Tribunbarat.com - Pemberitaan sejumlah media barat tentang kondisi peperangan yang tengah berlangsung di Suriah selama ini, disebutkan banyak yang tidak sesuai fakta lapangan atau berbohong. Hal ini diungkapkan oleh seorang jurnalis wanita independent asal Kanada, Eva Bartlett, dalam jumpa pers yang digelar di PBB, 9 Desember 2016 lalu.

“Dan dalam hal ini, apa yang kalian dengar dari media Barat, saya akan sebutkan BBC, The Guardian, The New York Times, dan seterusnya tentang apa yang terjadi di Alepo adalah bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya,” ucap Bartlett dikutip dari Russia Today, Rabu (14/12/2016).
Barat lewat media-medianya memang kerap kali merilis pemberitaan yang tendensius dalam konflik Suriah. Bartlett mengatakan bahwa Barat memang sengaja menyampaikan berita bohong tentang apa yang sebenarnya terjadi di Suriah. Mereka menjelek-jelekkan pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad dan mengecam dukungan Rusia terhadap Suriah.
“Saya sudah sering ke Kota Homs, Maaloula, Latakia, dan Tartus, lalu ke Alepo empat kali. Rakyat Suriah mendukung pemerintahnya dan itu adalah kebenaran. Apa pun yang kalian dengar dari media Barat justru kebalikannya,” tandasnya.
Tidak terima disebut berbohong, seorang reporter pria bernama Christopher Rothenberg, dari Aftenposten, koran terbesar di Norwegia, balik bertanya kepada Bartlett apa yang dia maksudkan berbohong. “Buat apa kami bohong, mengapa organisasi internasional yang ada di lapangan berbohong? Bagaimana Anda bisa menjelaskan dan menyebut kami semua pembohong?” imbuhnya kepada Bartlett.
Sebagai jurnalis, Bartlett yang memang sudah meliput di Suriah dari sejak awal mula konflik hingga saat ini lantas tidak menampik adanya jurnalis-jurnalis jujur yang bekerja di media Barat. Tapi media-media tempat mereka bekerja pun sebenarnya tidak melakukan verifikasi keabsahan data ke lapangan. Dirinya pun kembali bertanya dengan si jurnalis Norwegia tentang apa nama organisasi kemanusiaan internasional yang selama ini berada di Aleppo Timur dan dijadikan narasumber media Barat. Jurnalis Norwegia itu lantas tidak bisa menjawab pertanyaan Bartlett, dan hanya diam saja, sampai akhirnya Bartlett memecah kebuntuan si jurnalis dengan lantang menjawab pertanyaannya sendiri “memang tidak ada!”.
“Organisasi-organisasi itu mengandalkan laporan dari Pemantau Hak Asasi Suriah (SOHR) yang bermarkas di Coventry, Inggris, yang dikelola oleh satu orang. Mereka (media Barat) juga mengandalkan Helm Putih, organisasi kemanusiaan yang didirikan oleh mantan militer Inggris dan didanai jutaan dolar oleh Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Barat,” beber Bartlett.
Organisasi Helm Putih disebut memiliki tujuan menyelamatkan warga sipil di Alepo Timur dan Idlib. Namun faktanya, Bartlett menyebutkan bahwa tidak seorang pun warga di Alepo Timur pernah mendengar nama mereka. Bahkan perihal cuplikan video yang mereka buat, ialah anak-anak yang sudah beberapa kali muncul dalam sejumlah laporan lain.
“Seorang bocah perempuan bernama Aya muncul dalam sebuah video di bulan Agustus, lalu dia muncul lagi di bulan berikutnya dalam sebuah laporan lain di lokasi berbeda,” pungkas Bartlett. Oleh sebab itu SOHR menurutnya tidak dapat dipercaya begitu pula Helm Putih yang tidak dikenal warga Alepo.
Alih-alih menjadi penyelamat ‘tak bersenjata’ warga sipil, Helm Putih adalah kelompok yang di danai asing menuntut perubahan rezim Suriah, propaganda, dan sekutu teroris atau pemberontak, yang beroperasi terutama di benteng-benteng Nusra Front dan ISIS. Terkait hal ini sudah dijabarkan dengan sangat rinci dalam investigasi seorang penulis bernama Vanessa Beeley, berjudul ‘Syria’s White Helmets: War by Way of Deception’ (Helm Putih Suriah: Perang Tipu Daya), lalu ‘Syria’s White Helmets: War By Way of Deception~Moderate Executioners’, (Helm Putih Suriah: Perang Tipu Daya~Algojo Moderat).
"Jadi narasumber kalian di lapangan sebetulnya tidak ada,” tegasnya.
Tak berhenti sampai di ketidakpercayaan si jurnalis Norwegia, giliran seorang jurnalis asal koran Italia, Corriere della Sera, yang kemudian bertanya kepada Bartlett apa perbedaan media Barat dan media Rusia dalam melaporkan konflik di Suriah. Seperti diketahui, memang selama ini stasiun televisi Rusia lebih sering menampilkan laporan tentang bantuan kemanusiaan dan upaya damai, daripada menunjukkan kisruh yang terjadi antara para pemangku kebijakan terhadap peperangan yang melanda Suriah.
Tak disangka, jawaban Bartlett kali ini bahkan lebih eksplisit menyebut agenda pemberitaan media barat yang tendensius dan disebutnya berbohong itu. “Ini karena memang demikianlah agenda mereka. Jika mereka memberitakan hal yang sebenarnya di Suriah sejak awal maka kita tidak akan ada di sini membahas ini sekarang. Kita tidak akan melihat begitu banyak korban tewas,” Ucapnya.
Dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Anna News, pernah menampilkan warga Alepo yang mengungkap lirih penderitaan mereka setiap harinya akibat  penembakan yang terus-menerus dilakukan para pemberontak tanpa henti, dimana sudah menelan banyak korban jiwa dan kerusakan besar di Alepo. Warga tersebut bercerita dalam video bagaimana ia telah kehilangan dua putranya dalam satu bulan. Bahkan ia juga harus kehilangan lengannya akibat penembakan teroris atau pemberontak di lingkungannya tersebut.
Pada 27 April 2016 lalu, BBC dalam artikelnya ketika membahas Alepo setelah sebelumnya tidak ada pemberitaan tentang serangan dari teroris di Alepo, kecuali menyoal propaganda anti Rusia,  tidak menyebut apapun mengenai pemboman yang dilakukan oleh Nusra Front, pemberontak Suriah yang diketahui berafiliasi dengan ISIS dan Al-Qaeda. Keduanya merupakan organisasi teroris yang paling diburu di dunia namun dalam peperangan Suriah kali ini mendapat pasokan senjata serta disokong bala tentara dari Amerika untuk bantu pemberontak.
BBC justru memasang foto-foto tak bertanggal dari Alepo yang menunjukkan adanya serangan udara. Sebuah foto yang menggambarkan dua laki-laki besar dengan penampilan seperti anggota front al-Nusra atau teroris lainnya dimana salah satunya mengenakan seragam militer, suatu kebetulan yang tak lazim.
Sebelumnya The Guardian juga menggunakan foto yang sama di 26 April, dengan kerangan foto: “Seorang anak yang terluka dibantu keluar dari bangunan yang hancur setelah serangan udara di lingkungan Fardous di Aleppo.”
Entah sengaja atau seakan lupa, The Guardian menghilangkan fakta bahwa Fardous dikuasai oleh teroris. Jika the Guardian mau melakukan pencarian mengenai sang fotografer, Ameer Al-Halabi, mereka akan menemukan foto semacam itu yang menunjukkan kedekatan antara si fotografer yang sama dengan para teroris bersenjata.
Bahkan, BBC, The Guardian, AFP, CBC, dan lainnya, semua menulis dengan framing kebohongan pemberitaan yang sama mengenai Helm Putih yang disebutnya pekerja penyelamat. Mereka kompak mencaci tentara pemerintah Suriah yang berkoalisi dengan armada tempur Rusia, tentunya dengan tetap mengabaikan pembantaian masif yang dilakukan Barat dan sekutu lewat perpanjangan tangannya yakni teroris atau pemberontak Nusra Front yang berafiliasi dengan ISIS dan Al-Qaeda.
Padahal faktanya pada awal Oktober lalu, Amerika lah yang membatalkan secara sepihak kerjasama dengan Rusia dalam upaya perundingan damai di Suriah. Hal ini telah membuat intervensi militer yang dilakukan Washington kembali terjadi atas pendudukannya di Damaskus.
Bahkan Menteri Luar Negeri Amerika, John Kirby, menyebut gencatan senjata yang diusung Moskow di Alepo tidak berguna. Hal ini lantas ditanggapi oleh Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, yang dalam pengakuannya mereka mengirimkan bantuan dalam masa gencatan senjata. “Selama beberapa bulan terakhir saja, kami telah mengirim lebih dari 100 ton bantuan-bantuan yang paling penting seperti makanan, obat-obatan, dan barang kebutuhan pokok lain” ujarnya dikutip dari Tass, Minggu (06/11/2016).
Washington sendiri pun dikatakan Igor belum pernah memenuhi kewajibannya dalam bertukar informasi tentang teroris atau pemberontak Suriah, dimana sebelumnya kedua belah pihak telah menyepakati hal itu.
“Kami mengirim bantuan tersebut untuk semua warga Alepo, tak terbatas di wilayah barat atau timur saja. Sementara Kemenlu AS belum pernah mengirim sedikit pun bantuan bagi warga suriah yang kabarnya sangat mereka pedulikan”, tandasnya.
Sebagai aktivis dan jurnalis lepas yang independent, Eva Barlett telah hidup kumulatif 3 tahun di Gaza, menghabiskan waktu di Lebanon, dan mengunjungi Suriah 4 kali. Dirinya memang terkenal Anti-zionis, anti-imperialis, dan pro-keadilan. Dia menuangkan apa yang menjadi prinsip keadilan baginya dalam website pribadinya di https://InGaza.WordPress.com serta http://www.SyriaSolidarityMovement.org.
Bahkan bukan kali ini saja Eva membuat pernyataan mengejutkan dan berani melawan framing kebohongan media barat. Selain lewat website pribadi, sebelumnya dalam acara The Richie Allen Show pada 11 Februari 2016, ia juga membeberkan hal serupa. Richie Allen adalah siaran radio independent asal Inggris yang memang terkenal menampilkan analisis berita terhangat oleh para peneliti, akademisi, jurnalis, serta aktivis yang tidak mendapat tempat oleh media yang disetir perusahaan pemangku kepentingan dengan dana besar.
Sebagaimana diketahui dari pengungkapan Barlett diatas, sebenarnya rakyat Suriah mendukung Assad. Aktor peperangan disana adalah tentara AS dengan kroni-kroninya yang tergabung dalam NATO, pemberontak Nusra Front, ISIS, Al-Qaeda, dan sejumlah tentara bayaran lainnya demi kepentingan pribadi mereka, melawan pemerintahan yang sah dipimpin Bashar Al-Assad dengan dukungan rakyatnya dan Rusia.
Terbukti dengan pukulan telak yang diterima AS dan Sekutu pasca kemenangan Bashar Al-Assad mempertahankan rakyat dan negerinya Suriah yang dibantu Rusia, rakyat banyak meluapkan suka cita mereka dan turun ke jalan-jalan meluapkan rasa syukur. Jika saja Assad tidak didukung oleh rakyatnya sendiri, perang tidak akan berlangsung selama hampir lima tahun, sebab dengan begitu mudahnya pasti Assad akan cepat digulingkan tanpa rakyat yang mendukung dibelakangnya.
Kini media Barat pun justru fokus terhadap framing pemberitaan yang menyerukan Assad dihukum seberat mungkin atas tuduhan kejahatan perang yang bahkan belum terbukti adanya, bukan menyuarakan upaya pemulihan semua sektor yang luluh lantak seperti bantuan medis, sandang, pangan, rekonstruksi bangunan, atau penggalangan dana Internasional.
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi di dalam al-Mughni, para sahabat menyebutkan tiga militer terkuat: Syam (Suriah), Yaman, dan Irak. Kepada Nabi, para sahabat bertanya, “Manakah yang paling kuat?”
“Rupanya, Nabi yang mulia memilih Syam (Suriah). Syam menjadi tanah yang terpilih, orang yang berada di sana pun terpilih. “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercayakan Syam kepadaku dan warganya.”
Wallahualam Bishshawab
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini