Tribunbarat.com - Kurang dari tiga bulan menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Aceh, suasana politik yang kurang sehat mulai terasa dalam masyarakat. Selain kasus-kasus intimidasi, teror secara fisik juga terus terjadi di beberapa tempat.

Ada pembakaran mobil, penambakan rumah, pemberondongan orang, pengrusakan alat peraga kampanye, hingga penggranatan posko tim pemenangan kandidat. Yang mamprihatinkan, kasus-kasus penggunaan bahan peledak dan senjata api yang sudah terjadi beberapa kali, belum ada satupun yang terungkap. Inilah yang membuat suasana menjelang Pilkada semakin kurang sehat dan masyarakat lama-lama bisa tercekam ketakutan.

Kasus menakutkan terjadi dua hari lalu di Kampung Bujang, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Satu granat sengaja dilempar ke Posko Pemenangan sepasang cabup/cawabup setempat. Namun, granat itu jatuh dan meledak di jalan tak jauh dari depan posko yang menjadi sasaran penggranatan.

Ledakan keras malam itu sangat mengejutkan masyarakat di derah dingin dataran tinggi Gayo yang sebagian sudah tidur. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun mobil operasional parpol serta bangunan posko terkena serpihan ledakan granat.

Lalu, tak lama berselang, peristiwa lain yang juga mengejutkan terjadi di kabupaten setempat. Satu peluru yang diduga dari senjata airsoft gun menumbus kaca gerobak gorengan milik seorang pedagang di Simpang Balik Kecamatan Wih Pesam. Juga tak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tapi sangat memunculkan rasa cemas masyarakat.

Polisi setempat bersama tim Brimob khusus penjinak bom sudah menangani kasus-kasus yang membuat masyarakat serta tim sukses kandidat itu terteror.

Peristiwa ini boleh dianggap sebagai kasus kecil karena tak ada korban jiwa dan benda. Tapi, dalam suasana menjelang Pilkada seperti sekarang, kejadian-kejadian itu sangat mempengaruhi psikologis masyarakat, khususnya calon pemilih.

Lalu, kita juga bertanya, mengapa begitu gampang orang memegang granat di sana. Dari mana granat itu? Apalagi, sebelumnya juga kita baru dikejutkan oleh kasus penggranatan orang dalam satu mbil yang kemudian diketahui berlatar belakang dendam istri muda.

Terus, kita juga bertanya penembakan gerobak milik penjual gorengan. Mengapa begitu gampang orang menenteng senjata, termasuk senapan angin, di tengah masyarakat. Apalagi, kita tahu saat ini Polda Aceh sedang berusaha menarik semua senjata api termasuk airsoft gun dari tangan pemegang resmi atau tak resmi.

Jadi, semua kasus itu harus diselidiki dan diungkap agar masyarakat tak semakin terteror. Sebab, kita melihat, para peneror ini mungkin membaca kesiapan aparat keamanan di sana agak “longgar” karena Bener Meriah dan Aceh Tengah memang tak masuk daerah rawan konflik dan keamaman berdasarkan pemetaan yang dirilis Polda Aceh beberapa waktu lalu. Dan, ternyata benar seperti kata Kapolda Aceh, “Bukan berarti di luar daerah rawan itu akan aman-aman saja. Bisa jadi daerah itu nanti jadi basis kelompok-kelompok tertentu untuk melancarkan aksi.” Maka, bersiagalah agar tak kecolongan lagi.

Sumber:http://aceh.tribunnews.com/2016/11/18/suasana-mulai-kurang-sehat
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini