Tribunbarat.com , HAIFA - Wilayah utara dan tengah Israel terbakar hebat pada Kamis (24/11), seusai diterjang angin kencang, terutama Haifa berpenduduk 300.000 jiwa, kota terbesar ketiga Israel dekat perbatasan Jalur Gaza, Palestina. Belum ada laporan korban jiwa, kecuali bangunan dan rumah hangus dilalap si jago merah.
Puluhan ribu warga telah diperintahkan untuk meninggalkan rumah mereka, seusai seluruh hutan di wilayah utara dan tengah terbakar. Polisi menduga pembakaran bermotif politik yang mungkin berada di balik beberapa kebakaran.
Gambar-gambar televisi menunjukkan api mengamuk di sekitar Haifa, utara negara itu, dan sebuah pompa bensin sempat terbakar, tetapi petugas pemadam kebakaran dengan cepat menyiram air. Kebakaran melanda beberapa lokasi selama tiga hari terakhir, tetapi paling parah pada Kamis (24/11), dipicu kemarau dan angin timur yang kuat. Api yang terus menyebar pekan ini di bagian tengah dan utara Israel, serta sebagian wilayah Tepi Barat telah menghancurkan sejumlah rumah dan sekitar 50.000 warga dievakuasi.
“Hampir 50 persen dari api yang menjalar berasal dari serangan pembakaran yang disengaja,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri, Gilad Erdan. Tetapi, Menteri Pendidikan, Naftali Bennett, yang juga merupakan pemimpin partai kanan garis keras, menduga para pelaku bukan warga Yahudi.
Sedangkan Juru bicara kepolisian Micky Rosenfel belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran yang disengaja atau tidak. Namun pihaknya telah menangkap empat orang karena ceroboh menyalakan api dan akan mulai menjalani proses peradilan.
Pemimpin partai Jewish Home, Bennett mengatakan di Twitter bahwa pelaku pembakaran adalah mereka yang tidak setia kepada negara. “Hanya mereka, yang yang tidak setia kepada negara, yang mampu melakukan pembakaran,” kata Bennett.
Jalan 433 yang menghubungkan Jerusalem dengan Tel Aviv melalui Tepi Barat sempat ditutup Kamis pagi waktu setempat, akibat api yang mulai menjalar ke kota Modiin. Warga setempat sudah diminta untuk meninggalkan rumahnya.
Israel meminta bantuan dari Kroasia, Siprus, Yunani, Italia, dan Rusia untuk menangani kebakaran tersebut, kata juru bicara kepolisian. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah berbicara dengan pemimpin Kroasia dan Yunani. Turki juga mengirim sebuah pesawat ke Israel, kata kantor Netanyahu pada Kamis.
Satu squadron pesawat Israel telah beraksi sejak kebakaran mulai terjadi pada Selasa (22/11) untuk menjatuhkan bahan kimia pemadam api.
Juru bicara kepolisian menerangkan bahwa masih ada empat kebakaran besar yang harus segera ditangani. “Saya menderita asma dan saya khawatir angin akan membuat api semakin sulit dipadamkan. Jika memang terjadi pembakaran secara sengaja, maka kejadian akan terus terjadi,” kata Catherine Gordon, seorang warga kota Modiin.
Lain halnya Walikota Haifa menyatakan telah meminta warga mempersiapkan alat penyiram air untuk membantu memadamkan api di lingkungan masing-masing. Tetapi, warga yang mengungsi telah dievakuasi ke stadion olahraga dan lokasi lebih aman. “Setiap lingkungan terletak antara hutan dan itu adalah masalah,” kata Yona Yahav kepada Channel 2.
Polisi menyatakan kobaran api besar mulai terlihat pada Selasa (22/11) pagi di Neve Shalom, sebuah komunitas luar Jerusalem, tempat warga Yahudi dan Arab hidup bersama. Kemudian, api meluas dekat Jerusalem dan Zichron Yaakov, Di media sosial, beberapa orang Arab dan Palestina merayakan kebakaran dan hashtag #Israelisburning# menjadi trending di jejaring sosial.
Sedangkan Peramal cuaca mengatakan kondisi masih kering dan angin kencang terus berlanjut selama beberapa hari ke depan. “Badan Meteorologi tidak bertanggung jawab atas meluasnya kebakaran ini,” kata Nuh Wolfson, kepala eksekutif perusahaan peramalan cuaca Meteo-Tech.
“Cuaca masih sangat kering, setidaknya sampai Senin atau Selasa pekan depan,” katanya. Kebakaran hutan besar pernah terjadi di Israel pada 2010 di wilayah yang sama dan menewaskan 42 orang.

Sumber:http://aceh.tribunnews.com/2016/11/25/israel-tengah-dan-utara-terbakar
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini