Manajemen Pupuk Iskandar Muda harus bertanggung Jawab

TRIBUNBARAT.COM, ACEH - Puluhan warga Desa Tambon Baroh dan Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Sabtu (12/11), sekitar pukul 18.00 WIB tumbang akibat terhirup amonia yang bersumber dari PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Warga yang bertumbangan kemudian dirawat di Rumah Sakit PT Arun dan PT PIM yang berada di dalam kedua kompleks tersebut.

Petaka itu datang tiba-tiba. warga yang sedang beraktivitas di rumahnya, mendadak tercium bau amonia. Tak lama kemudian, satu per satu warga Tambon Baroh dan Tambon Tunong mual, pusing, bahkan tumbang.

Seorang saksi mata, Muhammad Isa menuturkan, saat tercium bau amonia, ia langsung ke luar rumah. Terlihat sejumlah warga lainnya mulai sempoyongan dan berjatuhan.

Sebagai penduduk di sekitar pabrik, mereka memang sudah sering mencium bau amonia yang menyesakkan dada, bahkan mengakibatkan pingsan. “Tapi kali ini yang terparah dampaknya,” kata Muhammad Isa.

Akibatnya, seratusan warga dilarikan ke rumah sakit. Sekitar 30 orang dirujuk ke Rumah Sakit PT Arun karena kondisinya lebih parah. Tapi setelah diberi obat, kondisi korban mulai membaik, sehingga mereka langsung minta pulang. Hanya sekitar 29 orang lagi yang perlu dirawat lanjutan di RS PIM dan RS PT Arun karena kondisinya lebih parah.

Nah, saat mendengar kasus ini kembali terjadi, kita sungguh prihatin. Terlebih karena akhir-akhir ini nyaris tak ada tahun yang dilalui PT PIM tanpa insiden bocor gas amonia. Setiap kali korban berjatuhan karena terhirup amonia, setiap kali pula keandalan sistem pengelolaan limbah dan pencegahan polusi (waste management and pollution prevention) pabrik pupuk ini kita ragukan dan patut digugat.

Kita--seperti halnya warga sekitar pabrik--tak habis pikir terhadap manajemen PT PIM yang terkesan kurang peduli atau bahkan agak ceroboh dibanding perusahaan vital (pervita) lainnya dalam mencegah terjadinya kebocoran zat berbahaya, khususnya gas amonia, sehingga tak berulang. Baru akhir tahun lalu terjadi kebocoran, tahun ini terjadi lagi. Demikian pula pada tahun-tahun sebelumnya.

Kalau kebocoran amonia terlalu sering terjadi, maka akan selalu timbul pertanyaan dari publik: tak seriuskah PT PIM menekan angka kebocoran? Atau jangan-jangan sumber daya manusia berkualitas di bidang pencegahan polusi, sudah tak lagi memadai, mengingat PT PIM berada pada fase decline?

Seharusnya, PT PIM jangan hanya berpikir pada kontiunitas produksi dan bersikap reaktif menangani para korban keracunan amonia. Yang lebih diperlukan warga adalah jaminan agar kasus serupa tak terulang. Katup ketel amonia mungkin perlu diremajakan.

Tak ada larangan memang perusahaan mencari untung sebanyak-banyaknya. Tapi tanggung jawab sosialnya haruslah sejalan.

Jika selama ini PT PIM dan pervita lainnya belum berhasil memberikan kesejahteraan kepada warga sekitar, paling tidak jangan sampai pula gagal memberi mereka kenyamanan dan kebahagiaan (comfort and happiness) sebagai hak mereka selaku warga. Hal ini mestinya menjadi concern dan kepedulian PIM secara bersungguh-sungguh. Semoga.

SUMBER : http://aceh.tribunnews.com/2016/11/14/tak-habis-pikir-pada-manajemen-pim
Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini