-Ayubi yang membuka kota Baitulmaqdis , adalah seorang hamba sekaligus penguasa Islam pada waktu itu yang mendapat petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah.

Sultan itu telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw sambil menunjuk dua orang lelaki berambut perang dan berjambang.

Wahai Mahmud, selamatkan jasadku daripada maksud jahat kedua orang ini.
Sultan Mahmud terbangun dalam keadaan gelisah lalu dia melaksanakan solat malam dan kembali tidur.tapi, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah saw hingga tiga kali dalam satu malam.

Lantas sultan memanggil Perdana Menteri,kemudian Perdana Menteri menyuruh Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki supaya bersedia untuk menuju pada malam itu juga dan merahsiakan perjalanan itu.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri diri untuk melakukan perjalanan dari Damsyik ke Madinah yang memakan masa 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda.

Sesampainya di Madinah, Sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan shalat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi saw.

Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi saw.
Pada ketika itu tiada seorang pun tahu akan kedatangan Sultan ke Madinah.

Dalam masa tersebut ,sultan tidak tahu untuk berbuat apa lalu gubernur Madinah dipanggil menghadap oleh Perdana Menteri.

Gubernur Madinah disuruh untuk mengumpulkan seluruh masyarakat Madinah bagi memudahkan Sultan mengecam muka kedua-dua lelaki tersebut.

Lalu Menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu.

Apakah Sultan mengenal wajah kedua lelaki itu?
Iya

jawab Sultan Mahmud.
Maka tidak lama kemudian Menteri Jamaluddin mengumpulkan seluruh masyarakat Madinah dan membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil baginda Sultan mencermati wajah orang yang ada dalam mimpinya.

Namun Sultan tidak mendapati orang yang ada di dalam mimpi itu di antara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu Menteri Jamaluddin menanyakan kepada masyarakat yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi

Apakah di antara kalian masih ada yang belum mendapat hadiah daripada Sultan?
Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah daripada Sultan, kecuali dua orang dari Maghribi tersebut yang belum mengambil jatah sedikitpun. Keduanya orang soleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi

ujar seorang warga madinah.
Setelah itu Sultan memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Dan alangkah terkejutnya Sultan, melihat bahwa kedua orang itu adalah orang yang baginda lihat dalam mimpinya. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai jemaah dari Andalusia, Spanyol.

Meskipun Sultan sudah mendesak bertanyakan tentang kegiatan mereka di Madinah, mereka tetap tidak mau mengaku sehingga Sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam penjagaan yang ketat.

Sultan bersama menteri dan pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu yang ditemuinya adalah onggokan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu Sultan berkeliling ke kamar sebelah.

Saat itu Allah memberikan ilham, Sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut.

Terlihat sebuah papan yang di dalamnya menganga sebuah lorong panjang dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad.

Seketika itu juga, Sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut perang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh seorang raja di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW.

Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi saw dan mayat mereka berdua dibakar .

Sesungguhnya hukuman mati dengan membakar pesalah itu adalah haram di sisi syara’ , tetapi disini Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki telah mengambil kaedah siasah syariah ke atas orang yang melakukan mungkar keterlaluan. Sebenarnya tindakan yang serupa yang diambil, telah berlaku pada zaman Sayidina Ali di mana terdapat golongan Saba’iyah yang mengikut ajaran Abdullah bin Saba’ yang menganggap Saidina Ali sebagai jelmaan Allah SWT.

Lalu Sayidina Ali memerintahkan supaya membakar golongan ini, bila dihukum bunuh mereka mengejek hukuman mati, lantas memerintah dengan syairnya yang terkenal.

Sesungguhnya Aku telah melihat satu perkara yang sangat mungkar, lalu aku memerintah Qambar menyalakan api dan membakar mereka yang berani mengatakan Allah swt menjelma dalam diri Sayidina Ali.

Sejumlah orang-orang yang mencuri dan merampok kafilah jam’ah haji.

Kemudian mereka bertekad untuk menggali kubur Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Mereka berbicara dan terang-terangan dengan niat mereka, kemudian mereka menyeberangi laut menuju Madinah.

Kemudian Allah SWT menolak serangan mereka dengan kapal yang telah disiapkan dari Mesir al-Iskandariyah yang mengikuti mereka,Setelah menangkap mereka semuanya, kemudian menawan dan membagi-bagi mereka di negeri kaum muslimin.

kemudian usaha terakhir yaitu

Usaha yang dilakukan dengan niat untuk menggali kubur Abu Bakar dan Umar

Itu terjadi di pertengahan abad ke tujuh Hijriyah. Sejumlah orang yang mencapai 40 orang laki-laki bertujuan untuk menggali kubur di malam hari, kemudian bumipun terbelah dan menelan mereka. Hal ini diceritakan oleh pelayan al-Haram an-Nabawy pada saat itu. Dia adalah Shawwab, as-Syamsu al-Malthiy.

Demikianlah orang-orang kafir yang iri dan dengki terhadap nabi,dan islam umumnya,mereka tidak pernah senang kepada islam,karena islam agama benar dan lurus,Dipermukaan bumi ini,yang Diridhai ALLAH SWT,Demikian kisahnya,semoga kita semua selamat iman pada waktu sakratul maut,mati dalam islam.
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini