Kurang Etis Menyebut Orang Selamat dari Bencana Gempa Pijay Aceh disebut "Korban Gempa"
Tribunbarat.com - Istilah “penyintas” muncul pertama kali pada tahun 2005. Kemunculannya bukan dari kalangan ahli sastra ataupun ahli linguistik. Kata ini muncul dari para pegiat alias aktivis LSM dalam konteks bencana. Para pegiat ini memerlukan kata yang lebih pendek untuk menerjemahkan kata “survivor”. Mereka paling tidak harus menggunakan tiga patah kata, yakni: “korban yang selamat”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa “sintas” termasuk kata sifat, artinya “terus bertahan hidup” atau “mampu mempertahankan keberadaannya”. Penyintas diartikan sebagai terus bertahan hidup. Artinya yaitu orang yang selamat dari suatu peristiwa yang mungkin dapat membuat nyawa melayang atau sangat berbahaya. Padanan kata survivor dalam Bahasa Indonesia.  

Masyarakat yang terkena bencana diyakini bisa bangkit kembali dengan caranya masing-masing. Beberapa bukti itu mengindikasikan bahwa masyarakat tahu cara bertahan. Insting alamiah dan modal sosial adalah penggerak utamanya.

Para korban memang tidak memiiki pilihan. Terlepas apakah mereka berada di ruang dan waktu yang salah, namun kenyataan bencana telah merenggut lingkungan fisik dan sosial mereka serta memberikan bekas psikis yang tak bisa disembuhkan seketika. Namun diantara banyak korban ada yang disebut sebagai penyintas. 

Apakah penyintas sama dengan korban? Kata korban dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2004:733) merupakan kata benda yang berarti orang, binatang, dan sebagainya yang menjadi menderita (mati, dsb.) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Kata korban memiliki padanan kata victim dalam bahasa Inggris dan memiliki konotasi bahwa orang tersebut tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Dengan demikian, apabila seseorang yang menjadi korban dari suatu kejadian atau bencana, tetapi ia berhasil bangkit, maka ia disebut sebagai penyintas.  
Fadhli Djailani
Fadhli Djailani - Coordinator Emergency Response Team YPAP

Fakta dalam dalam penanggulangan Gempa Bireuen dan Pidie Jaya Aceh Desember 2016, baik wartawan mau organisasi kemasyarakat secara tidak sadar telah menggunakan kata-kata tidak Etis terhadap orang yang telah selamat dari bencana Gempa Pidie Jaya dan Bireuen.

Dalam Liputan Tribunbarat.com Hanya Yayasan Permata Atjeh Peduli yang menyebut "penyintas" untuk orang yang selamat dari bencana Gempa di Pijay Aceh.

Dalam Wawancara dengan Fadhli Djailani di Pidie Jaya di posko Kesehatan pengobatan Gratis Yayasan Permata Atjeh yang di danai Caritas Germany, kami menanyakan kepada YPAP mengapa menggunakan kata "penyintas" di posko mereka, apa maksudnya. beliau menjelaskan bahwa untuk LSM yang sudah akrab dengan penanggulangan Kebencanaan sudah Faham hal ini, kecuali bagi mereka yang baru memulai dan belum belajar banyak dan memiliki pengalaman dalam penanganan kebancaaan. 

Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengenalkan dan terutama bagi teman-teman wartawan harus menginformasikan dan mengedukasi publik supaya lebih cerdas dan faham konteks nya apa, tidak salah juga mereka memakai kata "korban" tetapi hanya karena belum faham saja, kan bisa dimaafkan, maksudnya baik kok, hanya belum pernah tahu saja, walau itu menyakitkan sebenarnya.

sama juga seperti kita menyebut "penderita HIV", mana boleh kita menyebut orang dengan hiv sebagai penderita, mereka tidak menderita kok, sebut mereka dengan ODHA, hanya persepsi kita saja. begitu juga kurang etis menyebut "orang cacat", sebut mereka dengan difable. begitu Fadhli Djailani asal Bireuen yang menjadi Coordinator Emergency Response Team YPAP menyebutkan.
Kata penyintas muncul pertama kali sekitar tahun 2005. Kata tersebut dipopulerkan oleh para aktivis kemanusiaan dan relawan saat terjadi bencana. Kata penyintas merupakan padanan kata survivor dari bahasa Inggris yang berarti ‘orang yang selamat'.
       
Penyintas berasal dari kata dasar sintas yang diberi awalan peng-. Kata sintas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1315) merupakan bentuk kata sifat yang berarti ‘terus bertahan hidup atau mampu mempertahankan keberadaannya'. Dalam kaidah bahasa Indonesia apabila kata yang berawalan huruf k, p, t, dan s diberi awalan peng- maka huruf awal pada kata dasar tersebut akan luluh. Kata sintas setelah mendapat awalan peng- berubah menjadi kata benda penyintas yang berarti orang yang mampu bertahan hidup. Dengan demikian, penyintas adalah mereka yang masih bisa bertahan hidup setelah melewati zona berbahaya kehidupan, entah itu bencana ataupun penyakit yang berbahaya.


Kurang Etis Menyebut Orang Selamat dari Bencana Gempa Pijay Aceh disebut "Korban Gempa"


Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini