Masihkeren.com - Namanya tentu sudah tak asing lagi di daerahnya, lengkap Rusdi, S.Ag., M.TESOL. sosok penting bagi dunia pendidikan Aceh. Pria kelahiran Sigli, 12 April 1975 sehari harinya berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Delima, Grong-grong, Kabupaten Pidie. Sebuah daerah yang terpencil di Provinsi Aceh.

Dengan bekal ilmu yang didapatkannya dalam program Master di Deakin University, Melbourne, Australia, Rusdi memanfaatkannya untuk memberikan perubahan terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan di daerah yang kurang dalam sarana dan prasarana penghubung dan lain sebagainya yang secara langsung memberikan pengaruh terhadap kurangnya akses pendidikan yang dapat dirasakan oleh penduduknya.

Tidak seperti guru pada umumnya, yang cuma berpengaruh terhadap prestasi dan kemampuan siswanya disekolah, beliau berhasil membangun English Lovers Citizen, sebuah komunitas belajar bahasa bahasa Inggris yang terdapat di Sigli. Komunitas ini mengadakan meet up (pertemuan) seminggu dua kali di tempat yang disepakati bersama dengan para anggota. Saat ini komunitas ini sudah mempunyai ratusan anggota.

Dengan adanya komunitas ini, daerah ini sudah membuat masyarakat muda sadar akan pentingnya Bahasa Inggris. Pasalnya, keuntungan belajar Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya bukan semata-mata mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian Bahasa Inggris. Akan tetapi, ini juga sangat berperan penting untuk mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik.

Para Anggota hanya perlu hadir disaat pertemuan, dan menikmati mengobrol dalam bahasa Inggris. Bila kamu merasa malu karena tidak bisa sama sekali Bahasa Inggris, jangan takut, disana akan ada beberapa supervisi yang akan membetulkan kalimat kamu dan mengajarkan secara aktif  dan fun.

Sebelum terjun di dunia pendidikan,ayah dua anak ini pernah bekerja pada perusahaan Holland America Line di Seattle, Amerika Serikat. Perusahaan ini merupakan perusahaan Internasional yang bergerak di bidang Floating Hotel atau lebih dikenal dengan Kapal Pesiar.

“Dulu disana saya bekerja di Housekeeping Department tepatnya sebagai Room Attendant atau petugas pengemas kamar tamu. Namun pada  tahun 2003 saya resign dan bekerja sebagai seorang guru hingga kini,” ujar Rusdi Ali kepada salah satu media Aceh.

Dia menambahkan, menjadi seorang guru baginya merupakan pilihan tepat baginya merupakan sebuah tanggungjawab moral. Hal ini ini dikarenakan tugas guru sebagai mediator transfer ilmu untuk mencerdaskan bangsa. Hal inilah yang memotivasi ayah dua anak ini untuk memanfaatkan layanan media sosial seperti Facebook dan Youtube mengadopsi berbagai metode untuk belajar bahasa Inggris dengan mudah.

“Tujuan saya lakukan metode ini agar para siswa tidak jenuh dan mudah belajar bahasa Inggris dengan baik dan lancar. Jadi metode yang saya terapkan ini bawaannya nyantai dan tidak ribet. Ini adalah hasil inspirasi saya saat membuka link Kampung Inggris di Pare dimana saya banyak menemukan cara pengajaran bahasa Inggris yang interaktif dan menyenangkan,” ujar Rusdi Ali

Alumni Deakin University, Melbourne, Australia ini menceritakan, metode yang sudah lama dipopulerkan oleh instruktur les bahasa Inggris diluar Aceh berupa menghafal tenses dengan cepat. Menurutnya, metode ini sepenuhnya menggunakan gerakan maka saya berinisiatif memberikan nama dengan “tenses by movement” atau “menghafal  bentuk waktu menggunakan gerakan”.

Gerakan yang dimaksud adalah gerakan tangan dimana gerakan tersebut merefleksikan bentuk waktu dimaksud.

“Jadi tujuan pengenalan metode ini tak lain adalah agar siswa-siswi yang sebahagian besar masih menganggap pelajaran bahasa Inggris itu membosankan dan menjemukan. Tapi dengan menerapkan metode ini mungkin akan merasa lain setelah mengenal metode ini sehingga niat dan minat belajar bahasa Inggris mereka berubah menjadi lebih antusias,” ujarnya.

Ayah dua anak ini juga mencontohkan gerakan tangan kebawah yang menandakan Present Tense atau mewakili segala perbuatan atau kejadian yang berlangsung di masa sekarang. Sementara gerakan tangan kebelakang badan kita menjelaskan segala perbuatan yang telah kita lakukan di masa lalu. Begitu juga seterusnya bahwa segala gerakan dalam metode ini mewakili ke 16 bentuk waktu dalam Bahasa Inggris.

“Sepulang saya belajar tahun 2013, saya sudah memperkenalkan metode ini pada siswa-siswi saya di salah satu SMP di kota Sigli. Alhamdulillah sambutan mereka sangat welcome dan menyenangi metode ini serta selalu meminta belajar menggunakan cara yang menyenangkan. Dengan metode ini siswa akan mampu menghafal dan menyebutkan dengan benar ke 16 tenses dengan kecepatan mencapai 10-20 detik,” ujarnya lagi.

Sebagai seorang Guru, beliau mengajarkan kepada murid tidak hanya pendidikan, tetapi nilai sosial lain dan menanamkan tentang arti kerja keras dan kemandirian sejak dini. Dengan sistem pendidikan yang bagus dan teratur dengan tujuan pendidikan tersebut mampu mencetak generasi yang mampu mendukung kemajuan dari segala aspek.

Sumber: Dari berbagai sumber

Bagikan:

Bagaimana Munurut Anda? Komentar Disini