Tribunbarat.com - Pedihnya hidup Marliah, (46), warga Gampong Tunoeng Krueng, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Wanita berstatus janda ini tinggal bersama delapan anaknya di rumah berukuran 4x2 meter.

Kondisi rumahnya sangat memperihatinkan sekali. Marliah mengaku, rumah yang ditempati itu awalnya merupakan kandang lembu milik tetangganya.

"Pada masa konflik Aceh dulu, kandang lembu itu yang merupakan milik tetangga saya dia anggota GAM. Saya minta tempati karena saya lihat kandang itu tidak terpakai, lalu dikasih," kata Marliah

Marliah sudah lama menjadi seorang janda. Suaminya meninggal belasan tahun silam. Kepergian suaminya meninggalkan delapan anaknya. Satu anak yang paling tua sudah menikah dengan warga asal Kisaran, Sumatera Utara. Namun, menantunya juga masih tinggal seatap dengan Marliah.

Bau menyengat begitu terasa disaat angin-angin terhembus. Banyak sampah-sampah plastik dan dedaunan berserakan di sekeliling rumah Marliah. Musim hujan seperti saat ini, lantai rumahnya beralas tanah terlihat lembab. Dinding yang terbuat dari daun rumbia mulai bocor dan merembes air ke lantai. Begitu juga dinding-dindingnya yang sudah lapuk.

Rumah kecil itu ruangannya tampak tidak disekat dengan pembatas dinding. Ruang tamu, dapur begitu tempat sumur mandi dan kamar tidur berada dalam satu ruangan tanpa pembatas dinding.

"Beginilah kondisi rumah kami. Mau bagaimana lagi. Ini pun ada. Kami semua tinggal di ruangan ini," ujar Marliah sambil meneteskan air matanya.

Pakaian-pakaian milik mereka terlihat digantung berserakan di sepanjang dinding rumah. Sesekali terdengar suara nyamuk dari arah gantungan pakaian itu.

Anak Marliah ada delapan orang. Tiga laki-laki dan lima perempuan. Selain satu yang sudah menikah, dua anak saat ini sedang duduk di bangku sekolah kelas I di MAN Matangkuli. Anak lainnya putus sekolah.

Marliah merasa beruntung karena rumahnya sudah ada listrik. "Ini listrik dipasang sama masyarakat. Dan di rumah ada televisi kecil. Televisi itu dibeli dengan uang jual mas kawin menantu. Menantu saya katanya suntuk kalau tidak ada televisi, mungkin sudah terbiasa di rumah orangtuanya," ucap Marliah.

Ditanya bantuan apa saja yang pernah diterima, dia mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Hari-hari, Marliah lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Satu diantara anaknya bekerja di doorsmer kampung tetangga.

Keuchik Gampong Tunong Krueng, Abdul Kadir membenarkan bahwa Marliah warga miskin dan tidak pernah mendapat bantuan rumah.

"Selama saya jadi keuchik sudah tiga tahun belum pernah saya usul. Namun, kechik yang menjabat sebelumnya yang merupakan abang kandung Marliah pernah mengusulkan permohonan rumah tapi belum terealisasi juga," ujar Keuchik Abdul Kadir saat dihubungi GoAceh.

Abdul Kadir menyebut ada tiga warga di desanya yang tergolong miskin. Namun, Marliah tergolong lebih miris. Upaya-upaya untuk mendapatkan bantuan diakuinya sudah dilakukan sebelumnya, namun semuanya nihil.

Sumber: goaceh.co
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini