Tribunbarat.com, BANDA ACEH - Kandidat gubernur di Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017, Zakaria Saman, meminta tim pemenangan Muzakir Manaf–TA Khalid tutup mulut. Menurut Zakaria--biasa disapa Apa Karya--tim itu dan Partai Aceh tak berhak mengklaim diri sebagai pihak paling berhak menggunakan warna khas partai tersebut.

“Jika ingin menyukseskan Pilkada Aceh 2017, silakan diam saja karena itu (bendera) bukan milik mereka. Meuyoe masalah nyoe ji peupayang, itayoe tetap ta peupayang, dan bila kamoe hanjut pakek, awak nyan bek pakek cit,” kata Apa Karya dalam rilis yang diterima AJNN, Kamis (1/12).

Hal ini disampaikan Apa Karya menanggapi surat yang diterima tim pemenangan Zakaria Saman-Alaidinsyah dari Panitia Pengawas Pemilihan Aceh pada 25 November lalu. Isinya, tim pemenangan Muzakir-Khalid keberatan dengan alat peraga kampanye yang digunakan pasangan Zakaria-Alaidinsyah karena mirip dengan logo dan warna yang mereka gunakan.

Kemarin, tim pemenangan ZAKAT (Zakaria Saman–Alaidinsyah) hadir di kantor Panwaslih untuk mengklarifikasi keberatan pelapor. Menurut Apa Karya, mereka tidak mengetahui persoalan kemiripan alat peraga kampanye.

Bukti yang dilaporkan oleh tim pemenangan tim Muzakir-Khalid tidak bertuliskan logo Partai Aceh (PA). Soal kemiripan, baik warna dan disainnya, tambah Apa Karya, tidak ada larangan kemiripan bentuk, logo, dan warna satu kandidat dengan kandidat lain.

Apa Karya juga menegaskan bahwa aturan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh hanya mempersoalkan kemiripan bendara partai politik satu dengan lainnya. Sementara Apa Karya-Alaidinsyah maju dari jalur perseorangan. “Kami bukan partai politik.”

Menurut Apa Karya, disain logo dan atribut kampanye tim berakronim Zakat ini sesuai dengan landasan perjuangan dirinya sebagai bekas Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka. Paduan merah, putih, dan hitam digunakan dalam perjuangan GAM sejak dideklarasikan sampai dengan saat ini. Padanan warna ini, kata Apa Karya, milik rakyat Aceh secara umum, bukan milik sekelompok orang.

Jika persoalan warna ini diperpanjang, kata Apa Karya, dia juga menuntut hal sama kepada Muzakir-Khalid. Termasuk bendera Partai Aceh. Disain bendera itu, kata Apa Karya, dibuat dari hasil diskusinya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di awal-awal masa perdamaian. Jadi, hak kekayaan intelektualnya berada di tangan Apa Karya.

Sumber: http://www.ajnn.net/news/apa-karya-diam-bendera-partai-aceh-itu-saya-yang-buat/index.html


Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini