Tribunbarat.com - Ironis. Mungkin inilah gambaran perasaan saya di kala membaca sebuah majalah tua terbitan Tempo tahun 1976. Bagaimana tidak? Bayangan saya seorang Sultan/Raja/Kaisar atau bahkan sanak keluarganya hidup dalam kemuliaan dan kemewahan, namun setelah membaca artikel itu pikiran saya terbalik, bahwa masih ada di dunia dengan luxury sekelas Sultan Aceh yang hidup dengan masa-masa sulit dan jauh dari keberuntungan. Hal ini juga tentunya berbanding terbalik dengan orang-orang yang “mengaku sultan” ataupun “mengaku wali nanggroe” yang hidup dalam gelimang kemewahan.

Sultan Aceh yang terakhir, Sultan ‘Alaidin Muhammad Daud Syah (1874-1904). Sejarah mencatat, Sultan Daud Syah resmi diangkat sebagai calon Sultan oleh Majelis Kesultanan Aceh semasa kanak-kanak untuk menggantikan pamannya Sultan Mahmud Syah yang meninggal tahun 1874. Majelis Kesultanan Aceh juga menunjuk Tuanku Raja Keumala, Tuanku Hasyem (sekaligus wali Tuanku Muhammad Daud) dan Teuku Panglima Polem sebagai pelaksana jalannya pemerintahan dan selanjutnya memerintahkan Teuku Cik Di Tiro sebagai pemimpin perang melawan Belanda. Pada tahun 1904, Sultan Daud Syah ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Pulau Jawa. Menjelang tertangkapnya beliau, ia menyerahkan kekuasaan kepada Teuku Mahyeddin di Tiro (putra bungsu Teuku Tjik Di Tiro) melanjutkan peperangan melawan Belanda. Perang Aceh berakhir pada tahun 1911 setelah wafatnya Teuku Maat Cik di Tiro (cucu Teuku Cik Di Tiro) dalam suatu peperangan melawan Belanda. Sementara Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah sendiri meninggal pada tahun 1939 dalam masa pengasingannya di Jakarta.



Sultan Aceh terakhir ini memiliki seorang putra sulung, calon Putera Mahkota Kesultanan Aceh Rayeuk, yaitu Tuanku Raja Ibrahim. Sebagai putera seorang raja, kehidupan Raja Ibrahim penuh dengan pengalaman dan petualangan. cukup beragam. Ia mengunjungi negara-negara Eropa bahkan Belanda hingga bertemu dengan Ratu Wilhelmina. Menjelang dewasa, Tuanku Ibrahim mengikuti jejak sang ayah bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda. Pada tahun 1937, ia kembali ke Aceh. Selama di Aceh, Raja Ibrahim bekerja sebagai seorang Mantri Tani di Sigli dengan penghasilan sebesar 9.000 rupiah pada tahun 1940an. Ia menetap di Lam Lho bersama istri dan ke-15 anaknya. Harapannya yang paling besar adalah berkunjung ke Jakarta untuk zirah ke makam ayahnya Sultan Alaidin Daudsyah.

Seorang anggota DPRD Aceh yang datang berkunjung untuk menjenguknya, mendapati hidup Raja Ibrahim dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. “Untuk hidup wajar saja dengan uang sebegitu, tentu susah”, keluhnya. Kemudian dengan SK no. 100/76 dari Pemda Aceh saat itu, Raja Ibrahim memperoleh sebuah rumah kecil. Ia juga memperoleh bantuan uang sebesar Rp. 5000,- dari Sultan Hamengkubuwono IX serta bantuan-bantuan lain dari Pemda maupun Depdagri. Meski demikian bantuan-bantuan tersebut tidaklah mencukupi untuk hidup lebih layak apalagi sebagaimana mestinya seorang Raja/Sultan. Bahkan rumah bantuan pemerintah juga wajib dikembalikan setelah dirinya meninggal dunia. Hingga sepeninggal beliau pada tahun 1979, Raja Ibrahim tidak pernah kembali lagi ke Jakarta sebagaimana keinginannya tersebut.

Kisah di atas merupakan perjalanan kehidupan yang menggambarkan kegagalan kita dalam melihat sejarah dan para saksi matanya yang telah berkubang lumpur dan bahkan menumpahkan darah bagi kemerdekaan dan kemajuan generasi berikutnya. Ironis, apabila sejarah dipandang sebelah mata, apalagi sekarang dimanfaatkan dan dimanipulasi demi kepentingan penguasa yang akhirnya mengaku sebagai pewaris kejayaan Aceh, atau mengaku-ngaku sebagai Sultan/Wali Nanggroe Aceh Rayeuk Darussalam.

IRONIS,
Banda Aceh 2012
Sumber: Majalah Tempo terbit 1976
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini