Ragam Pemilu di Dua Benua

Amerika Serikat - DALAM beberapa hari terakhir, saya berkesempatan mengikuti perkembangan pemilu di dua benua, yakni Amerika Serikat (AS) yang baru saja saya singgahi dan Australia tempat saya kini kuliah S3. Mahasiswa Program PhD School of Humanities and Social Sciences, University of South Wales, Canberra, melaporkan dari Australia

Empat hari pertama pada akhir Oktober hingga awal November ini saya habiskan di Atlanta, Georgia, dua hari lagi di Manhattan, New York. Sisanya adalah perjalanan, termasuk transit di empat bandara berbeda: Los Angeles, Hartsfield-Jackson Atlanta, Newark Liberty New Jersey, dan John F Kennedy New York.

Di Atlanta, agenda utama saya adalah mempresentasikan paper penelitian saya dalam sebuah konferensi. Di sela-sela kesibukan konferensi tersebut, saya sempatkan keliling Kota Atlanta, khususnya atraksi utamanya seperti Taman Olimpiade 1996, gedung Coca Cola, Kantor CNN, dan sejumlah tempat lainnya. Di New York, saya berkesempatan mengunjungi Patung Liberaty, Times Square, Monumen 11 September, Jembatan Brooklyn, dan Top of the Rock untuk melihat pemandangan New York dari Gedung Rockfeller Center.

Yang menarik dari perjalanan saya di kedua kota ini adalah suasana pemilu yang sedang panas-panasnya. Seperti diketahui, pada 8 November 2016 ada pemilihan calon Presiden AS, tepatnya antara Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Republik. Sebagai agenda empat tahunan, pemilu ini cukup menyita perhatian publik. Tidak saja di Amerika, tapi juga di belahan dunia lainnya. Pemenang pemilu nanti akan dianggap sebagai salah satu orang yang paling berkuasa di dunia karena kebijakannya yang dapat memengaruhi peta politik global. Trump sendiri dikenal dengan sikapnya yang antimuslim, sehingga banyak yang khawatir kalau ia menang nanti.

Ketika saya menaiki Uber atau Lyft, angkutan berbasis aplikasi, semua orang membicarakan hal ini. Mereka heran pada sosok kontroversial Trump yang justru didukung sebagai capres.

Yang tidak kalah uniknya adalah selama lebih kurang seminggu saya berada di AS, seperti tidak ada nuansa pemilu secara kasat mata. Buat turis yang bepergian di jalan-jalan tidak akan melihat adanya poster atau baliho narsis yang menampilkan kandidat tertentu. Kalau ada yang tidak mengikuti perkembangan politik AS, bisa saja ia tidak tahu bahwa proses tahapan pemilihan salah satu orang paling berpengaruh di planet ini sedang berlangsung.

Bulan Oktober sebenarnya adalah musim debat kandidat. Selama berada di Atlanta dan New York, saya hanya melihat satu baliho di dekat gedung CNN. Itu pun menampilkan foto Hillary dan Trump secara bersamaan sebagai bentuk sosialiasi dari CNN. Jadi, bukan narsisme politik salah satu kandidat tertentu.

Hanya saja, ketika membuka siaran radio dan televisi, hampir semuanya membicarakan pemilu. Topiknya pun beragam. Dalam banyak kesempatan, saya menonton langsung di televisi bagaimana kandidat saling serang, namun dengan bahasa yang masih santun. Tak ada adu fisik baik antarkandidat ataupun pendukungnya.

Berbeda dengan pemilu di Amerika yang lingkupnya nasional dan sifatnya eksekutif, pemilu di Australia dalam lingkup provinsi dan sifatnya legislatif. Tepatnya ini berlangsung di negara bagian Australian Capital Territory (ACT) yang ibu kotanya Canberra dan berlangsung pada 15 Oktober lalu. Seperti halnya di Indonesia, pemilu legislatif di Canberra berdasarkan pada daerah pilihan (dapil) dan partai politik (parpol). Hanya saja, konstitusi Australia membolehkan calon legislatif (caleg) mewakili parpol tertentu atau independen mewakili dirinya sendiri. Jadi, meskipun hanya ada delapan parpol besar di Canberra, tapi pesta demokrasi ini juga dimeriahkan oleh sejumlah calon independen dan perwakilan partai kecil. Total ada 139 caleg yang bersaing untuk memperebutkan 25 kursi di 5 dapil yang berbeda.

Sedikit perbedaan dengan suasana di Amerika yang jarang saya temukan attribut kampanye, di Canberra justru sebaliknya. Di mana-mana sepanjang jalan kita dapat melihat wajah-wajah caleg tersebut. Hanya saja, promosi politik tersebut berbentuk poster yang jauh lebih kecil dibandingkan baliho atau spanduk yang bertebaran menjelang pemilu di tempat kita. Dengan ukuran poster kecil tersebut kita masih bisa menikmati asrinya pemandangan kota yang hijau. Poster ini juga dapat kita temui di sejumlah tempat publik seperti mal-mal bahkan langsung dipromosikan oleh calegnya. Jadi, kita dapat langsung berinteraksi secara personal tanpa melewati pengamanan berlapis.

Selain itu, disain posternya juga sangat simpel, yaitu wajah caleg dan program kerjanya sendiri. Tak ada wajah ketua parpol atau kata-kata yang mendiskreditkan kelompok pesaingnya. Selama berminggu-minggu saya amati, tak ada pula yang melakukan vandalisme atau memindahkan atribut kampanye, apalagi sampai mencoret wajah caleg atau membakar posternya.

Demikianlah sekilas pesta politik dari dua benua. Tentu saja lain lubuk lain ikannya, namun semoga kita dapat mengambil sisi-sisi positif agar pesta demokrasi kita lebih indah dan damai.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/11/09/corak-pemilu-di-dua-benua
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini